TEKNO

Google DeepMind Luncurkan AlphaGenome, AI yang Membaca DNA untuk Mengungkap Penyebab Penyakit

6
×

Google DeepMind Luncurkan AlphaGenome, AI yang Membaca DNA untuk Mengungkap Penyebab Penyakit

Sebarkan artikel ini
AlphaGenome dari Google DeepMind: Teknologi AI yang Membaca DNA untuk Mengungkap Penyakit
AlphaGenome dari Google DeepMind: Teknologi AI yang Membaca DNA untuk Mengungkap Penyakit

Media90 – Google, melalui unit riset kecerdasan buatan mereka, DeepMind, kembali mengguncang dunia sains dengan meluncurkan AlphaGenome. Sistem AI terbaru ini dirancang khusus untuk membantu para ilmuwan mengidentifikasi pemicu genetik utama dari berbagai penyakit kompleks, mulai dari kanker, gangguan jantung, hingga penyakit autoimun.

Peluncuran AlphaGenome menandai fase baru dalam ekspansi global AI, di mana fokus teknologi bergeser dari sekadar pengolahan data digital menuju wilayah paling fundamental dalam kehidupan manusia: kode genetik atau DNA.

AlphaGenome diperkenalkan sebagai model deep learning yang mampu mempelajari dan mensimulasikan mekanisme genetik yang selama ini sulit dijelaskan oleh metode penelitian medis konvensional. Berbeda dengan AI yang berfokus pada produktivitas atau otomasi, AlphaGenome beroperasi di ranah kesehatan dan ilmu hayati—sektor dengan dampak jangka panjang bagi umat manusia.

Teknologi ini mampu menganalisis hingga satu juta huruf kode DNA dalam sekali proses, memungkinkan peneliti mengamati bagian genom yang sebelumnya sulit dijangkau atau terabaikan.

Memahami “Tata Bahasa” dalam Kitab Kehidupan

Dalam peluncurannya pada akhir Januari 2026, Wakil Presiden Riset Google DeepMind, Pushmeet Kohli, menyatakan bahwa penyelesaian peta genom manusia pada tahun 2003 sejatinya telah memberikan manusia sebuah “kitab kehidupan”. Namun, tantangan sesungguhnya bukan hanya memiliki catatan tersebut, melainkan memahami tata bahasa di baliknya.

Baca Juga:  Personalisasi Avatar Anda: Panduan Membuat Avatar AI yang Cerminan Kepribadian Anda di Canva

Tubuh manusia menyimpan sekitar 3 miliar pasangan nukleotida yang membentuk DNA. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 2 persen yang berfungsi sebagai pembuat protein. Sementara 98 persen sisanya lama dianggap sebagai “DNA sampah” karena fungsinya tidak diketahui secara pasti.

AlphaGenome hadir untuk membalik anggapan tersebut. Model ini menunjukkan bahwa DNA non-pengkode (non-coding DNA) justru memegang peran koordinasi yang sangat vital. Bagian inilah yang menentukan kapan gen aktif, di jaringan tubuh mana gen bekerja, serta seberapa kuat aktivitas biologisnya. Mutasi pada wilayah pengatur ini kini diketahui berkaitan erat dengan gangguan kesehatan mental, penyakit autoimun, hingga kanker pada anak.

Cara Kerja dan Pelatihan Data Lintas Spesies

Untuk mencapai tingkat akurasi tinggi, DeepMind melatih AlphaGenome menggunakan basis data publik yang mencakup genetika manusia dan tikus. Dengan mempelajari data dari ratusan jenis sel dan jaringan, AlphaGenome mampu memprediksi bagaimana mutasi tertentu mengganggu mekanisme pengendalian gen.

Baca Juga:  Solusi Kilat: Reset Pengaturan Jaringan di iPhone untuk Atasi Kendala Koneksi

Model ini tidak hanya membaca urutan DNA, tetapi juga memprediksi dampak biologis dari perubahan sekecil apa pun dalam kode genetik. Peneliti utama proyek ini, Ziga Avsec, menjelaskan bahwa kemampuan menganalisis rangkaian DNA yang sangat panjang menjadi kunci untuk memahami konteks gen secara utuh.

Dengan tingkat detail ini, ilmuwan dapat membandingkan DNA normal dengan DNA bermutasi secara langsung. Pendekatan tersebut membuka jalan bagi pengembangan terapi gen yang lebih presisi, termasuk perancangan urutan DNA baru yang mampu mengaktifkan gen tertentu hanya pada sel target, seperti sel hati atau sel saraf.

Dampak Klinis dan Respons Komunitas Ilmiah

Di tingkat klinis, kehadiran AlphaGenome mulai dirasakan sebagai sebuah terobosan besar. Marc Mansour, profesor klinis dari University College London (UCL), menyebut teknologi ini sangat membantu dalam mengidentifikasi penggerak genetik pada kanker anak—bidang yang selama ini terkendala oleh kompleksitas genom.

Baca Juga:  5 Smartphone dengan Kemampuan Kamera Terbaik di 2023: Apakah Mereka Bisa Menandingi DSLR?

Sementara itu, Gareth Hawkes, ahli genetika statistik dari University of Exeter, menilai AlphaGenome sebagai lompatan signifikan bagi dunia sains.

“Genom non-coding mencakup 98 persen dari 3 miliar pasangan basa genom kita. Kita cukup memahami 2 persen sisanya, tetapi fakta bahwa kini ada AlphaGenome yang dapat memprediksi fungsi dari 2,94 miliar pasangan basa lainnya merupakan langkah maju besar,” ujarnya.

Meski demikian, komunitas ilmiah tetap memberikan catatan kritis. Ben Lehner dari Universitas Cambridge mengingatkan bahwa AlphaGenome masih sangat bergantung pada kualitas data pelatihan. Sementara Robert Goldstone dari Francis Crick Institute menegaskan bahwa AI ini bukanlah “solusi ajaib”, karena ekspresi gen juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap oleh model AI.

Saat ini, AlphaGenome tersedia gratis untuk penggunaan non-komersial dan telah diuji oleh lebih dari 3.000 ilmuwan di 160 negara. Angka tersebut menegaskan ambisi Google DeepMind untuk membentuk masa depan kesehatan global melalui kecerdasan buatan—bukan sekadar memahami data, tetapi juga memahami kehidupan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *