Media90 – Perbincangan hangat muncul di media sosial setelah beredar tangkapan layar story WhatsApp yang diduga milik seorang karyawan SPPG di wilayah Purbalingga. Unggahan ini memancing perhatian publik karena menggunakan istilah yang dinilai merendahkan masyarakat.
Istilah “rakyat jelata” dalam unggahan tersebut dianggap tidak pantas, terutama karena dikaitkan dengan kritik masyarakat terhadap menu dalam program MBG.
Dalam story WhatsApp yang beredar, pemilik akun menuliskan:
“Peregangan sik, sebelum menghadapai komentar rakyat jelata yang kurang bersyukur, ehh,”
Unggahan itu juga disertai emoji menahan tawa serta emoji tangan peace.
Meski identitas akun tidak ditampilkan secara jelas dalam tangkapan layar, isi pesan tersebut cepat menyebar dan menjadi bahan diskusi di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna menilai ucapan tersebut tidak mencerminkan sikap yang seharusnya dimiliki oleh pihak yang terlibat dalam program pelayanan masyarakat.
Sejumlah netizen menyoroti bahwa program MBG didanai oleh anggaran negara yang bersumber dari pajak masyarakat. Beberapa komentar yang muncul antara lain:
- “Kalian itu yg harusnya bersyukur dapet kerjaan. Kalau MBG stop, kalian udh ga dapet gaji lagi dari pajak rakyat. Jadi sebetulnya yg perlu dikasihani itu kalian.”
- “Uang gajimu dari uang rakyat bisa diartikan siapa yang rakyat jelata?”
Selain kritik terhadap isi unggahan, sebagian netizen juga meminta adanya evaluasi terhadap pihak yang terlibat dalam program MBG. Mereka menilai bahwa sikap dan cara berkomunikasi di ruang publik perlu diperhatikan, terutama jika berkaitan dengan program yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai unggahan yang memicu perdebatan tersebut.














