BERITA

Kamis Beradat dan Ikhtiar Menyelamatkan Identitas Lampung

3
×

Kamis Beradat dan Ikhtiar Menyelamatkan Identitas Lampung

Sebarkan artikel ini
Kamis Beradat, Upaya Menjaga Identitas Budaya Lampung
Kamis Beradat, Upaya Menjaga Identitas Budaya Lampung

Media90 – Instruksi Gubernur Lampung Nomor 4 Tahun 2025 tentang Hari Kamis Beradat patut dibaca sebagai sebuah ikhtiar serius pemerintah daerah dalam menjaga sekaligus menghidupkan kembali identitas budaya Lampung yang kian tergerus oleh zaman. Kebijakan ini hadir di tengah arus globalisasi dan dominasi budaya populer yang perlahan menggeser bahasa serta adat Lampung dari ruang-ruang kehidupan sehari-hari.

Hari ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bahasa Lampung semakin asing di telinga generasi mudanya sendiri. Di ruang publik, di lingkungan keluarga, bahkan di institusi pendidikan, penggunaan bahasa Lampung kerap tergantikan oleh bahasa Indonesia atau bahasa lain. Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruh sebuah kebudayaan. Ketika bahasa ditinggalkan, identitas kolektif pun perlahan ikut memudar.

Melalui kebijakan Kamis Beradat, Pemerintah Provinsi Lampung mencoba menghadirkan kembali adat dan budaya ke ruang-ruang formal. Setiap hari Kamis, aparatur pemerintahan dan lembaga pendidikan diwajibkan mengenakan pakaian batik khas Lampung serta menggunakan bahasa daerah Lampung dalam aktivitasnya. Langkah ini bukan sekadar simbolik, melainkan upaya membangun kebiasaan baru yang berakar pada kearifan lokal.

Baca Juga:  Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Menorehkan Jejak Global di Kancah Internasional

Kebijakan tersebut sejalan dengan visi besar Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan nasional. Di tingkat daerah, Kamis Beradat juga menjadi pengejawantahan Tiga Cita Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, khususnya dalam memperkuat identitas adat dan budaya Lampung sebagai bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya Nusantara.

Namun demikian, kebijakan yang baik tentu tidak lepas dari tantangan implementasi. Kamis Beradat tidak boleh berhenti sebagai kewajiban administratif semata. Faktanya, masih banyak masyarakat—bahkan aparatur dan pendidik—yang belum memahami cara berbahasa Lampung dengan baik dan benar. Tanpa referensi yang memadai, panduan praktis, serta ruang belajar yang inklusif, kebijakan ini berpotensi menjadi formalitas tanpa substansi.

Baca Juga:  IIB Darmajaya dan BRI Adakan Campus Hiring: Tingkatkan Peluang Karier Mahasiswa

Ke depan, penerapan Kamis Beradat perlu diperluas dan diperkaya. Tidak hanya terbatas di lingkungan pemerintahan dan sekolah, tetapi juga menjangkau ruang publik lain seperti hotel, pusat perbelanjaan, pasar tradisional, perkantoran swasta, hingga lingkungan rumah tangga. Dengan begitu, bahasa Lampung benar-benar hidup dan digunakan secara natural di tengah masyarakat.

Konsekuensinya, masyarakat akan “dipaksa secara halus” untuk belajar dan memahami bahasa daerah Lampung. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai kebanggaan kolektif. Ketika kebiasaan mulai terbentuk, rasa memiliki terhadap budaya lokal akan tumbuh dengan sendirinya.

Selain perluasan ruang praktik, terobosan berbasis teknologi juga menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah daerah bersama akademisi dan komunitas budaya dapat menginisiasi pengembangan aplikasi kamus atau penerjemah bahasa Lampung yang mudah diakses melalui App Store maupun Play Store. Aplikasi semacam ini akan sangat membantu masyarakat, khususnya generasi muda dan pendatang, dalam memahami makna, konteks, dan tata bahasa Lampung secara praktis.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Sambut Peluang Kerja Sama dengan PT Sucofindo untuk Dorong Daya Saing Daerah

Pada akhirnya, pelestarian adat dan budaya Lampung bukan semata tanggung jawab pemerintah. Ia adalah tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat Lampung. Setiap orang yang lahir, tinggal, dan menggantungkan hidup di Lampung merupakan bagian dari ekosistem budaya daerah ini. Menjaga bahasa, adat, dan nilai-nilai Lampung berarti menjaga jati diri bersama.

Kamis Beradat hanyalah sebuah pintu masuk. Keberlanjutannya bergantung pada kesadaran, konsistensi, dan partisipasi semua pihak. Jika dijalankan secara inklusif dan kreatif, Kamis Beradat berpotensi menjadi gerakan budaya yang kuat—bukan hanya menyelamatkan warisan leluhur, tetapi juga mewariskannya secara bermartabat kepada generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *