TEKNO

414 Miliar Jam di Layar HP, Indonesia Jadi Juara Asia Tenggara Penggunaan Smartphone 2025

5
×

414 Miliar Jam di Layar HP, Indonesia Jadi Juara Asia Tenggara Penggunaan Smartphone 2025

Sebarkan artikel ini
Indonesia Juara Asia Tenggara Penggunaan Smartphone 2025, Tembus 414 Miliar Jam
Indonesia Juara Asia Tenggara Penggunaan Smartphone 2025, Tembus 414 Miliar Jam

Media90 – Laporan terbaru dari firma riset pasar Sensor Tower sepanjang tahun 2025 mengungkap fakta mencengangkan: Indonesia menempati peringkat pertama di Asia Tenggara dan masuk tiga besar dunia sebagai negara dengan tingkat penggunaan ponsel tertinggi. Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan 414 miliar jam menatap layar smartphone dalam satu tahun.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan perubahan gaya hidup digital yang masif. Di tengah pesatnya perkembangan aplikasi dan layanan berbasis mobile, aktivitas menggulir layar ponsel seolah menjadi rutinitas harian warga Indonesia—dari bangun tidur hingga menjelang terlelap.

Mengungguli Amerika, Hanya Kalah dari India

Dalam peta persaingan global, posisi Indonesia terbilang sangat dominan. Sensor Tower mencatat bahwa sepanjang 2025, hanya India yang mampu melampaui Indonesia dalam total durasi penggunaan ponsel.

Baca Juga:  China Ciptakan Chip AI Analog 1.000x Lebih Cepat dari GPU Nvidia dan AMD

Secara global, peringkat penggunaan smartphone sepanjang 2025 adalah sebagai berikut:

  1. India – 1,2 triliun jam
  2. Indonesia – 414 miliar jam
  3. Amerika Serikat – 385 miliar jam

Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mengungguli Amerika Serikat, negara yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi digital dunia.

Di tingkat regional Asia Tenggara, dominasi Indonesia bahkan tak tertandingi. Negara-negara seperti Filipina dan Vietnam hanya berada di peringkat ke-8 dan ke-11 secara global, sementara Malaysia, Singapura, dan Thailand tidak masuk dalam daftar 20 besar negara dengan durasi penggunaan ponsel tertinggi.

Apa yang Dilakukan Warga Indonesia Selama Ratusan Miliar Jam?

Besarnya angka penggunaan ini menimbulkan pertanyaan penting: aktivitas apa yang paling banyak menyita waktu warga Indonesia di ponsel?

Baca Juga:  5 Alat Teknologi Gratis Wajib Dimiliki di 2025 untuk Kerja Hybrid dan Remote

Jawabannya didominasi oleh hiburan digital. Media sosial masih menjadi penyedot waktu terbesar, dengan TikTok tetap bertengger sebagai aplikasi paling banyak digunakan sepanjang 2025.

Namun, laporan Sensor Tower juga menyoroti tren baru yang mencuri perhatian, yakni ledakan popularitas aplikasi drama pendek (short drama). Salah satu aplikasi di kategori ini, Melolo, mencatat lonjakan unduhan hingga 329 persen dalam setahun. Fenomena ini menandakan pergeseran selera hiburan, dari konten acak menuju narasi drama berseri berdurasi singkat namun sangat adiktif.

Selain hiburan, kategori aplikasi lain yang paling sering diakses oleh pengguna Indonesia meliputi:

  • Aplikasi utilitas dan produktivitas
  • Perbankan digital dan dompet elektronik
  • Pinjaman online (pinjol)
  • Layanan streaming OTT
  • Platform e-commerce

Ironi Negara Berkembang vs Negara Maju

Menariknya, tingkat penggunaan ponsel tidak selalu sebanding dengan status ekonomi suatu negara. China, misalnya, meski dikenal sebagai rumah bagi raksasa teknologi dan aplikasi global, justru hanya menempati peringkat ke-9 dunia dengan total durasi sekitar 148 miliar jam (khusus pengguna iOS).

Baca Juga:  11 Langkah Ampuh Mengatasi Masalah Koneksi WiFi Tanpa Akses Internet di Windows

Secara global, kecanduan layar ponsel memang terus meningkat. Sepanjang 2025, umat manusia menghabiskan total 5,3 triliun jam di depan layar smartphone—naik 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata, setiap orang kini menghabiskan sekitar 3,6 jam per hari hanya untuk ponsel.

Peluang Besar, Tantangan Serius

Bagi Indonesia, predikat sebagai juara Asia Tenggara penggunaan smartphone adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, hal ini menunjukkan potensi ekonomi digital yang sangat besar serta tingginya adopsi teknologi di masyarakat. Namun di sisi lain, angka 414 miliar jam juga menjadi peringatan keras.

Di balik layar yang terus menyala, tersimpan tantangan besar terkait produktivitas, kesehatan mental, kesehatan fisik, hingga kualitas interaksi sosial. Ke depan, pertanyaan pentingnya bukan lagi seberapa lama masyarakat menatap layar, melainkan untuk apa waktu digital tersebut digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *