Media90 – Pemadaman internet berskala besar kembali terjadi di Iran, menarik perhatian dunia internasional. Saat jutaan warga kehilangan akses komunikasi, layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk mulai menyediakan koneksi gratis bagi pengguna di negara tersebut. Langkah ini membuka kembali jalur informasi dari Iran ke dunia luar, meski tidak lepas dari tantangan dan risiko.
Starlink Aktif Kembali di Iran
Sejumlah akun Starlink di Iran yang sebelumnya tidak aktif kini dilaporkan kembali terhubung ke jaringan satelit. Biaya langganan layanan digratiskan, sehingga terminal Starlink yang sudah ada dapat langsung digunakan tanpa proses administrasi tambahan.
Menurut Ahmad Ahmadian, Direktur Eksekutif lembaga Holistic Resilience, penggunaan Starlink di Iran kini sangat sederhana. Selama terminal satelit ditempatkan di area dengan pandangan terbuka ke langit, koneksi bisa langsung berjalan.
Dalam beberapa hari terakhir, akses internet di Iran dihentikan secara luas oleh otoritas setempat. Para pengamat menyebut ini sebagai salah satu pemutusan jaringan digital paling masif yang pernah terjadi di negara tersebut. Pemadaman terjadi di tengah aksi protes yang meluas, sehingga proses pelaporan menjadi terhambat. Jumlah korban meninggal yang diperkirakan menembus 1.800 orang kemungkinan masih belum mencerminkan kondisi sebenarnya.
Internet dan Politik Global
Pemadaman internet di Iran bersamaan dengan gelombang demonstrasi besar. Para pengamat menilai pemutusan jaringan digital merupakan strategi pemerintah untuk mengendalikan arus informasi, sehingga menyulitkan pemantauan situasi di lapangan.
Di sisi lain, mantan Presiden AS Donald Trump menyerukan agar para demonstran Iran terus melawan rezim yang berkuasa, bahkan menyatakan seluruh opsi dukungan Amerika Serikat, termasuk langkah militer, tetap tersedia. Pernyataan ini menegaskan bahwa isu akses internet di Iran tidak hanya bersifat teknologi, tetapi juga terkait kepentingan politik global.
Harapan Baru yang Masih Terbatas
Meski langkah Starlink disambut positif oleh aktivis dan pegiat hak asasi manusia, dampaknya diperkirakan masih terbatas. Dari sekitar 92 juta penduduk Iran, hanya sebagian kecil yang memiliki akses ke perangkat Starlink. Faktor teknis dan keamanan juga membatasi penggunaannya.
Ahmadian menyebut bahwa dalam beberapa kasus, Starlink menjadi satu-satunya sarana untuk mengirimkan informasi keluar dari Iran. Foto, video, dan laporan situasi dapat disebarkan ke media internasional meski jalur internet konvensional sepenuhnya terputus.
Pemerintah Iran Ganggu Sinyal Starlink
Iran dilaporkan memiliki kemampuan untuk mengganggu sinyal Starlink menggunakan metode seperti jamming. Doug Madory, pakar pemantauan jaringan dari firma Kentik, menjelaskan bahwa pemerintah Iran membangun sistem penyaringan internet yang sangat ketat:
“Penguasa Iran menciptakan ‘Great Firewall’ versi mereka sendiri, yang memblokir segalanya kecuali lalu lintas yang disetujui.”
Pemutusan akses internet relatif mudah karena hanya ada dua perusahaan utama yang menghubungkan Iran ke jaringan global.
Risiko Penggunaan Starlink
Penggunaan Starlink di Iran tidak lepas dari risiko hukum. Layanan ini tidak memiliki izin resmi dan dinyatakan ilegal oleh pemerintah. Setelah konflik singkat antara Iran dan Israel tahun lalu, kepemilikan serta penggunaan perangkat Starlink bahkan dikriminalisasi.
Meski demikian, permintaan perangkat Starlink meningkat. Mahsa Alimardani, peneliti teknologi di organisasi HAM Witness, memperkirakan jumlah penerima Starlink di Iran kini mencapai 50.000.
Selain Starlink, Amerika Serikat sebelumnya mendukung teknologi untuk menembus sensor digital, seperti VPN dan perangkat lunak anti-pembatasan. Namun, pendanaan program-program tersebut sempat dikurangi beberapa tahun terakhir.
Internet sebagai Alat Perjuangan Modern
Situasi di Iran menunjukkan bahwa internet bukan sekadar fasilitas komunikasi, melainkan bagian penting dari perjuangan modern. Di tengah pembatasan ketat dan risiko besar, koneksi satelit seperti Starlink menjadi simbol perlawanan digital sekaligus pengingat bahwa arus informasi sulit sepenuhnya dibungkam.














