BERITA

Sekolah Rakyat, Payung Negara, dan Guru yang Masih Kehujanan

3
×

Sekolah Rakyat, Payung Negara, dan Guru yang Masih Kehujanan

Sebarkan artikel ini
Sekolah Rakyat dan Payung Negara: Ketika Guru Masih Tak Terlindungi
Sekolah Rakyat dan Payung Negara: Ketika Guru Masih Tak Terlindungi

Media90 – Sekolah Rakyat terasa seperti payung besar yang akhirnya dibuka negara di tengah hujan deras bernama ketimpangan. Anak-anak dari keluarga prasejahtera yang selama ini berjalan ke sekolah dengan bekal seadanya, kini dipeluk oleh sistem yang utuh—belajar, tinggal, makan, sehat, dan dibina karakternya. Ibarat tangga kehidupan, mereka akhirnya diberi pegangan agar tidak terus terpeleset di anak tangga pertama. Program ini bukan sekadar bangunan dan angka, melainkan cerita tentang harapan yang diberi alamat jelas.

Namun, di balik kisah yang menghangatkan itu, ada wajah lain yang tak boleh diabaikan: wajah para guru. Sebab sekolah, sebaik apa pun konsepnya, tetap akan terasa kosong tanpa guru yang hadir sepenuh hati. Dan kehadiran sepenuh hati sulit diminta dari mereka yang masih harus menghitung hari di akhir bulan. Kita sering menyebut guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, tapi jangan-jangan karena terlalu sering menyebutnya begitu, kita lupa bahwa pahlawan juga perlu hidup layak.

Sekolah Rakyat menuntut lebih dari sekadar kegiatan mengajar. Guru bukan hanya pengampu mata pelajaran, tetapi juga pendamping karakter, orang tua kedua di asrama, sekaligus penjaga ritme hidup anak-anak selama 24 jam. Maka wajar jika muncul pertanyaan yang sangat manusiawi: apakah beban besar ini berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan guru? Jangan sampai rantai kemiskinan yang ingin diputus justru bergeser diam-diam ke pundak mereka yang mendidik.

Baca Juga:  Fraksi Gerindra dan TIDAR Lampung Tinjau Kegiatan Belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 35 Bandar Lampung

Kritik ini bukan untuk mengecilkan arti program—justru sebaliknya, agar program ini tetap bernyawa. Investasi sumber daya manusia tidak bisa setengah-setengah. Murid adalah masa depan, sekolah adalah jalannya, dan guru adalah tenaga yang menggerakkan semuanya. Jika guru terus diminta berlari dengan sepatu tipis, cepat atau lambat langkah itu akan terseok.

Sekolah Rakyat akan benar-benar menjadi simbol keadilan sosial jika kehangatannya dirasakan semua pihak: anak-anak yang belajar dengan tenang, orang tua yang bangkit bersama, dan guru yang bekerja tanpa rasa cemas akan hari esok. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan—semua yang terlibat di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *