Media90 – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat mengalami puluhan kali gempa letusan dalam satu periode pengamatan terbaru.
Meski kondisi cuaca relatif cerah sehingga puncak gunung terlihat jelas, aktivitas erupsi masih terus terjadi. Masyarakat di sekitar kawasan pun diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya yang dapat muncul sewaktu-waktu.
24 Kali Gempa Letusan Tercatat
Berdasarkan hasil pemantauan aktivitas seismik, tercatat sebanyak 24 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo berkisar antara 12 hingga 22 mm, serta durasi gempa sekitar 73 hingga 139 detik.
Selain itu, beberapa jenis aktivitas kegempaan lain juga terdeteksi, antara lain:
- 3 kali gempa hembusan dengan amplitudo 4–6 mm
- 3 kali gempa harmonik dengan amplitudo 4–11 mm
- 1 gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 6 mm
- 3 gempa tektonik jauh dengan amplitudo hingga 31 mm
Rangkaian aktivitas ini menunjukkan bahwa dinamika magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung aktif.
Kondisi Cuaca di Kawasan Gunung
Selama periode pengamatan, kondisi cuaca di sekitar gunung terpantau cerah, sehingga puncak terlihat jelas. Beberapa parameter klimatologi yang tercatat meliputi:
- Cuaca: cerah
- Arah angin: lemah menuju utara
- Suhu udara: sekitar 20–22°C
Secara visual, asap kawah tidak teramati. Namun demikian, data seismik menunjukkan aktivitas erupsi masih terus terjadi.
Zona Bahaya Gunung Semeru
Pihak pemantau gunung api kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di zona rawan bencana yang telah ditetapkan.
Wilayah paling berbahaya berada di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan.
Masyarakat dilarang beraktivitas:
- Hingga jarak 13 kilometer dari puncak di sepanjang Besuk Kobokan
- Dalam jarak 500 meter dari tepi sungai, karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat mencapai 17 kilometer dari puncak
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak memasuki radius 5 kilometer dari kawah atau puncak gunung. Area tersebut berpotensi terdampak lontaran batu pijar jika terjadi letusan eksplosif.
Penduduk di sekitar lereng gunung diimbau tetap waspada terhadap berbagai potensi bahaya, seperti awan panas guguran, aliran lava, hingga lahar hujan.
Potensi bahaya tersebut terutama dapat mengalir melalui sejumlah sungai yang berhulu di puncak gunung, antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, anak-anak sungai dari Besuk Kobokan juga berpotensi menjadi jalur aliran lahar saat terjadi hujan di kawasan gunung.














