Media90 – Politeknik Negeri Lampung (POLINELA) menegaskan komitmennya untuk berperan aktif dalam pembangunan nasional melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi, riset, dan penguatan sumber daya manusia, sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam Taklimat Presiden RI 2026 di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Polinela menjadi salah satu delegasi perguruan tinggi negeri vokasi yang diundang secara resmi untuk menghadiri agenda Taklimat Presiden RI, bersama pimpinan perguruan tinggi dan guru besar dari seluruh Indonesia. Kegiatan kenegaraan ini berlangsung di area tengah Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/1/2026), pukul 09.00 hingga sekitar 12.30 WIB.
Taklimat yang diikuti sekitar 1.200 pimpinan perguruan tinggi dan guru besar ini menjadi forum strategis untuk menyampaikan arah kebijakan nasional bertema manusia, pendidikan tinggi, dan sains untuk kebangkitan Indonesia. Presiden menekankan pentingnya kemandirian bangsa di tengah pergeseran geopolitik global yang semakin dinamis dan tidak menentu.
Delegasi Polinela hadir dipimpin oleh Direktur Dr. Dwi Puji Hartono, S.Pi., M.Si., didampingi Wakil Direktur Bidang Akademik, Didik Kuswadi, S.T.P., M.Si., dan Wakil Direktur Bidang Kerjasama, Eko Win Kenali, S.Kom., M.Cs. Kehadiran delegasi ini mencerminkan posisi Polinela sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi yang siap berkontribusi dalam dialog kebangsaan dan menjadi mitra strategis negara dalam menyiapkan SDM unggul dan berintegritas.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan dalam keterangan persnya bahwa Presiden Prabowo menyoroti perubahan geopolitik dunia yang menuntut setiap negara untuk mampu berdiri mandiri dan memiliki daya tahan kuat. Dalam konteks tersebut, Presiden berharap perguruan tinggi menjadi lokomotif penguasaan sains dan teknologi nasional, sekaligus pusat lahirnya SDM unggul yang mampu menjawab tantangan global.
Presiden juga menegaskan pentingnya integritas, nasionalisme, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat dalam proses pendidikan tinggi. Pesan ini sejalan dengan mandat POLINELA sebagai perguruan tinggi vokasi yang tidak hanya unggul dalam bidang pendidikan, tetapi juga berorientasi pada pembentukan warga negara yang berkarakter, berpengetahuan, dan bertanggung jawab secara sosial.
Kemdiktisaintek memandang Taklimat Presiden 2026 sebagai momentum penting untuk menyelaraskan kebijakan nasional dengan agenda transformasi pendidikan tinggi dan penguatan ekosistem riset. Presiden menekankan bahwa kebangkitan Indonesia tidak semata bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas manusia, penguasaan ilmu pengetahuan, serta kemampuan menerjemahkan riset menjadi dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Dalam kesempatan itu, pemerintah juga mengumumkan peningkatan dukungan konkret terhadap riset perguruan tinggi, termasuk penambahan alokasi dana riset dan inovasi nasional sebesar 50%, dari 8 triliun menjadi 12 triliun rupiah. Hal ini diharapkan menjadi amanah bagi kampus, dosen, dan para guru besar untuk berkontribusi signifikan bagi kemajuan bangsa.
Direktur Polinela, Dr. Dwi Puji Hartono, menilai Taklimat Presiden sebagai penegasan bahwa dunia akademik tidak dapat berdiri terpisah dari persoalan kebangsaan. Perguruan tinggi, termasuk Polinela, diharapkan hadir dalam ruang-ruang kebijakan melalui riset, pemikiran kritis, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Sinergi antara negara dan perguruan tinggi merupakan kunci agar pembangunan nasional benar-benar berpihak pada kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial,” ujar Dr. Dwi.
Taklimat Presiden 2026 menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pengawal arah pembangunan nasional sekaligus mitra kritis negara dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berkeadilan. Polinela menegaskan perannya dalam:
- Menghasilkan SDM unggul yang berkarakter dan berintegritas.
- Mengembangkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan bangsa.
- Berperan aktif dalam penguatan nilai kebangsaan dan kewarganegaraan.
Dengan komitmen ini, Polinela menegaskan posisinya sebagai lokomotif kemandirian ilmu dan teknologi, sejalan dengan visi nasional untuk menciptakan bangsa yang kuat, cerdas, dan berdaya saing global.














