Media90 – Menanggapi ancaman kecerdasan buatan (AI) yang semakin kompleks, Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama PT ITSEC Asia Tbk menggelar pelatihan untuk memperkuat keamanan siber Indonesia. Di era digital saat ini, dunia maya bukan lagi sekadar tempat bertukar informasi, melainkan telah menjadi medan tempur baru yang menentukan kedaulatan negara. Ancaman siber kini hadir dalam bentuk serangan yang dipersenjatai AI, bukan sekadar virus komputer.
Langkah Pemerintah dalam Pemanfaatan Teknologi AI
Kolaborasi antara PT ITSEC Asia Tbk dan Kemhan menandai tonggak penting dalam sejarah keamanan siber nasional. Berdasarkan laporan Antaranews, perusahaan dengan kode saham CYBR ini berhasil mengamankan kontrak kerja sama senilai 60 juta dolar AS atau setara dengan Rp944,22 miliar. Fokus utama kerja sama ini adalah penyediaan infrastruktur dan pelatihan teknologi AI khusus untuk kebutuhan militer.
Tujuan utama kesepakatan ini adalah menyelenggarakan pelatihan intensif bagi personel Kemhan untuk memanfaatkan AI dalam mendeteksi, menganalisis, dan menangani serangan siber secara proaktif. Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Joseph Edi Hut Lumban Gaol, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah kontribusi nyata swasta terhadap negara.
“Kerja sama ini merupakan langkah strategis perusahaan dalam mendukung penguatan infrastruktur keamanan siber nasional, khususnya di lingkungan Kementerian Pertahanan,” ujar Joseph Edi Hut Lumban Gaol, dikutip dari Liputan6.
Melalui program ini, Kemhan tidak hanya memiliki perangkat keras canggih, tetapi juga operator dengan intuisi digital berbasis data. Langkah ini sejalan dengan modernisasi militer yang kini merambah persenjataan digital.
Implementasi Teknis dan Pengembangan Kapasitas Pertahanan Siber
Secara teknis, pelatihan AI mencakup berbagai aspek, mulai dari fundamental hingga tingkat lanjut dalam domain keamanan siber. AI digunakan untuk mempercepat identifikasi pola serangan yang sering tersembunyi di balik lalu lintas data normal. Dalam ekosistem pertahanan modern, kecepatan reaksi menjadi kunci. Sistem berbasis AI yang dilatih dengan benar mampu menganalisis log aktivitas dalam hitungan detik, melampaui kemampuan manual manusia.
Program ini juga mengenalkan sistem otomasi respons insiden, yang memungkinkan sistem pertahanan melakukan isolasi otomatis saat terdeteksi penyusupan. Joseph menambahkan,
“Dengan pemanfaatan teknologi AI, kami berharap dapat membantu Kemhan dalam mendeteksi dan merespons ancaman siber secara lebih cepat dan akurat,” sebagaimana dilansir Antaranews.
Selain itu, pelatihan mencakup pemahaman mendalam tentang machine learning, sehingga sistem pertahanan Indonesia bersifat dinamis dan mampu belajar dari setiap percobaan serangan. Konsep ini dikenal sebagai active defense atau pertahanan aktif.
Optimalisasi Keamanan Infrastruktur Negara
Program pelatihan AI ini merupakan respons tepat guna terhadap dinamika ancaman global. Kolaborasi ini bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan upaya membangun kapasitas bangsa di ruang siber. Dengan memadukan kecanggihan AI dan keahlian manusia, Indonesia membangun fondasi pertahanan yang cerdas dan tangguh.
Implementasi program ini menjadi kunci agar Indonesia tetap aman dan berdaulat di era digital, memastikan setiap jengkal wilayah digital nasional terlindungi teknologi terdepan. Langkah ini menjadi pengingat bahwa di balik layar gadget dan sistem yang kita gunakan, ada benteng pertahanan yang terus diperkuat.
Dengan personel yang semakin mahir menguasai AI, Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi siap melangkah maju menjaga keamanan bangsa di kancah digital dunia. Masa depan keamanan siber nasional kini berada di tangan para ahli yang siap menghadapi segala tantangan siber yang akan datang.














