NASIONAL

Ketua RT di Jakarta Timur Tembus Panggung Dunia, Inovasi Selokan Jadi Kolam Lele Diundang TV China ke Beijing

6
×

Ketua RT di Jakarta Timur Tembus Panggung Dunia, Inovasi Selokan Jadi Kolam Lele Diundang TV China ke Beijing

Sebarkan artikel ini
Kreatif! Ketua RT di Jaktim Sulap Selokan Jadi Kolam Lele, Diundang TV China ke Beijing
Kreatif! Ketua RT di Jaktim Sulap Selokan Jadi Kolam Lele, Diundang TV China ke Beijing

Media90 – Siapa sangka, sebuah gang sempit di wilayah Jakarta Timur kini menjelma menjadi sorotan dunia internasional. Sosok di balik transformasi tersebut adalah Taufiq Supriadi, Ketua RT 008/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit. Melalui berbagai inovasi lingkungan yang visioner dan berdampak nyata, Taufiq berhasil mengharumkan nama Indonesia hingga mendapat undangan resmi dari Pemerintah Republik Rakyat China untuk tampil di stasiun televisi pemerintah, CCTV, di Beijing.

Pencapaian ini dinilai sangat fenomenal, bahkan mencetak sejarah baru dalam praktik kepemimpinan di tingkat paling bawah pemerintahan Indonesia. Duta Besar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, menyebut bahwa belum pernah ada sebelumnya seorang ketua RT mendapat kehormatan undangan resmi dari pemerintah China.

Hal ini menegaskan bahwa diplomasi rakyat tidak selalu dimulai dari ruang-ruang elite, melainkan bisa lahir dari lorong sempit pemukiman warga, seperti yang terjadi di Malaka Jaya. Inovasi berbasis komunitas ini pun menjadi inspirasi lintas negara.

Inovasi “Selokan Dua Lantai” Bernilai Ekonomi Tinggi

Gagasan besar Taufiq bermula dari keterbatasan ruang terbuka hijau di kawasan permukiman padat Jakarta. Terinspirasi dari sistem saluran air di Tokyo, Jepang, serta konsep drainase di Institut Pertanian Bogor (IPB), ia menyulap saluran air bawah tanah (u-ditch) menjadi kolam budidaya ikan lele yang produktif.

Baca Juga:  Kemitraan Menyelaraskan Langkah! Diskusi BEM IIB Darmajaya Bersama Pemprov, Korem, dan Polda Lampung Bahas Isu Jalan

Beton saluran air setinggi 60 sentimeter dimodifikasi menjadi sistem “dua lantai”. Bagian bawah setinggi 35 sentimeter tetap berfungsi sebagai aliran air hujan, sementara bagian atas setinggi 25 sentimeter dimanfaatkan sebagai kolam lele. Inovasi ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Satu kolam mampu menghasilkan sekitar 800 kilogram lele dalam satu kali panen. Dengan harga jual Rp25 ribu per kilogram, potensi pendapatan mencapai Rp20 juta per panen. Dalam setahun, panen bisa dilakukan hingga empat kali, sehingga nilai ekonomi kotor per kolam dapat mencapai Rp80 juta.

Keuntungan tersebut dikelola secara transparan dan berkeadilan. Kelompok tani menerima Rp2 juta, pemilik rumah Rp400 ribu, kas RT/RW Rp400 ribu, sementara sisanya dialokasikan untuk koordinator dan penjaga kolam.

Baca Juga:  Upaya Pemerintah Mengawasi Rehabilitasi Mangrove Green Belt Tambak Dipasena Melalui Survei Kerusakan dan Reboisasi Ratusan Hektare

Memberdayakan Warga dan Perkuat Ketahanan Gizi

Dampak sosial dari gerakan ini terasa nyata di Gang 8 Nusa Indah IV. Taufiq telah menginisiasi lebih dari 43 program lingkungan, mulai dari komposter komunal, sistem akuaponik, pemasangan CCTV, hingga pemanfaatan lampu tenaga surya.

Program tersebut berhasil menciptakan lapangan kerja lokal. Setidaknya enam warga yang sebelumnya menganggur kini memiliki penghasilan tetap sebagai pengelola kolam dan petugas keamanan lingkungan.

Tak hanya berorientasi bisnis, Taufiq juga menggagas “Kolam Gizi Warga” yang berisi ikan nila dan bawal. Hasil panennya dibagikan secara gratis kepada balita dan lansia sebagai upaya mendukung pencegahan stunting dan penguatan ketahanan pangan perkotaan.

Ia memastikan seluruh inovasi tersebut tetap menjaga fungsi lingkungan. Selama lebih dari 22 tahun, sistem drainase di wilayah tersebut tetap berfungsi optimal dan tidak menimbulkan banjir, meskipun digunakan untuk budidaya ikan.

“Kami akan terus belajar dan berbenah. Target kami adalah swasembada energi dan pangan di tingkat RT sebagai dukungan nyata terhadap SDGs, Asta Cita Pemerintah, serta komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk ‘Jaga Jakarta’,” ujar Taufiq.

Baca Juga:  Krui Pro WSL Usai: Peselancar Australia dan Jepang Rebut Gelar Juara, Indonesia Kuasai Kategori Junior

Laboratorium Hidup dari Gang Sempit Jakarta

Keberhasilan RT 08 Malaka Jaya kini terdokumentasi dalam sebuah buku berjudul “Suara-suara dari Pos Ronda”. Selain itu, pengelolaan data warga telah dilakukan secara digital melalui situs resmi RT yang terintegrasi dengan gagasan Pusat Data Nasional Pencegah Krisis Planet.

Data berbasis akar rumput ini menjadi rujukan penting dalam perumusan strategi menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim di masa depan. Inovasi tersebut menarik perhatian berbagai pihak, mulai dari yayasan sosial, komunitas disabilitas, hingga kementerian.

Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) melalui Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan, Dr. Sri Haryati, bahkan turun langsung untuk melihat bagaimana nilai-nilai SDGs diwujudkan secara konkret oleh warga. Prestasi ini juga diperkuat dengan diraihnya rekor MURI serta sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Amerika Serikat.

Melalui kiprahnya, Taufiq Supriadi membuktikan bahwa diplomasi kemanusiaan sejati lahir dari aksi lokal yang tulus, konsisten, dan berdampak luas bagi kemajuan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *