TEKNO

AI “Slop” Banjiri YouTube, Indonesia Masuk 10 Besar Penonton Terbanyak

91
×

AI “Slop” Banjiri YouTube, Indonesia Masuk 10 Besar Penonton Terbanyak

Sebarkan artikel ini
Waspada! Video AI "Slop" Meledak di YouTube, Indonesia Masuk 10 Besar
Waspada! Video AI "Slop" Meledak di YouTube, Indonesia Masuk 10 Besar

Media90 – Konten video Artificial Intelligence (AI) berkualitas rendah kini membanjiri YouTube. Riset terbaru menunjukkan lebih dari 20 persen video yang direkomendasikan oleh YouTube untuk pengguna baru masuk kategori “AI Slop”. Istilah ini merujuk pada karya digital massal yang dibuat menggunakan AI tools, seringkali tidak jelas dan dibuat semata-mata sebagai clickbait untuk menarik perhatian pengguna internet.

Penemuan ini berasal dari riset Kapwing, perusahaan video editing yang menganalisis 15.000 kanal YouTube terpopuler di dunia, termasuk 100 kanal teratas dari setiap negara. Hasilnya, sebanyak 278 kanal diidentifikasi sebagai pembuat AI Slop.

Naiknya Konten “Brainrot”

Untuk memahami pola algoritma, Kapwing membuat beberapa akun YouTube baru. Dari 500 video yang muncul di timeline, sekitar 104 video (20 persen) dikategorikan AI Slop. Menariknya, sepertiga dari video ini masuk kategori “Brainrot”, yakni konten absurd dan repetitif yang hampir tidak memiliki makna, berpotensi merusak fokus dan mental audiens.

Baca Juga:  Teknologi NVIDIA RTX Menghantarkan AI Generatif ke Jutaan PC, Mendorong Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Produktivitas Sehari-hari

Meski kualitasnya rendah, kanal AI Slop berhasil mengumpulkan lebih dari 63 miliar penayangan dan 221 juta subscriber secara global. Kapwing memperkirakan pendapatan iklan tahunan dari konten ini bisa mencapai USD 117 juta, setara sekitar Rp1,9 triliun.

Indonesia: Pusat Utama Pelanggan AI Slop

Fenomena AI Slop bersifat global, namun beberapa negara menonjol dalam jumlah pelanggan dan penayangan. Indonesia berada di peringkat 10 untuk jumlah pelanggan kanal AI Slop tertinggi di dunia, dengan sekitar 8,57 juta subscriber. Meskipun bukan 5 besar global, Indonesia menjadi konsumen AI Slop terbesar di ASEAN, jauh di atas Vietnam yang menempati peringkat 15.

Dari sisi jumlah penayangan, Indonesia menempati peringkat ke-9 di dunia dengan sekitar 1,7 miliar views. Korea Selatan memimpin dengan 11 kanal dan total 8,45 miliar penayangan, disusul Pakistan, Amerika Serikat, dan Spanyol.

Baca Juga:  Kepo Pengen Pakai Alat AI GPT-4 Turbo Gratis? Cobain Aja Copilot!

Ketidakjelasan yang Menguntungkan

Kanal AI Slop mampu menghasilkan pendapatan fantastis. Contohnya, Bandar Apna Dost dari India yang berisi cerita absurd, menghasilkan sekitar USD 4,25 juta (Rp71 miliar) per tahun. Kanal lain termasuk Three Minutes Wisdom (Korea Selatan) menghasilkan USD 4,03 juta (Rp67,3 miliar) dan Pouty Frenchie (Singapura) menargetkan anak-anak dengan video anjing buldog di “hutan permen”, menghasilkan hampir USD 4 juta (Rp66,8 miliar).

Mayoritas kreator berasal dari negara berupah menengah seperti India, Nigeria, Brazil, dan Vietnam, di mana pendapatan dari YouTube lebih menjanjikan daripada gaji lokal.

Kenapa Hal Ini Terjadi?

Kepopuleran AI Slop didorong oleh kemudahan konsumsi. Video tanpa alur kompleks mudah dinikmati, membuat algoritma media sosial memprioritaskan engagement tinggi dan durasi tonton lama. Kini berkembang “industri” AI Slop, dengan komunitas di Telegram, WhatsApp, dan Discord berbagi tips membuat video AI massal. Kreator fokus pada kuantitas ketimbang kualitas untuk memaksimalkan pendapatan iklan.

Baca Juga:  Camon 20 Pro 5G: Teknologi AI Unggulan untuk Kamera Selfie Terbaru dari Tecno

Tanggapan YouTube

YouTube menegaskan bahwa AI adalah alat yang bisa digunakan untuk konten berkualitas tinggi maupun rendah. Platform berkomitmen menyingkirkan video yang melanggar community guidelines, baik dibuat manusia maupun AI.

Meski begitu, dengan produksi konten AI yang terus meningkat, garis antara hiburan “sungguhan” dan digital noise semakin buram. Bagi penonton, terutama di negara pengonsumsi tinggi seperti Indonesia, tantangannya kini adalah berpikir kritis agar tidak terjebak dalam fenomena “brainrot”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *