BERITA

Program MBG: Lebih dari Gizi, Strategi Investasi Pertahanan Bangsa

7
×

Program MBG: Lebih dari Gizi, Strategi Investasi Pertahanan Bangsa

Sebarkan artikel ini
MBG: Lebih dari Program Gizi, Strategi Investasi Pertahanan Bangsa
MBG: Lebih dari Program Gizi, Strategi Investasi Pertahanan Bangsa

Media90 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini dipandang bukan sekadar upaya meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat sumber daya manusia dan pertahanan bangsa di tengah ketidakpastian global.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Lingkar Nusantara (Lisan), Hendarsam Marantoko, yang menyoroti eskalasi konflik dunia dan rapuhnya rantai pasok pangan internasional. “Di tengah perang Ukraina, konflik Timur Tengah, hingga gangguan logistik global, ancaman terhadap Indonesia tidak selalu datang dalam bentuk senjata. Krisis pangan justru bisa menjadi bentuk perang paling senyap namun paling mematikan,” ujar Hendarsam.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa MBG harus dipahami sebagai bagian dari arsitektur pertahanan semesta non-militer. Hendarsam mengaitkan kebijakan MBG dengan pandangan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang tertuang dalam buku Paradoks Indonesia. Dalam buku tersebut, Prabowo menegaskan bahwa sebuah bangsa bisa runtuh bukan karena kekurangan senjata, melainkan karena rakyatnya lemah secara fisik, mental, dan ekonomi.

Baca Juga:  Pendaftaran Paslon Dawam-Ketut Diterima KPU untuk Pilkada Lampung Timur 2024, Siap Cabut Gugatan di Bawaslu

“Cara pandang ini sangat jelas: kekuatan negara tidak hanya ditentukan oleh alutsista, tetapi oleh kualitas manusia dan daya tahan sistem nasionalnya,” lanjut Hendarsam. Ia menilai MBG merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang. “Tanpa fondasi gizi yang kuat, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban strategis,” tambahnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN sekaligus Direktur Promosi dan Edukasi Gizi, Dr. Gunalan A. P., M.Si., menegaskan bahwa MBG tidak hanya berfokus pada aspek gizi dan pendidikan, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan sektor produksi dan rantai pengadaan pangan.

“BGN mendorong kreativitas daerah, termasuk dalam penyusunan menu sehat tanpa penggunaan MSG, seperti yang telah diterapkan KPPG di Bandung pada awal Januari lalu,” jelas Gunalan. Ia menambahkan, pengadaan bahan pangan MBG juga melibatkan koperasi Merah Putih, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta UMKM lokal.

Baca Juga:  Operasi Pemberantasan Premanisme, Mencegah Kenakalan Remaja, dan Meredam Konflik di Tanggamus Berlangsung hingga 5 Agustus

Skema ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. “Hakikat MBG adalah dari rakyat, dikelola oleh pemerintah melalui pembelian bahan baku dari koperasi, BUMDes, petani, dan pelaku usaha lokal, lalu dikembalikan kepada rakyat, khususnya penerima manfaat MBG,” ujar Gunalan.

Dengan pendekatan ini, MBG bukan hanya sekadar program gizi, tetapi juga strategi jangka panjang untuk memperkuat kualitas manusia, ketahanan pangan, dan daya tahan bangsa menghadapi tantangan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *