Media90 – Indonesia saat ini tengah berada di ambang penemuan besar yang berpotensi mengubah peta industri teknologi global. Tanah nusantara ternyata menyimpan Logam Tanah Jarang (LTJ), mineral yang dijuluki “mineral ajaib” karena perannya yang krusial bagi masa depan peradaban modern. Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan bahwa potensi strategis ini sudah mulai terpetakan di beberapa wilayah Indonesia.
Logam Tanah Jarang: Kunci Teknologi Tinggi
LTJ merupakan komponen inti yang tak tergantikan dalam pengembangan teknologi tinggi. Mineral ini menjadi bahan baku utama untuk mesin jet pesawat tempur, sistem persenjataan rudal, hingga perangkat komunikasi militer canggih. Selain sektor pertahanan, LTJ juga vital bagi industri komersial, mulai dari komponen elektronik, teknologi satelit, alat pelacak bawah laut, hingga sistem energi terbarukan.
Dengan penguasaan atas LTJ, posisi geopolitik Indonesia secara otomatis akan semakin kuat di mata dunia.
Riset Panjang dan Momentum Geopolitik
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, menjelaskan bahwa riset mengenai mineral ini telah berlangsung sejak 2008, melalui proyek kerja sama Indonesia–Jepang yang didanai Japan International Cooperation Agency (JICA).
“Riset logam tanah jarang di Indonesia bukan perkara baru. Penelitian sejak 2008 melalui proyek kerja sama Indonesia–Jepang,” ujar Lucas.
Ketertarikan dunia terhadap LTJ meningkat drastis setelah Tiongkok membatasi ekspor komoditas tersebut, memicu kekhawatiran global, terutama bagi negara industri seperti Jepang. Hal ini mendorong eksplorasi LTJ secara masif di kawasan ASEAN, dengan dukungan skema pendanaan dan beasiswa penelitian.
Potensi Geologi vs Realitas Produksi
Lucas menekankan pentingnya membedakan antara potensi geologi dan realitas produksi. Saat ini, LTJ di Indonesia masih berada pada tahap eksplorasi dan pengujian keekonomian. Pemerintah belum mengeluarkan izin usaha pertambangan khusus untuk LTJ, mencerminkan sikap kehati-hatian sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.
“Indonesia memang relatif tertinggal, tetapi itu juga karena kehati-hatian kebijakan pemerintah,” tegas Lucas.
Sementara negara tetangga seperti Myanmar, Laos, dan Vietnam telah mulai produksi, Indonesia memilih pendekatan hati-hati agar pengelolaan mineral ini memberikan manfaat optimal bagi kedaulatan nasional.
Mamuju: Titik Fokus Pilot Project Nasional
Salah satu wilayah paling prospektif adalah Mamuju, Sulawesi Barat, yang direncanakan menjadi proyek percontohan hilirisasi LTJ. Awalnya, daerah ini diteliti oleh BATAN karena adanya anomali radioaktif, namun penelitian lebih lanjut menemukan kandungan LTJ sangat tinggi.
Selain Mamuju, penelitian UGM juga menemukan potensi LTJ di Bangka Belitung, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, mempertegas posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan mineral kritis yang dibutuhkan dunia jangka panjang.
Tantangan Teknologi Ekstraksi
Tantangan terbesar bukan hanya menemukan sumber daya, tetapi menguasai teknologi ekstraksi. LTJ memiliki karakter unik dan sering berasosiasi dengan unsur radioaktif. Karena karakter mineral berbeda di tiap lokasi, metode pengolahannya pun harus spesifik dan memerlukan teknologi tingkat tinggi.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) untuk mengoordinasikan riset dan menyelaraskan kebijakan mineral strategis. Kolaborasi antara akademisi dan pemerintah diharapkan membuat Indonesia mampu mengolah LTJ secara mandiri di masa depan.














