NASIONAL

Mengenal Tagatose, “Gula Masa Depan” yang Aman untuk Gigi dan Penderita Diabetes

7
×

Mengenal Tagatose, “Gula Masa Depan” yang Aman untuk Gigi dan Penderita Diabetes

Sebarkan artikel ini
Tagatose: Alternatif Gula Masa Depan yang Aman untuk Diabetes dan Gigi
Tagatose: Alternatif Gula Masa Depan yang Aman untuk Diabetes dan Gigi

Media90 – Di tengah meningkatnya kesadaran akan bahaya konsumsi gula berlebih dan efek samping pemanis buatan, kabar gembira datang dari dunia sains. Tim peneliti internasional berhasil menemukan metode baru untuk memproduksi Tagatose, gula alami langka, dalam skala besar dengan biaya jauh lebih efisien.

Penemuan ini berpotensi menjadi game-changer dalam industri makanan dan minuman sehat. Tagatose menawarkan rasa hampir identik dengan gula biasa (sukrosa), namun dengan dampak kesehatan yang lebih minim, menjadikannya kandidat kuat sebagai “pemanis masa depan”.

Apa Itu Tagatose?

Tagatose bukanlah hal baru. Gula alami ini ditemukan dalam jumlah kecil pada beberapa produk susu dan buah. Keunggulannya meliputi:

Baca Juga:  Pemprov Lampung Pilih PKOR Way Halim sebagai Lokasi Utama Festival Krakatau 2023, Mari Bergabung dan Ramaikan Juli Ini!
  1. Rasa Alami – Sekitar 92% kemanisan gula biasa, tanpa aftertaste pahit seperti stevia atau aspartam.
  2. Rendah Kalori – Hanya sepertiga kalori gula biasa.
  3. Indeks Glikemik Rendah – Tidak memicu lonjakan gula darah karena tubuh tidak menyerapnya sepenuhnya.
  4. Aman untuk Gigi – Dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab gigi berlubang.

Meski bermanfaat, Tagatose sulit menembus pasar karena biaya produksi tinggi. Proses ekstraksi konvensional boros dan tidak efisien.

Terobosan Bioteknologi: Bakteri Jadi “Pabrik Mini”

Kolaborasi riset antara Tufts University (AS), Manus Bio, dan Kcat Enzymatic (India) berhasil mengembangkan metode produksi efisien menggunakan bioteknologi enzim.

Tim peneliti merekayasa bakteri E. coli agar mampu mengubah glukosa menjadi Tagatose, berkat enzim baru Galactose-1-Phosphate-Selective Phosphatase (Gal1P) dari jamur lendir.

Baca Juga:  FK Unila Buka Prodi Gizi, Kesempatan Lulusan D3 Ahli Gizi untuk Raih Gelar Sarjana

Nik Nair, insinyur biologi dari Tufts University, menjelaskan:
“Biasanya galaktosa diubah menjadi glukosa untuk energi. Dengan Gal1P, kami membalik proses itu, menjadikan glukosa yang murah menjadi galaktosa, lalu menjadi Tagatose.”

Efisiensi Produksi Melonjak

Metode konvensional memiliki yield 40–77%, sementara teknik baru ini mampu mencapai 95%, menurunkan biaya produksi drastis. Hal ini membuka peluang industri makanan dan minuman untuk menggantikan gula biasa dengan Tagatose, mulai dari minuman kemasan hingga es krim dan kue.

Manfaat Kesehatan: Metabolik, Prebiotik, dan Mulut Sehat

Tagatose memberikan manfaat kesehatan yang signifikan:

  • Metabolik & Diabetes – Sebagian besar Tagatose difermentasi di usus besar, tidak memicu lonjakan insulin, aman bagi penderita diabetes tipe 2.
  • Efek Prebiotik – Mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus, mirip serat alami.
  • Kesehatan Gigi – Bersifat non-kariogenik, tidak dimetabolisme oleh bakteri penyebab plak, bahkan berpotensi mencegah pembentukan plak.
Baca Juga:  Gunung Gede Pangrango Terapkan Gelang RFID dan Tombol Panik untuk Keamanan Pendaki

Masa Depan Industri Pemanis

Meskipun teknologi masih dalam tahap penyempurnaan skala besar, prospeknya menjanjikan. Pasar global Tagatose diprediksi mencapai ratusan juta dolar pada awal dekade 2030-an.

Keunggulan lain, Tagatose dapat mengkarmelisasi (mendapat warna cokelat) saat dipanaskan, menjadikannya ideal untuk baking—suatu keunggulan dibanding pemanis rendah kalori lain seperti Erythritol atau Sucralose.

Dengan restu FDA dan WHO yang menyatakan Tagatose aman dikonsumsi, revolusi “manis sehat” kemungkinan akan segera hadir di rak-rak supermarket. Bioteknologi kini membuktikan bahwa kita tidak perlu mengorbankan rasa manis untuk menjaga kesehatan tubuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *