Media90 – Perjalanan mudik selalu meninggalkan kisah tersendiri bagi tiap pemudik. Salah satunya dialami oleh Fani Yulia Susyanti, warga Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, yang membagikan pengalaman perjalanan mudiknya menuju Kota Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Bersama lima anggota keluarganya, termasuk adik berusia tiga tahun, Fani menempuh perjalanan selama 19 jam menggunakan minibus. Ia berangkat dari rumahnya pada Rabu, 18 Maret pukul 24.00 WIB, dan baru tiba di rumah sang nenek di Klaten pada Kamis, 19 Maret pukul 19.00 WIB.
“Perjalanan tahun ini paling parah. Biasanya enggak selama ini,” ujarnya.
Macet Panjang Sejak Tol Jakarta–Cikampek
Kepadatan mulai dirasakan saat memasuki wilayah Bekasi, tepatnya di akses Tol Jakarta–Cikampek (Japek). Arus lalu lintas yang padat terus berlanjut hingga jalur utama Jalan Layang MBZ. Melihat kondisi jalan layang yang sangat padat dan sempat diberlakukan sistem buka-tutup akses, keluarga Fani memilih untuk menempuh jalur bawah Tol Japek.
“Kita nggak lewat MBZ, soalnya kelihatan macet banget,” jelas Fani.
Di titik pertemuan arus menuju Karawang dan Cikampek, kendaraan hanya bisa bergerak perlahan akibat tingginya volume pemudik. Kondisi serupa terjadi di ruas Tol Cipali, terutama di sekitar rest area yang dipenuhi kendaraan. Antrean kendaraan yang hendak masuk rest area bahkan meluber hingga ke badan jalan, membuat kemacetan makin parah.
“Rest area penuh semua. Banyak mobil berhenti di pinggir jalan, jadi makin macet,” tambah Fani.
Kelelahan dan Tantangan Perjalanan
Perjalanan panjang ini menimbulkan tantangan serius bagi pengemudi dan penumpang. Ayah Fani, yang menjadi pengemudi utama, sempat mengantuk karena terlalu lama menyetir di tengah kondisi lalu lintas yang nyaris tidak bergerak.
Selain itu, minimnya fasilitas umum membuat beberapa penumpang terpaksa buang air kecil di pinggir jalan, menambah ketidaknyamanan perjalanan.
Waktu Tempuh Membengkak
Secara umum, kemacetan panjang terjadi di sejumlah titik, mulai dari Bekasi, Tol Jakarta–Cikampek, akses Jalan Layang MBZ, hingga sepanjang Tol Cipali. Waktu tempuh yang biasanya hanya beberapa jam membengkak hingga dua hingga tiga kali lipat.
Meski penuh kelelahan dan ketidaknyamanan, Fani dan keluarganya bersyukur akhirnya tiba di kampung halaman dengan selamat.
“Ini mudik paling capek dan paling lama. Biasanya dari Serang ke Klaten paling lama 10 jam. Tahun ini 19 jam,” ungkapnya.














