TEKNO

Cuma Butuh 1 Volt! Teknologi AC Berbasis Garam Janjikan Pendinginan Super Irit

5
×

Cuma Butuh 1 Volt! Teknologi AC Berbasis Garam Janjikan Pendinginan Super Irit

Sebarkan artikel ini
Hanya 1 Volt! AC Garam Ini Hadirkan Pendinginan Hemat Energi
Hanya 1 Volt! AC Garam Ini Hadirkan Pendinginan Hemat Energi

Media90 – Pendingin ruangan kini menjadi kebutuhan penting, terutama di tengah suhu global yang semakin meningkat. Namun, di balik kesejukan yang dihasilkan, AC konvensional menyisakan masalah serius bagi lingkungan karena masih bergantung pada bahan kimia yang berpotensi merusak bumi. Menjawab tantangan ini, para ilmuwan menghadirkan terobosan inovatif: teknologi pendingin berbasis garam sebagai komponen utama sistem AC.

Menurut laporan IFL Science pada Minggu (18/1/2026), sistem pendingin tradisional bekerja dengan memindahkan panas dari dalam ruangan ke luar. Proses ini melibatkan cairan penyerap panas yang diuapkan menjadi gas, dialirkan melalui sistem tertutup, lalu dikondensasikan kembali menjadi cairan. Siklus ini terus diulang untuk menjaga suhu tetap dingin. Teknologi ini terbukti efektif, tetapi material pendingin yang digunakan memiliki dampak lingkungan serius. Kebocoran zat pendingin dapat memperparah efek rumah kaca dan merusak lapisan ozon.

Alternatif Ramah Lingkungan: Garam dan Ionokalori

Penelitian di Lawrence Berkeley National Laboratory, University of California, Berkeley mencoba pendekatan baru. Alih-alih mengandalkan penguapan gas berbahaya, para ilmuwan memanfaatkan energi yang tersimpan dan dilepaskan saat suatu material berubah bentuk—mirip dengan proses mencairnya es.

Baca Juga:  Teknologi TikTok Terbaru: Kloning Suara Berbasis AI untuk Penyiaran Konten Video

Sebagai ilustrasi sederhana, es yang mencair menyerap panas dari lingkungan sekitar, membuat area sekitarnya terasa lebih dingin. Prinsip ini kemudian diterapkan dalam sistem pendinginan baru, namun dengan “mencairkan es” menggunakan ion bermuatan energi sehingga perubahan bentuk material terjadi tanpa memerlukan panas berlebih. Konsep ini sudah dikenal dalam kehidupan sehari-hari, misalnya penggunaan garam untuk mencegah pembentukan es di jalan saat musim dingin.

Siklus perubahan bentuk material dengan bantuan ion ini dikenal sebagai siklus ionokalori (ionocaloric cycle). Menurut Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory, belum ada solusi pendinginan alternatif yang efisien, aman, dan ramah lingkungan sekaligus. Siklus ionokalori diyakini memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan tersebut.

Baca Juga:  10 Inovasi Teknologi Kuno yang Tetap Asing bagi Generasi Z

Uji Coba dan Efisiensi Energi

Dalam penelitian ini, garam berbasis natrium dan yodium digunakan untuk mencairkan senyawa etilena karbonat, yang memanfaatkan karbon dioksida—sama seperti dalam baterai lithium-ion. Hasilnya, proses pendinginan ini tidak hanya bebas emisi, tetapi berpotensi menghasilkan emisi negatif.

Hasil uji menunjukkan perubahan suhu hingga 25°C hanya dengan arus listrik sebesar 1 volt. Angka ini jauh lebih hemat energi dibandingkan sistem pendingin konvensional, menjadikannya solusi ramah lingkungan dan efisien.

Garam Berbasis Nitrat: Pilihan Paling Efektif

Para peneliti kini fokus mengembangkan sistem agar teknologi ini dapat diterapkan secara komersial. Salah satu tantangan utama adalah menemukan jenis garam yang paling efektif menarik panas dari ruangan. Pada 2025, garam berbasis nitrat terbukti memiliki efisiensi tertinggi dalam proses ini.

Baca Juga:  Klaim Saingi Wikipedia, Grokipedia Milik Elon Musk Ternyata Masih Andalkan Sumber yang Sama

Jika pengembangan terus berlanjut, teknologi berbasis garam berpotensi menjadi revolusi baru di dunia pendingin ruangan. Sistem ini tidak hanya hemat energi, tetapi juga ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya. Di masa depan, AC rumah tangga maupun gedung perkantoran mungkin akan memanfaatkan teknologi sederhana namun inovatif ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *