Media90 – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan. Pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 07.15 WIB, terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu terpantau mencapai sekitar 800 meter di atas puncak atau sekitar 4.476 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang mengarah ke utara. Kondisi ini menunjukkan aktivitas erupsi yang cukup signifikan dan perlu diwaspadai oleh masyarakat di sekitar kawasan gunung.
Erupsi tersebut juga terekam dalam alat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 22 mm dan durasi letusan selama 138 detik. Data ini mengindikasikan adanya tekanan magma yang masih aktif di dalam tubuh gunung.
Pihak berwenang mengingatkan bahwa erupsi dapat memicu berbagai potensi bahaya, antara lain:
- Awan panas guguran
- Aliran lava
- Lahar hujan di aliran sungai
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi sejumlah aliran sungai yang berhulu dari puncak, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Zona Bahaya yang Harus Dihindari
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di sejumlah wilayah rawan, khususnya:
- Sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak
- Area dalam radius 500 meter dari tepi sungai karena potensi lahar hingga 17 kilometer
- Radius 5 kilometer dari kawah atau puncak karena risiko lontaran batu pijar
Langkah ini dinilai penting untuk meminimalisir risiko akibat aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.
Imbauan untuk Warga
Warga di sekitar Gunung Semeru diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan yang dapat memicu aliran lahar. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk selalu mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait serta tidak memasuki wilayah berbahaya.
Dengan masih aktifnya aktivitas vulkanik, Gunung Semeru berpotensi mengalami erupsi lanjutan. Pemantauan terus dilakukan guna memastikan keselamatan masyarakat serta mengantisipasi perkembangan aktivitas gunung api ke depan.














