Media90 – CEO Meta, Mark Zuckerberg, kembali melontarkan pandangan visioner mengenai masa depan perangkat keras personal yang akan mendominasi pasar global. Dalam pernyataannya pada akhir Januari 2026, Zuckerberg memprediksi bahwa era kejayaan ponsel pintar atau smartphone perlahan akan berakhir dan digantikan oleh kacamata berbasis kecerdasan buatan (AI glasses).
Menurutnya, peralihan ini merupakan evolusi alami dari cara manusia berinteraksi dengan informasi digital—lebih organik, intuitif, dan menyatu dengan aktivitas sehari-hari. Kacamata AI diproyeksikan tidak lagi sekadar aksesori tambahan, melainkan pusat kendali komputasi utama yang akan menggeser peran smartphone yang telah mendominasi hampir dua dekade terakhir.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pesatnya perkembangan perangkat wearable yang kini semakin ringan, ringkas, dan bertenaga. Zuckerberg menekankan bahwa berbagai fungsi utama smartphone mulai berpindah ke dalam bingkai kacamata. Tren ini menandai pergeseran paradigma besar, di mana layar yang harus digenggam perlahan ditinggalkan demi akses informasi langsung di depan mata tanpa menghalangi pandangan ke dunia nyata.
Mengapa Smartphone Diprediksi Akan Tergantikan
Prediksi Zuckerberg berangkat dari kematangan teknologi komputasi spasial, yang dinilai lebih selaras dengan cara manusia berinteraksi secara alami. Salah satu masalah utama smartphone adalah isu presence atau kehadiran. Saat menggunakan ponsel, perhatian pengguna kerap teralihkan dari lingkungan sekitar karena fokus tertuju pada layar di genggaman.
Sebaliknya, kacamata AI memungkinkan pengguna tetap terhubung dengan dunia nyata sambil mengakses informasi digital. Notifikasi, navigasi, hingga terjemahan bahasa dapat muncul langsung di lensa transparan tanpa memutus interaksi dengan lingkungan sekitar.
Keunggulan lain terletak pada integrasi asisten AI kontekstual yang mampu melihat dan mendengar apa yang dialami pengguna. Dengan kemampuan ini, kacamata AI dapat memberikan bantuan secara real-time tanpa perlu mengeluarkan perangkat dari saku. Didukung sensor pelacak gerakan tangan dan mata, interaksi digital di masa depan tidak lagi bergantung pada layar sentuh, melainkan melalui perintah suara atau gestur alami yang lebih efisien.
Seberapa Akurat Ramalan Zuckerberg?
Melihat arah industri teknologi saat ini, ramalan Zuckerberg dinilai memiliki dasar kuat, meski membutuhkan masa transisi yang tidak singkat. Investasi besar-besaran Meta dan perusahaan teknologi global lainnya pada perangkat keras mikro menunjukkan bahwa miniaturisasi komponen sudah mendekati tahap ideal untuk disematkan ke dalam bingkai kacamata berdesain normal.
Zuckerberg meyakini kacamata AI akan mengikuti pola adopsi smartphone: dimulai dari penggunaan terbatas untuk fungsi sederhana, lalu berkembang menjadi perangkat wajib dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, keberhasilan visi ini bergantung pada penyelesaian tantangan teknis, terutama desain dan daya tahan baterai. Agar benar-benar menggantikan smartphone, kacamata AI harus nyaman dipakai sepanjang hari, ringan, dan tampil seperti kacamata biasa. Jika hambatan ini dapat diatasi, dunia tanpa layar genggam bukan lagi sekadar wacana futuristik.
Tantangan Privasi dan Etika
Di balik potensi besar tersebut, muncul pula kekhawatiran serius terkait privasi dan etika. Kacamata AI yang dilengkapi kamera dan sistem AI aktif memunculkan pertanyaan mendasar: apakah orang akan merasa terus diawasi? Bagaimana data visual disimpan, diproses, dan digunakan?
Meta sendiri memiliki rekam jejak panjang terkait isu privasi, sehingga kepercayaan publik menjadi tantangan besar. Jika kacamata AI ingin diterima secara luas, transparansi dalam penggunaan data harus menjadi prioritas. Tanpa kejelasan dan kontrol yang kuat, teknologi yang terlalu invasif berpotensi mendapat penolakan sosial.
Babak Baru Interaksi Digital
Jika prediksi Zuckerberg menjadi kenyataan, industri teknologi akan memasuki babak baru—bergeser dari dominasi layar fisik menuju sensor optik mikro dan komputasi kontekstual. Perubahan ini juga berdampak pada cara manusia mengelola data dan keamanan digital, mengingat perangkat akan beroperasi sambil terus berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Zuckerberg menegaskan bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang tidak menghalangi manusia untuk saling berinteraksi. Dalam visinya, kacamata AI menjadi jembatan menuju masa depan komputasi yang lebih menyatu dengan kehidupan nyata.
Meski smartphone tidak akan hilang dalam waktu dekat, arah perkembangan teknologi menunjukkan bahwa perangkat genggam perlahan menuju fase senja. Masyarakat pun mulai bersiap menyambut era baru, di mana akses ke dunia digital cukup dengan satu perintah suara atau sekilas pandang—tanpa lagi terikat pada layar di telapak tangan.














