Media90 – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Lampung di Aula Lantai 4 Kantor Pusat Bank Lampung, Bandar Lampung, Senin (12/1/2026).
Dalam arahannya, Gubernur menegaskan bahwa kinerja Bank Lampung tidak boleh hanya dinilai dari laba dan neraca keuangan, tetapi harus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Laba Bank Lampung sudah sangat baik. Tapi 2026 kita harus melompat. Bank Lampung tidak boleh hanya bagus di neraca, tapi harus besar manfaatnya bagi masyarakat,” tegas Gubernur.
Gubernur menekankan posisi strategis Bank Lampung sebagai instrumen pemerintah daerah dalam menggerakkan ekonomi. Dengan dana pemerintah daerah yang berputar mencapai sekitar Rp32 triliun per tahun, Bank Lampung memiliki peran penting untuk memastikan uang tersebut tetap berputar di Lampung dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Kalau dana ini disimpan di bank lain, uang Lampung bisa mengalir ke luar daerah. Tapi jika dikelola Bank Lampung, maka perputaran dan dampaknya akan kembali ke Lampung,” jelasnya.
Berdasarkan evaluasi kinerja 2025, Gubernur menilai Bank Lampung berada dalam kondisi sehat, dengan pertumbuhan aset, dana pihak ketiga, dan laba yang signifikan, termasuk lonjakan laba hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya serta rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi.
Meski demikian, Gubernur menyoroti komposisi kredit yang masih didominasi kredit konsumtif, serta perlambatan kredit mikro yang dinilai belum sejalan dengan agenda penguatan ekonomi riil daerah. Oleh karena itu, fokus Bank Lampung pada 2026 harus diarahkan pada penguatan sektor riil dan kredit produktif, khususnya di desa, sebagai tulang punggung ekonomi Lampung. Sektor pertanian, UMKM, KUR mikro, konstruksi, hingga industri menjadi prioritas pembiayaan.
Gubernur juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, efektivitas pemasaran, serta optimalisasi peran kepala cabang, disertai penerapan target kinerja berbasis potensi ekonomi wilayah, lengkap dengan sistem reward and punishment.
“Bank Lampung harus hadir sebagai motor penggerak ekonomi Lampung, bukan hanya sebagai bank yang untung, tetapi bank yang berdampak,” pungkas Gubernur.
Direktur Utama Bank Lampung, Indra Merviana, menuturkan bahwa tahun 2025 menjadi fondasi transformasi Bank Lampung melalui perubahan visi menjadi “Bank Unggul Pilihan Utama Masyarakat”, pembentukan tim percepatan bisnis, layanan, budaya, dan struktur organisasi, serta penerapan nilai budaya kerja SIPIL (Sinergi, Integritas, Profesional, Inovatif, Loyal).
Dirut melaporkan laba bersih Bank Lampung 2025 mencapai lebih dari Rp200 miliar, tertinggi sepanjang sejarah, dengan fee based income layanan digital sebesar Rp38 miliar. Meski demikian, penyaluran kredit belum sepenuhnya mencapai target akibat keterlambatan realisasi pinjaman daerah.
Untuk 2026, Bank Lampung menargetkan:
-
Pertumbuhan kredit: 8,5%
-
Dana pihak ketiga: 7,69%
-
Laba: 9,43% atau sekitar Rp225 miliar,
dengan fokus pada sektor pertanian, ketahanan pangan, kehutanan sosial, konstruksi, dan digitalisasi layanan. Bank Lampung juga akan memaksimalkan sinergi Kelompok Usaha Bank (KUB) dengan Bank Jatim, termasuk penguatan SDM, likuiditas, teknologi informasi, dan keamanan siber.
Sebagai tindak lanjut rakor, Gubernur meminta Bank Lampung menyiapkan peta jalan kredit produktif yang selaras dengan program prioritas pemerintah daerah, memperkuat digitalisasi layanan hingga ke desa, dan memastikan kinerja bank dirasakan langsung oleh masyarakat Lampung, bukan hanya tercermin di laporan keuangan.
Rakor ini dihadiri pula oleh Komisaris Utama Bank Lampung M. Firsada, Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan, seluruh Vice President, Kepala Cabang, hingga Kepala Kantor Cabang Pembantu Bank Lampung.














