TEKNO

Aplikasi Tokopedia Dikabarkan Akan Tutup, ByteDance Siapkan TikTok Shop Standalone

5
×

Aplikasi Tokopedia Dikabarkan Akan Tutup, ByteDance Siapkan TikTok Shop Standalone

Sebarkan artikel ini
Tokopedia Dikabarkan Akan Ditutup, ByteDance Siapkan TikTok Shop Versi Mandiri
Tokopedia Dikabarkan Akan Ditutup, ByteDance Siapkan TikTok Shop Versi Mandiri

Media90 – Dunia perdagangan digital Indonesia tengah diguncang kabar mengejutkan. Aplikasi Tokopedia, yang selama lebih dari satu dekade menjadi ikon belanja daring nasional, dikabarkan akan segera dipensiunkan. Sebagai gantinya, ByteDance selaku pemilik mayoritas saham Tokopedia dilaporkan tengah menyiapkan aplikasi belanja mandiri (standalone) untuk TikTok Shop yang terpisah dari ekosistem media sosial TikTok.

Kabar ini pertama kali mencuat melalui laporan internal yang beredar di kalangan industri dan diperkuat oleh informasi dari sejumlah sumber yang mengetahui rencana transisi tersebut. Disebutkan bahwa tim teknologi Tokopedia dan TikTok E-commerce Indonesia telah menerima arahan untuk mulai mengembangkan aplikasi khusus TikTok Shop sebagai platform utama ke depan.

Langkah ini dipandang sebagai strategi ByteDance untuk menyatukan infrastruktur perdagangan digital mereka di bawah satu bendera global, sekaligus mengefisiensikan operasional setelah menguasai sekitar 75 persen saham Tokopedia dari GoTo Group pada awal 2024.

Respons Manajemen: Investasi atau Isyarat Perubahan Arah?

Menanggapi isu penutupan aplikasi Tokopedia, pihak manajemen TikTok memberikan pernyataan yang cenderung normatif. Mereka tidak secara tegas membantah maupun mengonfirmasi kabar mengenai penghentian operasional aplikasi Tokopedia.

Baca Juga:  Tersedia Sekarang! Promo Lazada 16 September 2023: Diskon Melimpah dan Cashback Menggiurkan!

“Kami terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia sebagai bagian dari strategi kami untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan,” ujar juru bicara TikTok dalam pernyataan resminya.

Namun, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredam spekulasi publik. Sejumlah pengamat menilai bahwa berbagai perubahan struktural yang terjadi belakangan justru mengindikasikan pergeseran arah bisnis. Salah satunya adalah perubahan kepemimpinan di Tokopedia, di mana Melissa Siska Juminto yang selama ini menjadi figur sentral perusahaan resmi digeser dari posisi CEO dan kini menjabat sebagai komisaris.

Jejak Efisiensi: PHK dan Penutupan Layanan

Isu penutupan aplikasi Tokopedia dinilai sebagai puncak dari serangkaian langkah efisiensi yang dilakukan sepanjang tahun 2025. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tercatat telah memengaruhi sekitar 420 karyawan Tokopedia, dengan 180 orang terdampak pada Juli dan 240 orang pada Agustus 2025.

Baca Juga:  Samsung Luncurkan Monitor Odyssey 2026: Main Game 3D Tanpa Kacamata dengan Resolusi 6K

Pemangkasan tersebut menyasar berbagai divisi penting, mulai dari teknologi informasi, layanan pelanggan, hingga logistik. Tidak berhenti di sana, infrastruktur fisik Tokopedia juga mulai dikurangi. Pada 15 Agustus 2025, layanan gudang “Dilayani Tokopedia” resmi dihentikan operasionalnya.

Bagi para pengamat industri, rangkaian langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa infrastruktur lokal Tokopedia tengah dilebur ke dalam ekosistem global milik ByteDance. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa brand Tokopedia selama ini berperan sebagai “jembatan” untuk mempermudah proses perizinan e-commerce yang sempat terhambat regulasi pemerintah pada 2023.

Tantangan UMKM dan Dominasi Platform Global

Isu lain yang turut mencuat adalah dugaan ketimpangan kebijakan insentif. Sejumlah laporan menyebutkan adanya subsidi iklan hingga 30 persen yang lebih mudah diakses oleh pedagang asal Tiongkok, sementara pelaku usaha lokal Indonesia tidak memperoleh fasilitas serupa. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa migrasi ke aplikasi TikTok Shop standalone justru akan semakin menekan daya saing UMKM lokal di tengah gempuran produk impor murah.

Baca Juga:  Ray-Ban Meta: Kacamata Pintar Multifungsi dengan Fitur Panggilan Video dan Integrasi Apple Music

Padahal, berdasarkan data Sensor Tower per Januari 2026, Tokopedia masih menempati peringkat ketiga aplikasi retail terbesar di Indonesia. Meski demikian, tren penurunan kinerja dan perubahan strategi bisnis dinilai perlu diwaspadai oleh para pelaku usaha.

Transisi menuju aplikasi baru memang berpotensi menghadirkan efisiensi dan kecepatan transaksi berkat infrastruktur teknologi ByteDance yang besar. Namun, ada konsekuensi yang tak kalah penting, yakni potensi hilangnya identitas lokal Tokopedia yang telah dibangun sejak 2009.

Bagi jutaan penjual yang selama ini menggantungkan hidup pada ekosistem Tokopedia, situasi ini menjadi peringatan untuk mulai melakukan diversifikasi kanal penjualan. Memahami mekanisme Seller Center di TikTok Shop kini menjadi kebutuhan mendesak agar bisnis tetap bertahan di tengah ketidakpastian.

Hingga saat ini, publik masih menantikan pernyataan resmi terkait masa depan aplikasi “Si Hijau”. Sementara itu, pengguna dan pelaku UMKM hanya bisa terus memantau setiap perubahan kebijakan di tengah masa transisi yang penuh tanda tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *