Media90 – Aktivitas vulkanik Gunung Api Semeru kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan hasil pemantauan terkini, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat mengalami 20 kali gempa letusan atau erupsi dalam satu hari.
Gempa letusan tersebut memiliki amplitudo berkisar antara 13 hingga 22 milimeter, dengan durasi gempa antara 70 sampai 129 detik. Tingginya intensitas kegempaan ini menunjukkan bahwa aktivitas magma Gunung Semeru masih berlangsung aktif.
Secara visual, puncak Gunung Semeru tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut dengan intensitas 0–II hingga 0–III. Asap kawah tidak terpantau, namun kondisi cuaca yang mendung menyebabkan pengamatan visual menjadi terbatas.
Cuaca Mendung, Angin Lemah ke Timur Laut
Dari sisi klimatologi, kawasan Gunung Semeru dilaporkan mengalami cuaca mendung dengan arah angin lemah bertiup ke timur laut. Suhu udara di sekitar pos pengamatan berada pada kisaran 21 hingga 22 derajat Celsius.
Meskipun kondisi cuaca terbilang stabil, keterbatasan jarak pandang tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam proses pemantauan aktivitas gunung api.
Rincian Aktivitas Kegempaan
Selain gempa letusan, sejumlah aktivitas kegempaan lainnya juga tercatat. Di antaranya satu kali gempa guguran dengan amplitudo 1 milimeter dan durasi 43 detik. Kemudian tujuh kali gempa hembusan dengan amplitudo 3 hingga 8 milimeter serta durasi 37 sampai 64 detik.
Selain itu, tercatat satu kali gempa harmonik dengan amplitudo 2 milimeter dan durasi cukup panjang hingga 508 detik. Aktivitas tektonik jauh juga terekam satu kali dengan amplitudo 20 milimeter, selisih waktu S–P 39 detik, dan durasi gempa 103 detik.
Rangkaian aktivitas kegempaan tersebut mengindikasikan dinamika magma Gunung Semeru masih berlangsung aktif dan berpotensi memicu bahaya lanjutan.
Zona Bahaya Diperluas, Warga Diminta Waspada
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan bagi masyarakat di sekitar Gunung Semeru. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.
Di luar jarak tersebut, warga juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai, mengingat potensi terjadinya awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, radius bahaya di sekitar kawah Gunung Semeru tetap ditetapkan sejauh 5 kilometer. Masyarakat tidak diperkenankan melakukan aktivitas apapun di zona tersebut karena berpotensi terkena lontaran batu pijar.
PVMBG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi awan panas dan lahar di sepanjang aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang bermuara ke Besuk Kobokan.
Meskipun tidak terpantau asap kawah, tingginya frekuensi erupsi dan aktivitas kegempaan menjadi indikator bahwa Gunung Semeru masih berada dalam fase aktif. Masyarakat di wilayah rawan bencana diminta tetap waspada, tidak lengah, serta selalu mengikuti informasi resmi dan rekomendasi dari pihak berwenang.














