NASIONAL

Kontroversi MBG Klaten: Makanan Diduga Basi Berujung Jadi Pakan Ternak

Luluk RJMP
50
×

Kontroversi MBG Klaten: Makanan Diduga Basi Berujung Jadi Pakan Ternak

Sebarkan artikel ini
Heboh di Klaten Menu MBG Diduga Basi Netizen Soroti Kondisi Tak Layak

Media90 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas untuk meningkatkan asupan gizi siswa justru menuai kritik tajam di wilayah Pedan, Klaten.

Kasus ini mencuat setelah unggahan viral di media sosial mengungkap dugaan kualitas makanan yang tidak layak konsumsi. Informasi awal dibagikan melalui akun Instagram @klatenkita.

Ads
close ads

Dalam laporan tersebut, paket makanan yang disalurkan oleh pihak SPPG Kaligawe Pedan selama bulan Ramadan dinilai tidak memenuhi standar gizi yang diharapkan. Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi ketika menu seperti dimsum dan bakso ditemukan diduga dalam keadaan basi. Demi menjaga kesehatan siswa, pihak sekolah memilih untuk tidak membagikan makanan tersebut.

Baca Juga:  Kormi Lampung Mematok Lima Besar dengan Mengirimkan 806 Atlet dan Official ke Fornas VII di Jawa Barat!

Yang menjadi sorotan publik adalah perlakuan terhadap makanan yang tidak layak ini. Dalam dokumentasi yang beredar, terlihat bakso dan dimsum dimasak ulang, bukan untuk dikonsumsi manusia, melainkan dijadikan pakan ternak.

“Digodok umpan mentok. Sungguh terlalu,” tulis salah satu netizen.

Selain masalah kesegaran makanan, laporan warga juga menyoroti dugaan lain terkait pelaksanaan program MBG, antara lain:

  • Abon yang dibagikan berbau tengik dan mendekati basi.
  • Tahu bakso diduga lebih banyak tepung dibandingkan daging.
  • Menu harian dinilai kurang variatif, didominasi kacang-kacangan dan roti kopong.
  • Buah yang diberikan berukuran kecil dan kurang layak.
  • Dugaan pengemasan ulang oleh pihak ketiga tanpa kontrol kualitas.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan besar terkait pengawasan dan standar pelaksanaan program MBG di lapangan. Unggahan viral tersebut telah mendapat ribuan respons dari masyarakat, dengan banyak pihak mendesak instansi terkait segera melakukan tindakan.

Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan setempat diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk audit terhadap distribusi dan kualitas makanan dalam program MBG.

Kasus ini menjadi peringatan penting bahwa program bantuan pangan, terutama untuk anak-anak, membutuhkan pengawasan ketat dari hulu ke hilir. Transparansi, kualitas bahan, dan distribusi yang tepat harus menjadi prioritas utama agar tujuan program benar-benar tercapai, yakni meningkatkan gizi dan kesehatan siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *