Media90 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap pengalaman kurang menyenangkan yang ia alami di media sosial. Ia mengaku menjadi sasaran kritik hingga makian dari netizen di TikTok setelah nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Cerita tersebut disampaikan Purbaya saat konferensi pers APBN KiTA yang digelar di Jakarta pada Rabu (11/3/2026).
Rupiah Melemah, Netizen Ramai Kritik
Dalam kesempatan itu, Purbaya mengatakan banyak pengguna media sosial yang meluapkan kekesalan mereka kepada pemerintah terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, sejumlah komentar bahkan secara langsung menyindir kinerjanya sebagai Menteri Keuangan.
“Ada yang bilang, ‘Hei Pak Purbaya, Menteri Keuangan kerjanya apa saja, tuh rupiah dilihatin,’” ujar Purbaya menirukan salah satu komentar netizen.
Ia mengaku cukup sering menerima kritik semacam itu, terutama ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan di pasar global.
Pelemahan Rupiah Dipengaruhi Faktor Global
Purbaya menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi domestik. Menurutnya, dinamika global juga memiliki peran besar dalam menentukan arah pergerakan mata uang.
Salah satu faktor yang disebut adalah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional, termasuk konflik yang melibatkan Iran yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan dunia.
Kondisi tersebut membuat banyak mata uang negara berkembang mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi Rupiah Dinilai Masih Relatif Stabil
Meski sempat melemah, Purbaya menilai kondisi rupiah masih relatif stabil dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia.
Ia menyebut depresiasi rupiah hanya sekitar 0,3 persen terhadap dolar AS sejak ketegangan geopolitik tersebut meningkat. Angka ini dinilai lebih baik dibandingkan pelemahan mata uang di beberapa negara lain seperti Malaysia dan Thailand yang mengalami tekanan lebih besar.
Menurutnya, menilai kondisi ekonomi tidak cukup hanya melihat level nilai tukar semata, tetapi juga perlu memperhatikan seberapa besar pelemahan yang terjadi.
Optimistis Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Purbaya juga mengajak masyarakat melihat kondisi ekonomi Indonesia secara lebih objektif dengan membandingkannya secara global. Ia menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan moneter Indonesia hingga saat ini masih dinilai solid oleh pasar.
Dengan fundamental ekonomi yang terus membaik, ia optimistis kondisi pasar keuangan domestik akan kembali menguat dalam waktu mendatang.
Bahkan, ia memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali naik jika stabilitas ekonomi tetap terjaga.
“Kalau fundamental ekonomi kita baik terus, pelan-pelan saham akan naik lagi ke level yang lebih baik dari sekarang,” ujar Purbaya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS tidak dapat sepenuhnya disalahkan kepada pemerintah, karena banyak faktor global yang turut memengaruhi pergerakan mata uang di pasar internasional.














