INTERNASIONAL

Virus Nipah Kembali Serang India, Ancaman Mematikan dengan Risiko Kematian Tinggi

4
×

Virus Nipah Kembali Serang India, Ancaman Mematikan dengan Risiko Kematian Tinggi

Sebarkan artikel ini
Virus Nipah Kembali Mewabah di India, Risiko Kematian Capai 75%
Virus Nipah Kembali Mewabah di India, Risiko Kematian Capai 75%

Media90 – Dunia kesehatan global kembali dikejutkan oleh kemunculan “musuh lama” yang mematikan. India, negara yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai wabah penyakit zoonosis, kini melaporkan kembalinya Virus Nipah (NiV)—patogen berbahaya yang dikenal dengan tingkat kematian sangat tinggi.

Awal tahun 2026 menjadi periode kelabu bagi negara bagian Benggala Barat (West Bengal). Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi sedikitnya lima kasus infeksi baru, dengan situasi yang semakin mengkhawatirkan karena beberapa korban merupakan tenaga medis, termasuk dokter dan perawat, yang tertular saat menjalankan tugas.

Laporan terbaru menyebutkan sekitar 100 orang kini berada dalam karantina ketat karena diduga memiliki kontak erat dengan pasien terinfeksi. Di salah satu rumah sakit di Kolkata, seorang pasien dilaporkan dalam kondisi kritis, memicu kembali kekhawatiran akan keganasan virus yang hingga kini belum memiliki obat maupun vaksin khusus.

Mengenal “Sang Pembunuh Senyap”

Virus Nipah bukanlah ancaman baru, namun reputasinya selalu membuat para epidemiolog waspada. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan Nipah sebagai patogen berisiko tinggi karena potensinya memicu wabah besar.

Baca Juga:  BPJS Kesehatan Bandar Lampung Siaga Lebaran: Tetap Layani Peserta JKN Selama Libur Idulfitri

Nipah merupakan virus zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Inang alaminya adalah kelelawar buah dari famili Pteropodidae, yang banyak hidup di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Meski kasus infeksi pada manusia tergolong jarang, dampaknya sangat fatal. Tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) akibat virus Nipah dilaporkan berada di kisaran 40 hingga 75 persen, tergantung jenis strain dan kemampuan penanganan medis di wilayah terdampak. Angka ini jauh melampaui tingkat kematian COVID-19, menjadikan Nipah salah satu virus paling mematikan di dunia.

Gejala yang Menipu: Dari Flu hingga Koma

Salah satu tantangan utama dalam menangani virus Nipah adalah gejalanya yang sulit dikenali pada tahap awal. Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4 hingga 21 hari, bahkan bisa lebih lama pada kasus tertentu.

Baca Juga:  Iran Berhasil Lumpuhkan Starlink: Jamming Militer Guncang Narasi “Internet Tanpa Sensor”

Pada fase awal, penderita biasanya mengalami gejala umum yang menyerupai flu, seperti:

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Kelelahan ekstrem
  • Gangguan pernapasan, seperti batuk atau sesak napas

Namun, virus ini dapat berkembang dengan sangat cepat. Komplikasi paling berbahaya adalah radang otak (ensefalitis). Dalam hitungan hari, kondisi pasien bisa memburuk drastis, ditandai dengan pusing hebat, kebingungan, penurunan kesadaran, kejang-kejang, hingga koma dalam waktu 24–48 jam.

Bahkan bagi pasien yang berhasil selamat, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Penyintas Nipah kerap mengalami gangguan neurologis jangka panjang, seperti kejang berulang, gangguan kognitif, atau perubahan kepribadian. Dalam beberapa kasus, virus dapat bersifat dorman dan memicu ensefalitis kambuhan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah infeksi awal.

Jalur Penularan yang Harus Diwaspadai

Para ahli mengidentifikasi tiga jalur utama penularan virus Nipah ke manusia:

  1. Kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar buah atau hewan perantara seperti babi.
  2. Makanan yang terkontaminasi, seperti buah atau nira (air sadapan kurma atau aren) mentah yang tercemar air liur atau urine kelelawar.
  3. Penularan antarmanusia, melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita, termasuk darah, urine, dan air liur. Penularan di fasilitas kesehatan menjadi perhatian serius, terbukti dari kasus tenaga medis yang tertular di India.
Baca Juga:  Whipped Cream Kalengan Dibatasi Umur di New York, Imbas Maraknya Penyalahgunaan Nitrous Oxide

Belum Ada Obat, Pencegahan Jadi Kunci Utama

Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin yang secara khusus disetujui untuk mengatasi virus Nipah. Penanganan medis yang dilakukan masih bersifat suportif, yakni menjaga fungsi vital pasien sambil mengandalkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling efektif. Masyarakat diimbau untuk:

  • Menghindari konsumsi nira mentah langsung dari pohon, dan selalu merebusnya sebelum diminum
  • Mencuci dan mengupas buah dengan bersih, serta membuang buah yang memiliki bekas gigitan hewan
  • Menghindari kontak langsung dengan hewan liar atau orang yang sedang sakit tanpa pelindung
  • Menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci menggunakan sabun

Kembalinya wabah virus Nipah di India pada 2026 menjadi lampu kuning bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang juga memiliki populasi kelelawar buah cukup besar. Kewaspadaan tanpa kepanikan adalah langkah terbaik untuk melindungi diri, keluarga, dan masyarakat dari ancaman penyakit zoonosis yang mematikan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *