NASIONAL

Megathrust Bisa “Meledak” Kapan Saja: Waspada Tsunami di Jawa dan Sumatra

5
×

Megathrust Bisa “Meledak” Kapan Saja: Waspada Tsunami di Jawa dan Sumatra

Sebarkan artikel ini
Megathrust Siap “Meledak”: Jawa dan Sumatra Waspada Tsunami
Megathrust Siap “Meledak”: Jawa dan Sumatra Waspada Tsunami

Media90 – Memasuki awal tahun 2026, kewaspadaan nasional terhadap bencana alam meningkat tajam. Laporan terbaru dari CNBC Indonesia menyoroti potensi “ledakan” energi dari zona Megathrust yang dapat terjadi kapan saja, tanpa peringatan dini yang panjang. Indonesia, yang dikepung 13 hingga 14 segmen Megathrust aktif, kini menghadapi risiko guncangan hebat yang tidak hanya merusak infrastruktur akibat gempa, tetapi juga berpotensi memicu tsunami dahsyat di pesisir padat penduduk di Pulau Sumatra dan Jawa.

Para ilmuwan khawatir karena beberapa segmen belum melepaskan energinya dalam skala besar selama puluhan hingga ratusan tahun, yang dikenal sebagai seismic gap. Akumulasi energi ini ibarat “bom waktu geologis” yang siap meledak, memicu pergerakan lempeng tektonik dan memindahkan volume air laut masif ke daratan.

Segmen Enggano dan Selat Sunda: Titik Paling Kritis

Fokus utama peringatan awal 2026 adalah Segmen Enggano di Sumatra dan wilayah Selat Sunda. Pemodelan terbaru menunjukkan kedua wilayah ini saling terkait. Jika Segmen Enggano patah, efek domino energinya bisa menjalar hingga Selat Sunda dan Selatan Jawa bagian Barat.

Baca Juga:  Isu Bjorka Kembali Ramai, Akun @bjorkanism Tulis Sindiran Tajam di Instagram

Wilayah Selat Sunda menjadi krusial karena merupakan jalur logistik dan pariwisata tersibuk di Indonesia. Para ahli BRIN menekankan, jika gempa Megathrust terjadi di sini, dampaknya tidak terbatas pada satu provinsi. Lampung dan Banten akan menjadi wilayah pertama yang terdampak, karena posisi geografisnya yang langsung menghadap samudera lepas dan celah sempit selat.

Prediksi Tinggi Gelombang Tsunami dan Waktu Tiba

Dampak paling mematikan dari gempa Megathrust bukan guncangan saja, melainkan tsunami. Berdasarkan skenario terburuk, tinggi gelombang di pesisir Banten diprediksi mencapai 4–8 meter. Untuk wilayah ekstrem seperti Ujung Kulon, gelombang bahkan bisa mencapai 34 meter.

Di Lampung, terutama pesisir yang langsung menghadap Selat Sunda, dampaknya akan menyeluruh. Waktu tiba gelombang (arrival time) juga mengkhawatirkan: di Lebak, Banten, gelombang diperkirakan sampai hanya 18 menit setelah gempa. Sementara pesisir Selatan Jawa hanya memiliki sekitar 40 menit sebelum gelombang pertama menghantam.

Baca Juga:  Fenomena Langka! Ratusan Ikan Muncul di Daratan Kota Agung Tanggamus, Begini Penjelasan Polairud dan BMKG

Ancaman Untuk Jakarta

Meskipun Jakarta tidak langsung menghadap samudera selatan, ibu kota tetap berisiko. Gelombang tsunami bisa masuk melalui celah Selat Sunda dan mencapai Teluk Jakarta. Meskipun energi gelombang menurun saat sampai di Jakarta, ketinggian 1–1,8 meter tetap berpotensi menimbulkan banjir rob, merusak infrastruktur, dan memutus akses vital. Wilayah Jakarta Utara diprediksi menjadi yang pertama merasakan dampak kenaikan air laut ini.

Estimasi waktu tsunami ke Jakarta sekitar 2,5 jam setelah gempa utama, cukup untuk evakuasi jika warga dan pemerintah tanggap.

Mitigasi: Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan

BMKG dan pakar seismologi, termasuk Pepen Supendi, menekankan bahwa publikasi data gempa Megathrust bukan untuk menimbulkan panik. Informasi ini untuk memperkuat mitigasi bencana, meningkatkan kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat.

Baca Juga:  Gubernur Menerima Penghargaan Sebagai Pembina Terbaik dalam Teknologi Tepat Guna dan Posyantek Nasional 2023

BPBD diinstruksikan memastikan jalur evakuasi aman, rambu tsunami terlihat jelas, dan sistem Early Warning System (EWS) aktif 24 jam. Infrastruktur pesisir juga disarankan mempertimbangkan ketahanan terhadap tsunami, seperti menanam mangrove sebagai peredam alami dan membangun struktur pelindung pantai yang lebih kokoh.

Hidup Berdampingan dengan Potensi Bencana

Indonesia memang hidup berdampingan dengan potensi bencana Megathrust. Namun, kemajuan teknologi pemodelan dari BRIN dan BMKG membuat kita tidak lagi “buta” terhadap ancaman tersebut.

Peringatan awal Januari 2026 ini harus menjadi momentum bagi masyarakat pesisir Sumatra dan Jawa untuk:

  • Mempelajari prosedur keselamatan diri

  • Menyiapkan tas siaga bencana

  • Selalu memperbarui informasi dari kanal resmi pemerintah

Ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari seberapa tanggap dan disiplin masyarakat dalam merespons setiap peringatan dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *