Media90 – Polemik yang melibatkan seorang karyawan SPPG di wilayah Purbalingga akhirnya berujung pada pemberhentian dari posisinya sebagai relawan. Keputusan ini diambil setelah unggahan story WhatsApp miliknya viral dan memicu reaksi keras dari netizen.
Berdasarkan tangkapan layar klarifikasi yang beredar, pihak penyelenggara menyatakan bahwa karyawan tersebut telah diberikan sanksi. Dalam pesannya, pihak penyelenggara menulis:
“Berikut klarifikasi yang bersangkutan, dan untuk tindak lanjutnya beliau diberikan sanksi di berhentikan menjadi relawan SPPG, mohon untuk dishare nggeh terimakasih banyak atas kerja samanya dan mohon maaf sekali lagi untuk kegaduhan yang terjadi.”
Setelah polemik semakin meluas di media sosial, yang bersangkutan kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat. Permintaan maaf tersebut juga diunggah melalui story WhatsApp dan menyebar luas di berbagai platform.
Dalam pernyataannya, ia mengakui bahwa tulisan sebelumnya merupakan kesalahan dan telah menyakiti banyak orang:
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Mengenai postingan saya yang pada akhirnya membuat gaduh, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya menyadari dan mengakui bahwa apa yang telah saya tulis memanglah tidak benar. Bahasa yang telah saya pakai sangatlah tidak pantas. Apabila kata-kata saya menyakiti saudara semua, dari lubuk hati yang paling dalam dan dengan setulus hati, saya memohon maaf. Ini akan menjadi pelajaran bagi saya agar berhati-hati dalam bertindak, berbicara, atau memilih kata. Sekali lagi saya memohon maaf.”
Ia juga menyebut kejadian ini sebagai pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan menggunakan kata-kata di ruang publik.
Sebelumnya, publik di media sosial ramai membahas unggahan story WhatsApp milik karyawan tersebut yang dianggap merendahkan masyarakat. Kalimat yang viral,
“Peregangan sik, sebelum menghadapai komentar rakyat jelata yang kurang bersyukur, ehh,”
memicu kritik luas dari banyak pihak dan menjadi bahan perdebatan di berbagai platform media sosial.
Kontroversi ini akhirnya ditutup dengan permintaan maaf dari yang bersangkutan serta keputusan pemberhentian dari pihak penyelenggara, sebagai bentuk respons terhadap kegaduhan yang terjadi di masyarakat.














