Media90 – Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Berdasarkan pengamatan terbaru, terdeteksi guguran lava yang meluncur ke sejumlah alur sungai dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter.
Meski tidak teramati asap kawah, kondisi puncak gunung tertutup kabut tebal dan cuaca mendung sehingga pemantauan visual menjadi terbatas. Arah angin terpantau tenang mengarah ke timur. Namun demikian, suplai magma dinilai masih berlangsung, sehingga potensi bahaya erupsi masih tetap ada.
Guguran Lava Teramati, Ini Arah dan Jarak Luncurnya
Dalam periode pengamatan, tercatat dua kali guguran lava yang mengarah ke Kali Sat/Putih. Fenomena ini menegaskan bahwa material pijar masih bergerak di tubuh Gunung Merapi.
Kondisi tersebut berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran (APG), terutama jika dipicu oleh curah hujan tinggi yang dapat mempercepat runtuhan material lava di kubah atau lidah lava.
Aktivitas Kegempaan Masih Tinggi
Data seismik menunjukkan aktivitas internal Gunung Merapi yang masih cukup intens. Tercatat beberapa jenis gempa dengan rincian sebagai berikut:
- 26 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–29 mm dan durasi 33,64–178,78 detik
- 17 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–23 mm dan durasi 14,36–52,65 detik
- 2 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 3–6 mm dan durasi 46,31–123,63 detik
Pola kegempaan ini mengindikasikan bahwa pergerakan dan tekanan material magma di dalam gunung masih berlangsung aktif.
Kondisi Cuaca dan Klimatologi di Sekitar Merapi
Cuaca di kawasan Gunung Merapi terpantau mendung dengan tingkat kelembaban yang sangat tinggi. Parameter klimatologi tercatat sebagai berikut:
- Suhu udara berkisar antara 18,1–20,5 derajat Celsius
- Kelembaban udara mencapai 98–99,9 persen
- Tekanan udara berada pada kisaran 873,4–916,8 mmHg
Kelembaban yang tinggi meningkatkan potensi bahaya lahar hujan dan awan panas guguran apabila terjadi hujan di sekitar puncak dan lereng gunung.
Zona Bahaya dan Wilayah yang Perlu Diwaspadai
Potensi bahaya Gunung Merapi saat ini meliputi beberapa sektor utama, antara lain:
- Sektor selatan–barat daya: Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km)
- Sektor tenggara: Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km)
- Lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius hingga 3 km dari puncak
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di seluruh zona potensi bahaya serta tetap mematuhi rekomendasi pihak berwenang demi keselamatan bersama.














