Media90 – Perkembangan teknologi medis terus menghadirkan inovasi yang semakin presisi dan minim risiko. Salah satu terobosan terkini adalah sistem bedah robotik Da Vinci XI, teknologi mutakhir yang memungkinkan dokter melakukan operasi kompleks, termasuk penanganan tumor ginjal hingga kanker prostat, dengan metode minimal invasif.
Meski sering disebut sebagai “robot bedah”, Da Vinci XI tetap dikendalikan langsung oleh dokter spesialis. Prof. Dr. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, Sp.U (K) Onk, FICRS, Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, menegaskan bahwa manusia tetap menjadi pusat tindakan medis ini.
“Meski sering disebut robot, Da Vinci XI tetap dioperasikan oleh seorang dokter spesialis,” ujarnya. Teknologi ini memungkinkan dokter menjangkau area operasi yang sulit dicapai dengan metode konvensional, tanpa harus membuat banyak sayatan, sehingga trauma pada jaringan tubuh dapat ditekan seminimal mungkin dan akurasi tindakan bedah meningkat.
Komponen Utama Da Vinci XI
Sistem Da Vinci XI terdiri dari tiga komponen utama:
-
Sistem audiovisual: pusat kontrol kamera untuk melihat area operasi dengan visualisasi sangat detail dan tajam.
-
Patient cart: unit dengan empat lengan robot yang ditempatkan di atas pasien untuk melakukan tindakan bedah.
-
Surgical console: tempat dokter duduk dan mengendalikan seluruh gerakan lengan robot dengan nyaman.
Kelebihan Bedah Robotik
Melalui konsol, dokter memperoleh visualisasi 3D dari bagian dalam tubuh pasien, serta kemampuan untuk menstabilkan gerakan alat bedah, menghilangkan tremor tangan. Menurut Prof. Agus Rizal, ini menjadi pembeda utama antara operasi robotik dan laparoskopi konvensional.
“Lengan robot Da Vinci XI yang stabil, dengan ujung alat bisa berputar dan meliuk seperti tangan manusia, memungkinkan sayatan lebih akurat tanpa kesalahan akibat tremor maupun tangan lelah,” jelasnya.
Selain itu, empat lengan robot memungkinkan satu dokter melakukan tindakan yang biasanya membutuhkan lebih dari satu orang.
Tingkat Komplikasi Rendah
Pengalaman klinis menunjukkan tingkat komplikasi pascaoperasi relatif rendah, sehingga pasien bisa keluar dari rumah sakit lebih cepat dibanding operasi terbuka. Operasi robotik juga direkomendasikan untuk tindakan radikal prostatektomi (pengangkatan kanker prostat) dan partial nephrectomy (pengangkatan tumor ginjal tanpa mengangkat seluruh organ).
Sejak 2021, Prof. Agus Rizal bersama timnya telah menangani lebih dari 50 kasus operasi robotik. Hasilnya menunjukkan pendekatan ini lebih efektif dibanding metode lain, terutama dalam menjaga jaringan sehat di sekitar area operasi.
“Kini pasien tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan prostat modern. Kehadiran robot ini memperluas kemampuan penglihatan dan tangan dokter, bukan menggantikannya,” ujar Prof. Agus.
Masa Depan Bedah Robotik di Indonesia
Prof. Agus Rizal menilai kehadiran teknologi robotik merupakan bagian penting dari masa depan dunia kedokteran di Indonesia. Dengan adopsi teknologi canggih seperti Da Vinci XI, diharapkan akses pasien terhadap layanan medis berstandar tinggi, presisi, dan minim risiko akan semakin luas.
Ke depan, pemanfaatan bedah robotik diyakini akan terus meluas seiring meningkatnya kebutuhan akan tindakan medis yang lebih efektif, aman, dan canggih.














