Media90 – Industri game kreatif Indonesia tengah diguncang kabar mengejutkan dari salah satu tokoh paling berpengaruh di sektor tersebut. Kris Antoni Hadiputra, CEO sekaligus pendiri Toge Productions, menjadi viral di media sosial X setelah mengekspresikan kekecewaannya terkait tagihan pajak yang dianggap fantastis akibat perbedaan penafsiran aturan akuntansi. Frustrasi ini bahkan memicu ancaman serius untuk memindahkan operasional studionya ke luar negeri, khususnya Malaysia.
Kehebohan ini bermula ketika akun X @kerissakti milik Kris mengeluhkan perlakuan otoritas pajak yang menurutnya menggunakan aturan “buat-buat”. Kris merasa usaha kerasnya memajukan industri game Indonesia selama 17 tahun seolah menemui jalan buntu.
“Habis ditodong sama orang pajak dengan aturan yang dibuat-buat membuat gw semakin yakin untuk mulai memindahkan Toge Productions ke negara lain. Saya sudah berusaha memajukan industri game Indonesia selama 17 tahun, tapi sepertinya harapan saya sudah pupus. I’ve tried my best,” cuitnya pada Rabu (25/2/2026).
Persoalan Teknis: Amortisasi vs Kapitalisasi Biaya
Inti konflik terletak pada biaya gaji karyawan selama pengembangan game. Kris menjelaskan, masalah muncul saat ia berniat mengajukan restitusi atau pengembalian kelebihan bayar pajak perusahaan. Alih-alih menerima pengembalian, proses tersebut dibalas dengan tagihan pajak baru dalam jumlah besar.
Pihak pajak berargumen bahwa biaya pengembangan wajib diamortisasi sebagai aset tak berwujud (intangible asset), bukan sebagai biaya operasional rutin. Amortisasi adalah alokasi biaya perolehan harta tak berwujud secara bertahap selama masa manfaatnya. Jika gedung atau aset fisik disusutkan, maka perangkat lunak atau software diamortisasi.
Menurut UU PPh dan PMK 72/2023, gaji karyawan tahap pengembangan software dianggap bagian dari investasi. Namun Kris membantah penerapan aturan ini pada studionya.
“Wajib diamortisasi apabila kapitalisasinya sudah diakui dan memenuhi syarat. Nah, kapitalisasi aja nggak pernah, apa yang mau diamortisasi? Awalnya gue mau restitusi kelebihan bayar pajak, eh dibalesnya pakai intimidasi kalau kita kurang bayar gara-gara development cost menurut mereka harus diamortisasi karena jadi aset tak berwujud. Angkanya fantastis banget,” tegas Kris.
Prestasi Toge Productions Terancam Terganggu
Toge Productions merupakan salah satu aset berharga industri kreatif Indonesia. Selama lebih dari 17 tahun, mereka telah merilis berbagai judul populer seperti Coffee Talk, A Space For The Unbound, When The Past Was Around, My Lovely Wife, My Lovely Daughter, dan Azure Saga: Pathfinder, hingga Coffee Talk Episode 2: Hibiscus & Butterfly.
Game-game Toge tersedia di berbagai platform mulai dari Android, PC melalui Steam, hingga Nintendo Switch. Banyak netizen mengekspresikan kekhawatiran jika studio berprestasi ini benar-benar memindahkan kantor pusat ke luar negeri. Kris bahkan mempertimbangkan hanya menjadikan kantor di Indonesia sebagai cabang pemasaran.
Tanggapan DJP dan Reaksi Publik
Merespons kegaduhan yang telah ditayangkan lebih dari 3,5 juta kali, akun resmi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Republik Indonesia buka suara pada Kamis (26/2/2026). Meskipun terikat undang-undang untuk menjaga kerahasiaan data wajib pajak, DJP menegaskan bahwa penghitungan pajak dilakukan secara adil, proporsional, dan sesuai kepastian hukum.
DJP menyatakan setiap pemeriksaan dilakukan secara profesional dan objektif, dengan memberikan ruang dialog bagi wajib pajak. Namun, tanggapan ini justru menuai kritik netizen karena dianggap terlalu normatif dan tidak menyentuh persoalan teknis terkait perlakuan pajak atas biaya gaji di industri kreatif.
Kasus ini kini menjadi peringatan serius bagi iklim usaha di Indonesia, agar kebijakan pajak dapat lebih mendukung pertumbuhan talenta lokal tanpa memaksa mereka melakukan eksodus ke negara tetangga.














