BERITA

Bandara Radin Inten II Kembali Internasional, Tantangannya: Jangan Hanya Internasional Rasa Lokal

2
×

Bandara Radin Inten II Kembali Internasional, Tantangannya: Jangan Hanya Internasional Rasa Lokal

Sebarkan artikel ini
Bandara Kembali Berstatus Internasional, Jangan Hanya Sebatas Label
Bandara Kembali Berstatus Internasional, Jangan Hanya Sebatas Label

Media90 – Bandara Radin Inten II resmi kembali menyandang status bandara internasional. Kabar ini tentu layak dirayakan, minimal dengan senyum lebar, swafoto di terminal, dan unggahan story bertagar “Lampung Goes Global”. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pun turun langsung untuk memastikan seluruh elemen bandara siap mendukung kembalinya status tersebut—mulai dari terminal, fasilitas pelayanan, hingga CIQ (Customs, Immigration, Quarantine).

Namun di balik momen seremonial itu, masyarakat Lampung sebenarnya menyimpan memori lucu sekaligus pahit: Radin Inten II bukan nama baru di kancah internasional. Ia sudah pernah memiliki status yang sama beberapa tahun lalu, lalu entah bagaimana bisa “turun kelas” lagi. Ibarat sudah pakai jas, sempat disuruh ganti kaos, dan sekarang pakai jas lagi. Semoga kali ini bukan jas pinjaman.

Secara konsep, pengembalian status internasional patut diapresiasi. Lampung punya jamaah umrah dan haji puluhan ribu orang tiap tahun, destinasi wisata dengan puluhan juta kunjungan, serta geliat investasi yang mulai menggeliat. Semua itu butuh pintu keluar-masuk yang layak. Tidak ideal rasanya ketika harus ke luar negeri tapi mesti transit dulu ke provinsi lain, seperti mencari sinyal di pojokan rumah.

Baca Juga:  KAI Sediakan 23 Ribu Tiket Kereta Kualastabas untuk Libur Natal dan Tahun Baru 2025

Namun status hanyalah permulaan. Di sinilah pekerjaan besar Gubernur Mirza dimulai. Status internasional bukan trofi yang cukup dipajang di lemari. Ia harus dijaga, dirawat, dan dihidupi. Jika tidak, sejarah berpotensi terulang: papan nama internasional, tapi apron dan runway tak banyak disinggahi pesawat asing.

Pesan pentingnya sederhana: jangan hanya bangga pada status, tapi pastikan traffic penerbangan benar-benar hidup.
Ada dua hal krusial yang tak boleh dilewatkan:

  1. Maskapai harus hadir bukan hanya saat peresmian. Banyak bandara internasional punya kisah sedih: rute internasional datang saat seremoni, hilang diam-diam seperti mantan yang cuma manis di awal.

  2. Pelayanan harus kelas internasional, bukan internasional rasa lokal. Kesan terbaik bukan hanya soal gedung, tapi pengalaman pengguna. Internasional itu tidak cocok dipadukan dengan antrean berlarut-larut disertai kalimat sakral: “Sabar ya, sistemnya lagi error.”

Kerja sama dengan Hainan Airlines dan hubungan sister province dengan Shandong adalah sinyal baik. Tapi masyarakat Lampung menunggu realisasinya. Rute aktif dan konsistensi operasional jauh lebih penting ketimbang sekadar piagam MoU yang berdebu di lemari kantor. Bandara internasional tanpa rute internasional aktif ibarat rumah megah dengan pintu yang jarang dibuka.

Lampung sebenarnya punya modal besar: wisata alam dari Teluk Kiluan hingga Pahawang, lokasi strategis dekat Jakarta, serta potensi ekonomi dari pertanian hingga industri. Tantangan selanjutnya adalah memastikan Radin Inten II bukan hanya bandara yang mampu membawa orang ke luar negeri, tetapi bandara yang benar-benar dipakai orang untuk ke luar negeri.

Akhir kata, selamat datang kembali status internasional. Semoga Radin Inten II benar-benar “go international” dan bukan hanya “feeling international”. Jangan sampai suatu hari kita hanya bisa mengenang sambil berkata: “Dulu internasional, sekarang kenangan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *