TEKNO

Gemuruh Mesin Jet di Darat: Solusi Listrik On-Site untuk Pusat Data AI

5
×

Gemuruh Mesin Jet di Darat: Solusi Listrik On-Site untuk Pusat Data AI

Sebarkan artikel ini
Revolusi Energi! Data Center AI Bakal Didukung Mesin Jet Supersonik
Revolusi Energi! Data Center AI Bakal Didukung Mesin Jet Supersonik

Media90 – Pertumbuhan pesat kecerdasan buatan (AI) ternyata membawa dampak tak terduga: kekurangan listrik global. Sementara raksasa teknologi berlomba membangun pusat data berskala besar, jaringan listrik tradisional kesulitan mengejar kebutuhan energi. Sebagai solusi inovatif, para pengembang kini memanfaatkan mesin jet supersonik bekas dari industri penerbangan untuk menghasilkan listrik langsung di lokasi pusat data.

Tujuh Tahun Menunggu Listrik

Permintaan komputasi AI sangat tinggi hingga membuat jaringan listrik lokal di Amerika Serikat dan wilayah lain kewalahan. Di beberapa daerah, daftar tunggu untuk menghubungkan pusat data baru ke jaringan listrik utama bisa mencapai tujuh tahun.

Daripada menunggu hampir satu dekade, perusahaan hyperscale seperti OpenAI, Microsoft, dan Oracle memilih memasang pembangkit listrik on-site sendiri. Langkah ini mengubah mesin jet dari simbol penerbangan menjadi tulang punggung infrastruktur AI.

Baca Juga:  Mengapa Apple Intelligence Diprediksi Lebih Unggul dari Copilot+: 5 Alasan Kunci

Mesin Jet Jadi Pembangkit Listrik Stabil

Solusi yang digunakan berupa turbin aeroderivatif, mesin yang diadaptasi dari teknologi pesawat, serta generator diesel besar. Unit ini portabel, modular, dan bisa dikerahkan lebih cepat dibanding membangun pembangkit tradisional. Beberapa pemain utama:

  • GE Vernova: Menyediakan turbin untuk proyek “Stargate” di Texas, fasilitas besar kolaborasi OpenAI, Oracle, dan SoftBank, menargetkan daya hingga 1 gigawatt.

  • ProEnergy: Menjual lebih dari 1 gigawatt turbin berbasis mesin jet, termasuk yang menggunakan mesin inti Boeing 747.

  • Boom Supersonic: Startup penerbangan supersonik yang kini menjual teknologi mesin “Symphony” untuk tenaga AI, didukung investor seperti Sam Altman.

  • Cummins: Menjual lebih dari 39 gigawatt kapasitas ke sektor pusat data, sementara generator diesel yang sebelumnya cadangan kini menjadi sumber utama.

Biaya Tinggi dan Emisi

Walau cepat, metode ini memiliki kelemahan. Listrik on-site jauh lebih mahal dibanding jaringan nasional atau energi terbarukan. BNP Paribas mencatat biaya pembangkit bertenaga gas bisa mencapai $175 (Rp 2,9 juta) per MWh, hampir dua kali lipat standar industri.

Selain itu, emisi karbon meningkat drastis. Namun, karena permintaan AI mendesak, beberapa negara bagian AS mulai melonggarkan regulasi untuk menjaga pusat data tetap berjalan.

Mesin Jet Cocok untuk Beban AI

Mesin penerbangan dirancang untuk kinerja tinggi dan tahan kondisi ekstrem. Misalnya, turbin “Superpower” dari Boom Supersonic mampu memproduksi hingga 42 megawatt, cukup untuk kota kecil, tanpa air pendingin. Mobilitas unit juga memungkinkan operator AI memulai operasi dengan cepat tanpa terhambat birokrasi energi.

Masa Depan: Bottleneck Energi

Fenomena ini menegaskan bahwa listrik menjadi bottleneck baru di era digital. Dengan model AI terus berkembang, kebutuhan energi diprediksi meningkat drastis menjelang 2030. Untuk saat ini, gemuruh mesin jet di darat akan tetap menjadi penggerak revolusi AI, mengisi celah hingga solusi permanen seperti energi nuklir atau fusi siap digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *