Media90 – Penggunaan pembayaran digital lintas negara kian mendekat bagi masyarakat Indonesia. Bank Indonesia (BI) memastikan layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) akan terus dikembangkan agar dapat digunakan di lebih banyak negara. Pada 2026, QRIS ditargetkan bisa dipakai di delapan negara dari berbagai kawasan dunia.
Kebijakan ini menjadi langkah lanjutan BI dalam mendorong sistem pembayaran digital nasional agar semakin terintegrasi secara global. Dengan perluasan tersebut, masyarakat Indonesia tidak perlu lagi menukar uang tunai saat bepergian ke luar negeri, karena transaksi dapat dilakukan langsung melalui ponsel.
QRIS Tak Lagi Terbatas di Asia Tenggara
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa ekspansi QRIS kini tidak hanya menyasar negara-negara Asia Tenggara seperti sebelumnya. Jika sebelumnya QRIS telah digunakan di Malaysia, Thailand, dan Singapura, serta diperluas ke Jepang, maka cakupan wilayahnya akan semakin luas ke negara-negara besar lainnya.
Dalam acara peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025 di Jakarta, Perry mengungkapkan bahwa QRIS akan digunakan di delapan negara.
“QRIS akan kami perluas ke delapan negara. Setelah Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang, akan berlanjut ke China, Korea, India, dan juga Arab Saudi,” ujarnya.
Dengan perluasan ini, QRIS akan menjangkau kawasan Asia Timur, Asia Selatan, hingga Timur Tengah, sekaligus menjadi tonggak penting bagi sistem pembayaran nasional Indonesia di tingkat internasional.
Perjalanan QRIS Lintas Negara
Implementasi QRIS lintas negara bukan hal baru. Sistem ini pertama kali diterapkan di Thailand pada 2022, menjadikannya negara pertama yang terkoneksi dengan QRIS Indonesia. Setahun kemudian, layanan tersebut diperluas ke Malaysia dan Singapura pada 2023.
Jepang menyusul pada 2025, yang sekaligus memperluas jangkauan QRIS ke kawasan Asia Timur. Keberhasilan uji coba dan implementasi di negara-negara tersebut menjadi dasar kuat bagi Bank Indonesia untuk melanjutkan ekspansi ke wilayah lain dengan mobilitas tinggi masyarakat Indonesia.
China dan Korea Siap Digunakan Awal 2026
Untuk dua negara berikutnya, yakni China dan Korea Selatan, Bank Indonesia menargetkan implementasi dalam waktu dekat. Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menyebutkan bahwa kedua negara tersebut diproyeksikan mulai menggunakan QRIS pada kuartal I-2026.
“Dalam waktu dekat, mudah-mudahan sebelum triwulan I kita sudah bisa implementasi dengan Tiongkok dan juga Korea Selatan,” kata Filianingsih pada Rabu (21/1/2026).
Jika target tersebut tercapai, wisatawan Indonesia yang bepergian ke China dan Korea Selatan dapat langsung melakukan transaksi menggunakan aplikasi pembayaran digital di dalam negeri.
India dan Arab Saudi Masih Tahap Persiapan
Sementara itu, untuk India dan Arab Saudi, Bank Indonesia belum menetapkan jadwal pasti implementasi QRIS. Meski demikian, persiapan teknis sudah mulai dilakukan. BI telah menunjuk PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) untuk menyiapkan pengembangan QRIS lintas negara ke kedua wilayah tersebut sejak akhir 2025.
Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, mengungkapkan bahwa penjajakan kerja sama telah dilakukan, khususnya untuk mendukung kebutuhan masyarakat Indonesia yang bepergian ke Arab Saudi.
“Kalau nanti naik haji atau umrah, tidak perlu lagi membawa uang tunai. Cukup tap-tap menggunakan QRIS,” ujarnya.
Langkah ini dinilai sangat relevan mengingat tingginya jumlah jemaah haji dan umrah asal Indonesia setiap tahunnya.
Jumlah Pengguna QRIS Terus Melesat
Di dalam negeri, pertumbuhan QRIS menunjukkan tren yang sangat positif. Hingga akhir 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 60 juta orang, dengan sekitar 45 juta di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Tak hanya dari sisi pengguna, nilai transaksi QRIS juga mengalami lonjakan signifikan. Sepanjang 2025, transaksi QRIS tumbuh 139,99% secara tahunan, dari Rp659,9 triliun menjadi Rp1.486,8 triliun.
Bank Indonesia pun memasang target ambisius ke depan. Pada 2026, nilai transaksi QRIS ditargetkan mencapai Rp3.110,6 triliun, dan meningkat menjadi Rp5.674,3 triliun pada 2027.
Perluasan QRIS lintas negara dinilai bukan sekadar mempermudah transaksi wisatawan Indonesia di luar negeri, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem ekonomi digital global, sekaligus menghubungkan aktivitas ekonomi nasional dengan pasar internasional.














