Media90 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi cuaca menjelang perayaan malam pergantian tahun 2026. Dalam laporan terbaru yang dirilis Selasa (30/12), BMKG memprediksi hujan dengan intensitas lebat masih akan mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia hingga hari pertama tahun baru. Fenomena ini dipicu oleh perpaduan dinamika atmosfer skala regional maupun global yang mendukung pembentukan awan hujan masif di berbagai wilayah nusantara.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat di tengah euforia perayaan malam pergantian tahun. Perubahan cuaca yang dapat terjadi secara mendadak membuat perencanaan aktivitas luar ruang, perjalanan wisata, hingga kegiatan ibadah perlu disertai pemantauan informasi cuaca secara real-time.
Fenomena La Niña, IOD Negatif, dan Siklon Tropis
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa kondisi iklim akhir 2025 dipengaruhi oleh La Niña lemah yang bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Kombinasi ini meningkatkan massa udara basah di Indonesia, diperkuat oleh suhu muka laut yang relatif hangat sebagai sumber penguapan air untuk pembentukan awan hujan.
Selain itu, BMKG memantau siklon tropis aktif, yaitu Siklon Grant di Samudra Hindia selatan Bengkulu dan Siklon Hayley di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB). Walaupun tidak langsung menghantam daratan, keberadaan siklon ini memicu pola pertemuan angin (konvergensi), yang mengonsentrasikan uap air dan meningkatkan intensitas hujan di beberapa provinsi.
Wilayah Berstatus Siaga dan Potensi Dampak
Berdasarkan analisis data meteorologi 29 Desember 2025–1 Januari 2026, BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di empat wilayah utama:
-
Aceh
-
Sumatera Utara
-
Bengkulu
-
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Masyarakat di wilayah ini juga diimbau mewaspadai dampak turunannya, seperti banjir dan tanah longsor, karena posisi geografis yang rawan.
Di luar wilayah siaga, sebagian besar Indonesia diprediksi mengalami kondisi berawan hingga hujan ringan, dengan hujan sedang berpotensi terjadi di Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua. BMKG juga memperingatkan potensi angin kencang di Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Maluku, hingga Papua Selatan.
Peran Gelombang Atmosfer Intra-Musiman
BMKG menambahkan faktor teknis lain berupa gelombang atmosfer intra-musiman, seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby Ekuator. Fenomena ini meningkatkan labilitas udara sehingga proses pengangkatan uap air menjadi awan hujan terjadi lebih intens, menjelaskan mengapa hujan tetap terjadi meski Monsun Asia telah dominan.
Digital Weather for Traffic (DWT) untuk Pemudik
Menyadari tingginya mobilitas masyarakat saat libur Natal dan Tahun Baru, BMKG menyediakan layanan Digital Weather for Traffic (DWT) yang terintegrasi di jalur transportasi utama. Melalui DWT, pemudik dapat memantau kondisi cuaca secara real-time, termasuk peringatan dini cuaca ekstrem. Masyarakat disarankan menggunakan aplikasi InfoBMKG atau situs resmi BMKG sebelum melakukan perjalanan.
Imbauan Mitigasi Bencana
BMKG menegaskan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat perlu melakukan langkah mitigasi bencana hidrometeorologi. Potensi banjir, tanah longsor, dan angin kencang menjadi ancaman nyata di wilayah rawan. Pemerintah daerah diimbau mengecek infrastruktur drainase serta kekuatan baliho atau pohon besar untuk mencegah korban jiwa. Dengan kewaspadaan tinggi, perayaan pergantian tahun 2026 diharapkan tetap aman meski menghadapi cuaca ekstrem di akhir 2025.














