Media90 – Raksasa ride-hailing dan pengantaran makanan asal Singapura, Grab Holdings, resmi mengumumkan langkah korporasi besar dengan mengakuisisi bisnis Foodpanda Taiwan. Transaksi senilai USD 600 juta atau sekitar Rp10 triliun ini menjadi sorotan karena menandai ekspansi perdana Grab di luar kawasan Asia Tenggara sejak didirikan.
Pengumuman ini disampaikan melalui situs resmi perusahaan pada Senin (23/3/2026). Langkah ini tidak hanya memperluas jangkauan geografis Grab, tetapi juga mempertegas ambisinya untuk menjadi pemain dominan di tingkat Asia yang lebih luas.
Ekspansi Perdana ke Luar Asia Tenggara
Bagi Grab, Taiwan menjadi “gerbang” pertama untuk memasuki pasar di luar delapan negara operasionalnya saat ini. Dengan populasi sekitar 23 juta jiwa dan penetrasi layanan digital yang tinggi, Taiwan dinilai memiliki karakteristik mirip Asia Tenggara namun dengan daya beli yang lebih matang.
CEO sekaligus salah satu pendiri Grab, Anthony Tan, menyatakan optimismenya terhadap langkah ini. Ia menegaskan bahwa pengalaman Grab dalam mengelola logistik di kota-kota padat menjadi modal kuat untuk bersaing di pasar Taiwan yang dinamis.
Mengubah Peta Persaingan
Sebelum akuisisi ini, pasar pengantaran makanan di Taiwan didominasi oleh dua pemain besar, yakni Foodpanda (bagian dari Delivery Hero) dan Uber Eats.
Data industri menunjukkan Foodpanda menguasai sekitar 52 persen pangsa pasar, sementara Uber Eats berada di angka 48 persen. Situasi ini menjadikan persaingan sangat ketat di antara dua platform utama.
Menariknya, langkah Grab ini muncul setelah upaya akuisisi oleh Uber pada 2025 senilai USD 950 juta ditolak oleh regulator Taiwan karena dikhawatirkan menciptakan monopoli pasar.
Kehadiran Grab sebagai pemilik baru Foodpanda Taiwan justru dinilai akan menjaga keseimbangan kompetisi. Dengan pangsa pasar di atas 50 persen, Grab akan menjadi pesaing kuat tanpa memicu dominasi tunggal yang merugikan konsumen.
Target Ekspansi dan Integrasi AI
Setelah proses akuisisi rampung, Grab berencana memperluas jangkauan layanan hingga 21 kota di Taiwan. Perusahaan juga akan mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Pemanfaatan AI akan difokuskan pada optimalisasi rute pengiriman serta personalisasi rekomendasi makanan bagi pengguna. Grab menargetkan proses migrasi pengguna, merchant, dan mitra pengemudi dari platform Foodpanda ke aplikasi Grab dapat selesai sepenuhnya pada awal 2027.
Dari sisi finansial, transaksi ini diproyeksikan memberikan tambahan EBITDA setidaknya USD 60 juta pada tahun 2028, memperkuat posisi Grab di pasar internasional.
Tekanan Strategis bagi Delivery Hero
Di sisi lain, pelepasan bisnis ini merupakan bagian dari strategi besar Delivery Hero dalam mengevaluasi portofolio globalnya. CEO Delivery Hero, Niklas Oestberg, menyebut langkah ini sebagai awal dari peninjauan strategi perusahaan.
Namun, keputusan tersebut belum sepenuhnya memuaskan investor. Salah satu pemegang saham, Aspex Management, menilai bahwa langkah divestasi ini masih perlu dilanjutkan dengan strategi yang lebih agresif.
Sebagai gambaran, bisnis Foodpanda di Taiwan pada tahun 2025 mencatat nilai transaksi bruto (GMV) mencapai USD 1,8 miliar atau sekitar Rp30 triliun per tahun. Dengan potensi sebesar ini, Taiwan menjadi pilar pertumbuhan baru bagi Grab Holdings dalam upayanya mencapai target pendapatan di atas USD 4 miliar pada akhir 2026.














