Media90 – Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali mencatat capaian strategis dalam inovasi pertanian melalui pengembangan dua galur ubi jalar unggul baru, yaitu Ubi Jalar Polinela-1 dan Polinela-2. Kedua galur tersebut merupakan hasil persilangan terbuka (open pollination) dari induk betina ubi jalar ungu varietas Ayamurasaki yang dirakit oleh dosen Polinela, Dr. Ir. Ratna Dewi, M.P., sejak tahun 2018.
Hasil Persilangan Ayamurasaki dengan Tetua Lokal dan Nasional
Proses pemuliaan dilakukan menggunakan metode open pollination antara Ayamurasaki dengan tujuh tetua jantan yang berbeda. Terdiri dari lima ubi jalar unggul lokal Lampung (LPG-01, LPG-03, LPG-06, LPG-07, LPG-10) serta dua tetua unggul nasional, yakni Beta-2 dan Cilembu.
Metode ini memungkinkan terjadinya penggabungan karakter genetik unggul dari berbagai tetua, sehingga menghasilkan variasi genetik luas yang berpotensi melahirkan galur-galur superior.
Tahapan Seleksi Riset Pemuliaan Berjenjang
Pada tahap awal program pemuliaan, proses persilangan menghasilkan 90 nomor galur generasi F1. Selanjutnya, galur-galur tersebut diseleksi secara bertahap melalui tahapan:
-
Seleksi tanam tunggal
-
Seleksi gulud tunggal
-
Seleksi gulud ganda
-
Uji daya hasil pendahuluan
-
Uji daya hasil lanjutan
-
Uji multilokasi
Seluruh rangkaian seleksi dilakukan secara konsisten dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Teknologi Perbenihan Polinela sebagai bagian dari penelitian tugas akhir mereka. Dengan demikian, riset tidak hanya menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga menjadi wahana praktik keilmuan bagi mahasiswa vokasi.
Karakter Unggul: Tinggi Hasil, Enak, dan Cepat Panen
Dari proses seleksi jangka panjang, diperoleh sejumlah galur dengan karakter unggul, antara lain:
-
Warna daging umbi ungu
-
Cita rasa lebih enak
-
Daya hasil tinggi >500 gram per tanaman
-
Umur panen genjah (3–4 bulan)
Dua galur terbaik, yaitu AOP 19 dan AOP 23, kemudian ditetapkan sebagai galur unggulan dengan nama Polinela-1 dan Polinela-2.
Demplot Uji Adaptasi di Lampung Barat
Sebagai bagian dari pengujian lanjutan, Polinela bekerja sama dengan UPB Tanaman Sayuran Sekincau, Lampung Barat dalam kegiatan demplot uji adaptasi Ubi Jalar Ungu Polinela-1 dan Polinela-2 pada Rabu (7/1/2026). Tujuan kegiatan ini adalah menguji daya adaptasi dan potensi produksi kedua galur dalam kondisi agroekosistem wilayah Sekincau.
Apresiasi dan Komitmen Polinela terhadap Riset Terapan
Direktur Politeknik Negeri Lampung yang diwakili oleh Wakil Direktur Bidang Akademik, Didik Kuswadi, S.T.P., M.Si., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan riset tersebut.
“Pengembangan galur ubi jalar Polinela-1 dan Polinela-2 menunjukkan peran Polinela sebagai perguruan tinggi vokasi yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga aktif menghasilkan inovasi terapan di bidang pertanian. Kami mendorong agar hasil riset ini terus dikembangkan hingga dapat dilepas sebagai varietas unggul dan dimanfaatkan secara luas oleh petani,” ujar Didik Kuswadi.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam setiap tahapan penelitian menjadi nilai tambah penting bagi peningkatan kompetensi, pengalaman lapangan, dan daya saing lulusan di sektor pertanian dan perbenihan.
Perbedaan Karakter Polinela-1 dan Polinela-2
Kedua galur unggulan ini memiliki karakter khas yang saling melengkapi:
🔹 Polinela-1
-
Postur tanaman lebih ramping
-
Rasa umbi lebih manis
-
Kandungan energi total lebih tinggi
🔹 Polinela-2
-
Postur tanaman lebih besar
-
Potensi produksi lebih tinggi
-
Aktivitas antioksidan lebih unggul
Perbedaan karakter tersebut memperkaya pilihan pengembangan komoditas ubi jalar ungu sesuai kebutuhan pasar, baik konsumsi segar maupun industri pangan.
Kontribusi Bagi Ketahanan Pangan dan Petani Lokal
Inovasi ini diharapkan memberi kontribusi nyata dalam:
-
Pengembangan komoditas pangan lokal unggul
-
Penguatan ketahanan pangan nasional
-
Peningkatan kesejahteraan petani
-
Hilirisasi riset berbasis vokasi
-
Pemanfaatan plasma nutfah lokal Lampung
Dengan keberhasilan riset ini, Polinela menegaskan perannya sebagai kampus vokasi yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten, tetapi juga mendorong inovasi terapan yang berdampak bagi masyarakat dan dunia pertanian.














