Media90 – Di tengah riuhnya tren kilas balik (throwback) di media sosial, tahun 2016 kembali menjadi sorotan. Bukan sekadar angka di kalender, tahun itu merupakan titik balik penting bagi industri teknologi global. Banyak inovasi yang lahir pada dekade lalu ternyata membentuk cara manusia berinteraksi, menikmati hiburan, dan berbagi momen pribadi di era digital saat ini.
Berikut lima momen teknologi ikonik 2016 yang membentuk lanskap digital di tahun 2026:
1. Kelahiran Format ‘Stories’: Era Konten Ephemeral
Pada Agustus 2016, fitur Stories diluncurkan di salah satu platform foto terbesar dunia. Awalnya dicibir sebagai tiruan Snapchat, format ini memungkinkan pengguna membagikan foto atau video vertikal yang hilang otomatis dalam 24 jam.
Sebelum 2016, media sosial masih didominasi feed estetik dan terkurasi rapi. Stories mengubah cara pengguna berbagi, mendorong konten lebih spontan dan kasual. Kini, satu dekade kemudian, Stories menjadi alat komunikasi kuat, termasuk fitur Close Friends berbayar, stiker interaktif, dan integrasi belanja langsung. Hampir semua aplikasi pesan instan modern seperti WhatsApp dan Facebook sudah mengadopsi konsep ini.
2. Menghapus ‘Audio Jack’: Revolusi Nirkabel
Salah satu keputusan paling kontroversial di 2016 adalah iPhone 7 tanpa lubang audio jack. Langkah ini awalnya memicu protes, karena pengguna harus membeli adaptor atau perangkat baru.
Namun, ini justru menjadi katalis revolusi audio nirkabel. Pasar True Wireless Stereo (TWS) pun meledak, dan kini di 2026, menemukan smartphone flagship dengan audio jack justru langka. Keputusan Apple memaksa industri beralih ke masa depan audio Bluetooth.
3. Demam ‘Pokémon Go’: Dunia Nyata dan Virtual Bertemu
Juli 2016 menjadi saksi fenomena Pokémon Go, game Augmented Reality (AR) yang membuat jutaan orang keluar rumah berburu monster digital.
Game kolaborasi Niantic dan Nintendo ini bukan hanya sukses komersial, tetapi juga menciptakan fenomena sosial unik: orang-orang yang biasanya di rumah, tiba-tiba berkumpul di PokéStop dan berinteraksi. Pokémon Go meletakkan dasar bagi pengembangan teknologi AR dan metaverse berbasis lokasi yang semakin canggih saat ini.
4. Algoritma Menggeser Kronologi: Akhir Feed Urut Waktu
Sebelum 2016, unggahan di media sosial ditampilkan secara kronologis. Namun, platform mulai memperkenalkan feed berbasis algoritma, yang memprioritaskan konten relevan bagi pengguna.
Meskipun awalnya memicu protes, sistem ini terbukti efektif meningkatkan engagement. Algoritma ini kini menjadi “otak” di balik hampir semua platform digital, meski menimbulkan perdebatan tentang filter bubble.
5. Netflix Offline: Menonton Tanpa Tergantung Sinyal
November 2016, Netflix meluncurkan fitur Download untuk menonton offline. Inovasi sederhana ini berdampak besar, terutama di negara dengan koneksi internet tidak stabil atau kuota terbatas.
Pengguna kini terbiasa mengunduh serial favorit saat terhubung Wi-Fi, lalu menontonnya di kereta, pesawat, atau saat bepergian. Fitur ini kemudian menjadi standar industri layanan streaming video global.
Tahun 2016 mengajarkan bahwa inovasi sering dimulai dengan resistensi. Dari hilangnya lubang earphone hingga algoritma feed yang membingungkan, semua perubahan tersebut kini membentuk kenyamanan digital yang kita nikmati sehari-hari. Kilas balik ini bukan sekadar nostalgia, tetapi pengingat bahwa teknologi terus bergerak maju, sering kali mengejutkan, dan mengubah kebiasaan manusia secara permanen.














