TEKNO

Kenali 5 Ciri Orang yang Mudah Jadi Korban Penipuan Online di 2026

11
×

Kenali 5 Ciri Orang yang Mudah Jadi Korban Penipuan Online di 2026

Sebarkan artikel ini
Waspada! Ini 5 Ciri Orang yang Mudah Tersangkut Scam Online Tahun 2026
Waspada! Ini 5 Ciri Orang yang Mudah Tersangkut Scam Online Tahun 2026

Media90 – Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa korban penipuan online hanyalah kelompok lansia yang tidak memahami teknologi atau masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. Namun, data terbaru yang dihimpun CNBC Indonesia menunjukkan anomali yang mengejutkan. Di tahun 2026, justru korban scam banyak berasal dari kalangan profesional muda yang melek digital, namun terjebak dalam manipulasi psikologis tingkat tinggi.

Hal ini terjadi karena penipu masa kini tidak lagi hanya menyerang sistem komputer, melainkan menyerang sistem emosi manusia melalui teknik social engineering. Laporan ini kemudian membedah berbagai ciri perilaku dan kondisi mental yang membuat seseorang masuk dalam radar sindikat penipu global. Memahami ciri-ciri ini sangat penting, karena penipuan siber bukan lagi soal seberapa canggih ponsel Anda, melainkan seberapa waspada pikiran Anda.

1. Memiliki “Optimism Bias” yang Tinggi

Salah satu ciri utama orang yang rentan tertipu adalah mereka yang memiliki rasa percaya diri berlebih bahwa dirinya tidak akan pernah tertipu. Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai optimism bias.

Orang dengan ciri ini cenderung berpikir bahwa kasus penipuan yang mereka dengar di media hanya terjadi pada orang lain yang “kurang pintar”. Karena merasa imun, mereka sering mengabaikan tanda-tanda bahaya (red flags), misalnya:

  • mengklik tautan sembarangan,

  • membagikan kode OTP,

  • atau mengisi data pribadi tanpa berpikir panjang.

Rasa aman palsu inilah yang justru menjadi celah terbesar bagi penipu untuk masuk dan menguras aset digital korban.

2. Terjebak dalam Budaya FOMO (Fear of Missing Out)

Tahun 2026 diwarnai dengan tren investasi instan dan barang mewah harga miring. Orang yang takut ketinggalan tren atau kesempatan emas (FOMO) menjadi sasaran utama.

Penipu sering menciptakan urgensi buatan, seperti:

“Promo hanya 3 menit lagi!”
“Slot investasi tersisa untuk 5 orang!”

Ketika seseorang merasa akan kehilangan kesempatan besar, otak emosional mengambil alih dan otak rasional tidak sempat memverifikasi apa pun. Dalam kondisi terburu-buru inilah banyak orang:

  • mentransfer uang,

  • mengisi data sensitif,

  • atau membeli “produk” yang sebenarnya tidak ada.

Hasil akhirnya adalah kerugian yang terasa seperti jebakan waktu.

3. Sifat Terlalu Patuh pada Otoritas

Modus lain yang semakin marak adalah penipu yang menyamar sebagai pihak berwenang: petugas pajak, kepolisian, hingga bank. Orang yang sangat menghargai atau takut pada otoritas cenderung lebih mudah panik dalam situasi seperti ini.

Contoh pernyataan yang kerap digunakan:

“Rekening Anda akan diblokir!”
“Anda terlibat dalam kasus hukum!”
“Sebutkan data akun untuk verifikasi!”

Kepatuhan yang berlebihan membuat korban mengabaikan protokol keamanan standar. Padahal, lembaga resmi tidak pernah meminta kode OTP atau data sensitif via telepon atau chat. Namun dalam tekanan otoritas palsu, logika korban sering menyingkir.

4. Sedang Mengalami Kesepian atau Isolasi Sosial

Salah satu modus paling berbahaya di tahun 2026 adalah love scam atau penipuan berbasis asmara. Orang yang merasa kesepian atau sedang mencari perhatian sangat rentan terhadap modus ini.

Penipu biasanya:

  • membangun hubungan emosional,

  • memberikan atensi intens,

  • menciptakan rasa percaya dan “kedekatan”.

Setelah ikatan emosional terbentuk, pelaku mulai memanipulasi dengan alasan finansial, seperti biaya rumah sakit atau proyek bisnis mendadak. Korban sering bertahan bahkan ketika keluarga sudah memperingatkan, karena keterikatan emosional yang kuat.

Kasus love scam tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga trauma psikologis jangka panjang.

5. Kurangnya Literasi Keuangan Digital

Banyak profesional muda mahir menggunakan media sosial, namun minim literasi keuangan digital. Mereka tahu cara memesan ojek online, tetapi tidak tahu:

  • membedakan situs resmi vs situs phishing,

  • menilai legalitas proyek investasi,

  • memahami bunga majemuk,

  • atau mengenali iming-iming “cuan instan”.

Di era AI yang dapat menduplikasi suara dan wajah, ketidaktahuan mengenai keamanan digital menjadi titik lemah yang fatal. Tidak mengherankan jika banyak korban tertipu konten palsu yang tampak meyakinkan.

Membangun Resiliensi Digital

Menghindari penipuan online bukan berarti berhenti menggunakan teknologi, tetapi melatih otot kewaspadaan. Menyadari bahwa kita memiliki salah satu ciri di atas bukanlah aib, melainkan alarm untuk memperkuat pertahanan diri.

Prinsip sederhana yang dapat diterapkan adalah: Berhenti, Berpikir, Bertindak.

Jika Anda menemui:

  • tawaran yang terlalu indah,

  • ancaman yang mendesak,

  • atau pesan yang meminta data sensitif,

ambil waktu sejenak untuk verifikasi. Dalam dunia digital yang penuh manipulasi, skeptisisme yang sehat adalah pelindung terbaik bagi dompet dan ketenangan jiwa Anda.

Baca Juga:  6 Kebiasaan Mengisi Daya yang Bisa Memperpanjang Masa Pakai Baterai MacBook Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *