Media90 – Kasus viral yang menyeret salah satu gerai Mie Gacoan di Marelan kembali menjadi sorotan publik. Percakapan WhatsApp antara karyawan dan atasannya dinilai mencerminkan minimnya empati di dunia kerja, sehingga memicu reaksi luas dari masyarakat.
Peristiwa ini mencuat setelah tangkapan layar percakapan tersebut beredar di media sosial, khususnya Facebook. Dalam percakapan itu, seorang karyawan bernama Dwi Febrian mengajukan izin tidak masuk kerja karena harus menjaga orang tuanya yang sedang sakit.
Namun, respons dari atasannya, Zainul Ahmad, justru menuai kontroversi. Permintaan izin tersebut tidak hanya ditolak, tetapi juga disertai anjuran agar sang karyawan mengundurkan diri setelah Lebaran.
Unggahan tersebut langsung viral dan dibanjiri komentar dari netizen. Banyak yang menyayangkan sikap atasan tersebut, karena dinilai tidak menunjukkan empati terhadap kondisi darurat yang dialami karyawan.
“Ini orang tua sakit, minta izin malah disuruh resign,” tulis salah satu warganet, mencerminkan kekecewaan publik terhadap perlakuan tersebut.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Dwi Febrian telah bekerja selama sekitar tiga tahun, sementara atasannya baru menjabat sekitar tiga bulan. Fakta ini semakin memperkuat simpati publik terhadap karyawan tersebut.
Tak sedikit netizen yang menilai tindakan supervisor tersebut tidak mencerminkan nilai kemanusiaan, bahkan dianggap sebagai bentuk tekanan psikologis terhadap karyawan. Desakan pun muncul agar pihak manajemen segera mengambil langkah tegas dan memperbaiki sistem komunikasi internal perusahaan.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Menanggapi polemik yang semakin meluas, pihak Mie Gacoan akhirnya turun tangan. Supervisor terkait diketahui mendatangi langsung kediaman karyawan di Dusun 6 Kota Rantang, Desa Buluh China, untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Pertemuan tersebut berlangsung dengan disaksikan keluarga serta perwakilan manajemen. Dalam kesempatan itu, Zainul Ahmad menyampaikan permintaan maaf dan mengakui kesalahannya atas respons yang dinilai tidak pantas.
Manajemen menegaskan bahwa kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi internal agar ke depan kebijakan perusahaan lebih mengedepankan empati, terutama dalam kondisi darurat yang menyangkut kemanusiaan.














