TEKNO

Tipisnya Batas antara Jenius dan Gagal: 5 Produk Teknologi yang Berakhir Tragis

10
×

Tipisnya Batas antara Jenius dan Gagal: 5 Produk Teknologi yang Berakhir Tragis

Sebarkan artikel ini
Pernah Dipuji Brilian, Kini Hilang dari Pasaran: 5 Produk Teknologi yang Gagal
Pernah Dipuji Brilian, Kini Hilang dari Pasaran: 5 Produk Teknologi yang Gagal

Media90 – Dalam sejarah perkembangan teknologi, garis pemisah antara inovasi jenius dan kegagalan total sering kali sangat tipis. Setiap tahun, ribuan paten didaftarkan dan ratusan purwarupa dipamerkan dengan janji besar akan mengubah cara manusia hidup. Namun pada akhirnya, pasar menjadi hakim paling kejam. Tidak semua ide cemerlang bernasib seberuntung iPhone atau teknologi internet nirkabel (Wi-Fi).

Banyak produk yang di atas kertas tampak futuristik dan revolusioner, tetapi akhirnya terkubur di “kuburan teknologi”. Penyebabnya beragam, mulai dari skandal manajemen, ketidaksiapan infrastruktur, hingga solusi yang ternyata tidak benar-benar dibutuhkan. Berikut lima produk teknologi yang sempat membuat dunia terpukau, namun berakhir dengan kegagalan menyakitkan.

1. Razer Zephyr: Masker Cyberpunk yang Tersandung Skandal

Saat pandemi global melanda pada 2020, permintaan masker melonjak tajam. Razer, produsen perangkat gaming ternama, melihat peluang ini dengan meluncurkan Razer Zephyr—masker futuristik bergaya cyberpunk lengkap dengan lampu RGB, kipas sirkulasi udara aktif, serta bagian mulut transparan agar ekspresi pengguna tetap terlihat.

Baca Juga:  Kelola Ponsel dan Tablet Galaxy dari Laptop dengan Samsung Multi Control!

Dijual dengan harga 99 dolar AS (sekitar Rp1,6 juta), Zephyr sempat menjadi simbol gaya hidup teknologi. Razer mengklaim masker ini menggunakan filter setara N95 yang mampu menyaring 99 persen partikel udara. Namun klaim inilah yang justru menjadi awal kehancurannya.

Investigasi mengungkap bahwa Zephyr tidak pernah memperoleh sertifikasi resmi N95 dari lembaga berwenang. Publik pun bereaksi keras. Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) menjatuhkan denda besar kepada Razer atas praktik pemasaran menyesatkan. Akibatnya, produk ini ditarik dari pasaran dan kini hanya dikenang sebagai gadget kontroversial.

2. Meowlingual: Ambisi Menerjemahkan Bahasa Kucing

Jepang memang dikenal sebagai gudangnya inovasi unik. Pada 2003, sebuah perusahaan merilis Meowlingual, perangkat genggam yang diklaim mampu menerjemahkan suara kucing ke dalam bahasa manusia.

Dengan menganalisis nada dan pola suara mengeong, alat ini menampilkan terjemahan seperti “Aku lapar” atau “Aku marah” di layar LCD. Konsepnya tentu menggoda para pecinta hewan yang penasaran dengan isi “pikiran” peliharaan mereka.

Namun, Meowlingual tak bertahan lama. Akurasi terjemahannya dipertanyakan dan lebih terasa sebagai gimmick hiburan ketimbang alat ilmiah. Dengan harga sekitar 75 dolar AS saat itu, banyak pengguna merasa manfaatnya tidak sebanding setelah rasa penasaran awal terpuaskan.

Baca Juga:  Terkuak! realme Rilis Ponsel Murah Meriah di Indonesia: Intip Spesifikasinya!

3. Skyship: Mimpi Piring Terbang Raksasa

Pada 1975, desainer asal Inggris John West mencoba mewujudkan fantasi fiksi ilmiah lewat Skyship—kendaraan udara berbentuk piring terbang raksasa. Skyship dirancang menggunakan gas helium untuk daya angkat, dipadukan dengan baling-baling untuk manuver.

Visinya ambisius: alat transportasi kargo udara yang efisien dan mampu mendarat tanpa landasan pacu panjang. Sayangnya, proyek ini berbenturan dengan keterbatasan teknologi dan dana.

Ukuran Skyship yang masif membuatnya sangat rentan terhadap angin dan cuaca buruk. Biaya riset membengkak, sementara minat investor tidak cukup besar. Material era 1970-an pun belum memadai untuk menopang desain ekstrem tersebut. Skyship akhirnya gagal terbang secara komersial dan hanya menjadi catatan menarik dalam sejarah penerbangan.

4. Skully AR-1: Helm Pintar yang Dijatuhkan Pendiri Sendiri

Kisah Skully AR-1 sering disebut sebagai salah satu tragedi terbesar di dunia startup teknologi. Helm motor pintar ini dilengkapi heads-up display di visor, kamera belakang 180 derajat, serta navigasi GPS—menjanjikan pengalaman berkendara futuristik ala Iron Man.

Baca Juga:  Fitur Baru! Samsung Galaxy Akan Terkunci Otomatis Jika Dicuri, Begini Cara Kerjanya

Kampanye crowdfunding-nya sukses besar, mengumpulkan jutaan dolar dari ribuan pendukung. Namun, produk tersebut tak pernah sampai ke tangan sebagian besar pemesan.

Pada 2016, Skully bangkrut setelah terungkap bahwa pendirinya menyalahgunakan dana perusahaan untuk gaya hidup mewah, bukan untuk produksi. Meski sempat ada upaya menghidupkan kembali proyek ini, reputasi Skully sudah telanjur hancur. Hilangnya kepercayaan publik menjadi paku terakhir di peti matinya.

5. LiFi: Internet Berkecepatan Tinggi yang Kalah oleh Tembok

Selain WiFi, dunia teknologi sempat digemparkan oleh LiFi (Light Fidelity)—teknologi internet berbasis cahaya LED. LiFi menggunakan kedipan cahaya super cepat untuk mentransfer data dan secara teori mampu mencapai kecepatan hingga 100 kali lebih cepat dari WiFi.

Namun keunggulan tersebut dibayar mahal oleh keterbatasan fisik cahaya. Tidak seperti gelombang radio WiFi, cahaya LiFi tidak bisa menembus tembok. Begitu pengguna keluar ruangan atau sensor tertutup, koneksi langsung terputus. Selain itu, lampu harus tetap menyala agar internet aktif, sesuatu yang jelas tidak praktis.

Keterbatasan jangkauan dan mobilitas membuat LiFi sulit bersaing dengan ekosistem WiFi yang sudah matang dan fleksibel.

Pelajaran dari Kegagalan

Lima kisah di atas menunjukkan bahwa inovasi tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Kesuksesan produk juga ditentukan oleh ketepatan waktu, eksekusi bisnis yang jujur, serta kemampuan menjawab kebutuhan nyata pengguna.

Tanpa kombinasi faktor tersebut, ide-ide futuristik hanya akan berakhir sebagai artefak sejarah—menarik untuk dikenang, tetapi gagal mengubah dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *