Media90 – Isu privasi kembali mengguncang dunia teknologi. Kali ini, Meta, perusahaan induk WhatsApp, diterpa tuduhan serius yang menyebut mereka mampu membaca isi pesan pribadi pengguna. Tuduhan tersebut langsung memicu kehebohan global, mengingat WhatsApp selama ini dikenal dengan klaim enkripsi end-to-end yang menjaga kerahasiaan percakapan miliaran penggunanya di seluruh dunia.
Gugatan ini diajukan oleh sekelompok penggugat dari berbagai negara ke Pengadilan Distrik San Francisco, Amerika Serikat. Dalam gugatannya, Meta dan WhatsApp dituding tidak hanya menyimpan serta menganalisis data pengguna, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengakses isi pesan pribadi yang dikirim melalui platform WhatsApp.
Gugatan Sebut Meta Menipu Pengguna Global
Dalam dokumen gugatan, para penggugat menilai klaim privasi WhatsApp hanyalah ilusi. Mereka menuduh Meta dan jajaran pimpinan perusahaan telah menyesatkan publik dengan menjual narasi keamanan, sementara di balik layar diduga tetap memiliki akses terhadap percakapan pengguna.
Sebagai dasar tuduhan, gugatan tersebut mengutip kesaksian seorang “whistleblower” yang mengklaim bahwa karyawan Meta dan WhatsApp bisa meminta akses untuk melihat pesan pengguna melalui prosedur internal yang disebut relatif mudah.
Namun demikian, gugatan ini juga menuai kritik. Pasalnya, tidak ada penjelasan teknis maupun bukti konkret yang disertakan untuk menjelaskan bagaimana sistem enkripsi WhatsApp dapat ditembus. Ketiadaan detail teknis ini membuat banyak pihak mempertanyakan kekuatan dan validitas argumen para penggugat.
Enkripsi End-to-End Jadi Sorotan
Selama lebih dari satu dekade, WhatsApp menjadikan enkripsi end-to-end sebagai fitur keamanan utama. Dengan sistem ini, pesan dienkripsi di perangkat pengirim dan hanya dapat didekripsi di perangkat penerima. Artinya, bahkan WhatsApp sendiri diklaim tidak memiliki kunci untuk membaca isi pesan pengguna.
WhatsApp menggunakan teknologi enkripsi berbasis Signal Protocol, yang diakui luas oleh para pakar keamanan siber sebagai salah satu standar enkripsi terkuat saat ini. Inilah yang membuat tuduhan bahwa Meta bisa membaca pesan WhatsApp langsung memicu perdebatan besar di kalangan komunitas teknologi dan keamanan digital.
Meta Tegas Membantah Tuduhan
Menanggapi gugatan tersebut, Meta akhirnya buka suara. Perusahaan menilai tuduhan itu tidak berdasar dan bahkan tidak masuk akal. Juru bicara Meta menegaskan bahwa klaim pesan WhatsApp tidak dienkripsi adalah informasi yang sepenuhnya salah.
“Segala klaim bahwa pesan WhatsApp milik banyak orang tidak dienkripsi adalah sepenuhnya salah dan tidak masuk akal,” ujar juru bicara Meta, dikutip dari PCMag.
Meta menegaskan bahwa WhatsApp telah menggunakan enkripsi end-to-end berbasis Signal Protocol selama lebih dari 10 tahun. Perusahaan bahkan menyebut gugatan tersebut sebagai karya fiksi dan menyatakan siap mengambil langkah tegas untuk meluruskan isu yang beredar.
Komentar Elon Musk dan Bos Telegram Ikut Memanaskan Situasi
Kontroversi ini tak hanya bergulir di ruang sidang. Sejumlah tokoh teknologi ternama turut angkat bicara, termasuk CEO Telegram Pavel Durov dan pemilik platform X, Elon Musk. Melalui unggahan di X, Musk menyebut WhatsApp tidak aman sembari mempromosikan fitur X Chat sebagai alternatif.
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Head of WhatsApp, Will Cathcart. Ia menegaskan bahwa klaim dalam gugatan maupun komentar Musk tidak benar.
“Ini sepenuhnya salah. WhatsApp tidak bisa membaca pesan karena kunci enkripsi disimpan di ponsel Anda dan kami tidak dapat mengaksesnya,” tulis Cathcart.
Ia juga menyebut gugatan tersebut sebagai upaya mencari perhatian media, bahkan menyinggung bahwa pihak penggugat berasal dari perusahaan yang sebelumnya pernah membela NSO Group, pembuat spyware yang dikenal pernah menyasar jurnalis dan pejabat pemerintah.
Privasi Digital Kembali Jadi Sorotan
Meski Meta membantah keras tuduhan tersebut, kasus ini kembali mengingatkan publik bahwa privasi digital tetap menjadi isu krusial. Transparansi dan kepercayaan terhadap platform komunikasi menjadi faktor penting, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran soal keamanan data pribadi.
Sambil menunggu proses hukum berjalan, pengguna diimbau untuk tetap memahami cara kerja fitur keamanan seperti enkripsi end-to-end serta bijak dalam membagikan informasi pribadi. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan data akan terus menjadi sorotan utama, khususnya bagi layanan yang digunakan oleh miliaran orang setiap hari.














