Media90 – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menjadi perhatian setelah terpantau mengeluarkan asap cukup tebal dari kawah utamanya dalam periode pengamatan terbaru.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi melaporkan bahwa kondisi gunung api sempat tertutup kabut dengan tingkat visibilitas 0-I hingga 0-III. Meski demikian, pengamatan petugas tetap menunjukkan adanya aktivitas dari kawah utama.
Berdasarkan laporan tersebut, asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal terlihat membumbung hingga sekitar 100 meter di atas puncak Gunung Merapi.
Sementara itu, kondisi cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan dengan arah angin relatif tenang yang bergerak menuju barat. Situasi ini membuat pemantauan aktivitas gunung api tetap dilakukan secara intensif oleh petugas untuk memastikan tidak terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan.
Kondisi Cuaca dan Klimatologi di Sekitar Merapi
Dari sisi klimatologi, kondisi atmosfer di sekitar Gunung Merapi tercatat sebagai berikut:
- Cuaca: berawan
- Arah angin: tenang ke barat
- Suhu udara: sekitar 23,9 hingga 27°C
- Kelembaban udara: 62 – 66,5%
- Tekanan udara: 873,2 – 916 mmHg
Data tersebut menjadi bagian penting dalam pemantauan aktivitas gunung api secara menyeluruh, karena kondisi cuaca dapat memengaruhi pengamatan visual maupun potensi pergerakan material vulkanik.
Aktivitas Gempa Vulkanik Masih Terjadi
Selain pengamatan visual, aktivitas kegempaan juga masih terekam di sekitar Gunung Merapi.
Petugas mencatat beberapa jenis gempa vulkanik yang terjadi, di antaranya:
1. Gempa Guguran
Tercatat 28 kali gempa guguran dengan karakteristik:
- Amplitudo: 1–15 mm
- Durasi gempa: 47,11–154,37 detik
2. Gempa Hybrid atau Fase Banyak
Selain itu, terdapat 27 kali gempa hybrid atau fase banyak, dengan rincian:
- Amplitudo: 1–42 mm
- Selisih waktu S-P: 0,2–0,6 detik
- Durasi gempa: 12,63–39,72 detik
Aktivitas kegempaan ini menunjukkan bahwa proses suplai magma masih berlangsung di dalam tubuh gunung.
Potensi Bahaya di Sekitar Merapi
Menurut Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, potensi bahaya saat ini masih didominasi oleh guguran lava dan awan panas guguran (APG) yang dapat mengarah ke beberapa aliran sungai di sekitar Merapi.
Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain:
Sektor Selatan – Barat Daya
- Sungai Boyong hingga maksimal 5 km
- Sungai Bedog
- Sungai Krasak
- Sungai Bebeng hingga maksimal 7 km
Sektor Tenggara
- Sungai Woro hingga 3 km
- Sungai Gendol hingga 5 km
Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, material vulkanik diperkirakan dapat terlontar hingga radius sekitar 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
BPPTKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di kawasan yang termasuk dalam daerah potensi bahaya.
Beberapa hal yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain:
- Potensi awan panas guguran
- Bahaya lahar hujan saat terjadi hujan di kawasan puncak
- Gangguan abu vulkanik yang dapat memengaruhi aktivitas warga
Pemantauan aktivitas Gunung Merapi akan terus dilakukan secara intensif oleh petugas. Jika terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan, status gunung api tersebut akan segera ditinjau kembali oleh otoritas terkait.














