Media90 – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) melakukan terobosan besar dalam menata ulang sistem pendakian. Bekerja sama dengan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PJL) Kementerian Kehutanan, pengelola memperkenalkan gelang pelacak berbasis RFID serta tombol darurat (panic button) untuk meningkatkan keselamatan setiap pendaki.
Langkah ini merupakan respons atas evaluasi tata kelola pendakian selama masa penutupan jalur sejak akhir 2025. Tingginya angka insiden pendaki tersesat atau menghilang menjadi pengingat penting bagi pengelola. Melalui unggahan di akun Instagram resminya, pihak pengelola menegaskan:
“Inovasi ini merupakan bagian dari langkah serius perbaikan pengamanan dan keselamatan pengunjung selama masa penutupan jalur pendakian.” — @ayoketamannasional_official
Gelang RFID: Sensor Pintar di Pergelangan Tangan
Gelang RFID yang diperkenalkan bukan sekadar aksesori. Terbuat dari karet sintetis elastis dan waterproof, perangkat ini tetap berfungsi optimal meski terkena hujan atau kelembapan tinggi.
Chip di dalam gelang bertugas sebagai pemancar sinyal untuk melacak lokasi pendaki secara berkala di setiap titik pemeriksaan. Pendaki diwajibkan mengenakan gelang sejak registrasi di pintu masuk resmi dan menyerahkannya kembali setelah turun untuk memastikan semua pendaki keluar kawasan dengan aman.
Kecepatan Operasi SAR dan Deteksi Lokasi Akurat
Dengan teknologi RFID, tim Search and Rescue (SAR) dapat memetakan titik koordinat terakhir pendaki secara presisi, mempercepat proses evakuasi yang sebelumnya terkendala oleh vegetasi lebat.
Sistem ini saat ini diterapkan di Jalur Gunung Putri dan Jalur Cibodas, dua rute dengan volume pengunjung tertinggi, termasuk titik pantau di kawasan Surya Kencana. Seluruh data pergerakan pendaki terekam sejak keberangkatan hingga kembali turun dari puncak.
Panic Button untuk Situasi Darurat
Selain gelang, TNGGP juga menambahkan tombol darurat di titik-titik strategis sepanjang jalur. Jika pendaki menghadapi situasi mengancam nyawa, cukup menekan tombol SOS, sinyal bantuan langsung terkirim ke pos pemantauan utama, memungkinkan petugas bergerak cepat.
Sistem ini juga berfungsi sebagai filter pendaki ilegal. Pendaki tanpa gelang atau yang datanya tidak terekam langsung teridentifikasi sebagai penyusup, sehingga keselamatan dan aturan pendakian lebih terjaga.
Harapan untuk Pendakian yang Lebih Aman
Pengelola menegaskan, penambahan fasilitas ini tidak memengaruhi harga karcis pendakian. Tujuan utamanya adalah menekan angka kecelakaan seminimal mungkin dan meningkatkan standar keselamatan pendakian di Indonesia.
“Meskipun pendakian merupakan hobi yang menantang, kami mengingatkan bahwa pulang dalam keadaan selamat tetap menjadi hukum yang wajib dipatuhi oleh semua pihak.”
Hingga saat ini, TNGGP belum memastikan kapan jalur pendakian akan dibuka kembali secara resmi, karena proses perbaikan tata kelola masih berlangsung. Kehadiran sistem RFID dan tombol panik ini, menyusul jejak Gunung Merbabu, dianggap sebagai langkah besar menuju standar internasional yang lebih aman dan profesional bagi pendakian Indonesia.














