Media90 – Sebulan pasca banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, dampak bencana masih dirasakan oleh masyarakat, khususnya keluarga prasejahtera yang menggantungkan hidup dari usaha kecil. Kondisi tersebut terlihat di sejumlah daerah di Aceh, mulai dari Aceh Tamiang, Peureulak, Kota Langsa, Pidie, hingga Bireuen yang dikenal sebagai Kota Juang. Di beberapa titik, dampak bencana terbilang cukup besar dan bantuan masih terbatas.
Melihat kondisi tersebut, para relawan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) turun langsung ke berbagai wilayah terdampak untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat. Para relawan menyusuri rumah-rumah warga hingga lokasi pengungsian guna memastikan bantuan tepat sasaran.
Kehadiran relawan PNM kali ini menjadi penguat di masa pemulihan, saat sorotan terhadap bencana mulai berkurang, namun kebutuhan masyarakat masih tinggi. Saat menyalurkan bantuan di posko bencana dan sejumlah titik lainnya, relawan juga bertemu dengan banyak nasabah PNM Mekaar yang turut terdampak.
Sebelum bencana, sebagian besar warga mengandalkan warung kecil atau usaha rumahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, banjir yang datang secara tiba-tiba merendam rumah sekaligus tempat usaha mereka.
Akibatnya, peralatan usaha rusak, stok dagangan habis, dan aktivitas ekonomi terhenti hingga kini. Dalam kegiatan tersebut, relawan PNM menyalurkan bantuan kebutuhan sehari-hari sekaligus menyempatkan diri berbincang dan mendengarkan keluh kesah masyarakat.
Di lapangan, masih banyak nasabah yang mengaku kesulitan untuk memulai kembali usahanya akibat keterbatasan modal dan perlengkapan. Kondisi ini membuat proses pemulihan berjalan lebih lambat, terutama bagi keluarga yang bergantung pada penghasilan harian.
Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, mengatakan PNM memilih untuk kembali hadir karena dampak bencana belum sepenuhnya pulih di tengah masyarakat.
“Sebulan setelah kejadian, kami melihat langsung banyak masyarakat dan nasabah kami masih berjuang. Kehadiran relawan diharapkan dapat membantu meringankan beban, sekaligus memberi semangat agar mereka bisa kembali bangkit,” ujar L. Dodot Patria Ary, Selasa (30/12/2025).
Ia menambahkan, dampak bencana di Aceh Tamiang dan wilayah lainnya menjadi pengingat bahwa proses pemulihan tidak berhenti ketika banjir surut. Bagi masyarakat kecil, dampak bencana dapat dirasakan dalam jangka waktu yang panjang.
Di tengah proses pemulihan tersebut, kehadiran relawan serta perhatian yang berkelanjutan menjadi salah satu penopang penting agar warga tidak kehilangan harapan dan mampu melanjutkan kehidupan serta usahanya ke depan.














