Media90 – Akhir tahun yang biasanya identik dengan diskon gadget besar-besaran justru diwarnai kabar kurang sedap dari industri teknologi. Krisis pasokan komponen memori, khususnya RAM, membuat harga komponen melonjak tajam dan memaksa produsen smartphone melakukan penyesuaian harga jual.
Xiaomi menjadi salah satu vendor besar yang lebih dulu mengambil langkah tersebut. Perusahaan asal China itu secara resmi mengumumkan kenaikan harga sejumlah model smartphone di Indonesia mulai Januari 2026. Sementara itu, raksasa teknologi lain seperti Samsung dan Apple dikabarkan siap mengikuti langkah serupa jika tekanan biaya produksi terus berlanjut.
Di tengah tren ponsel modern yang semakin mengandalkan AI, kamera beresolusi tinggi, dan RAM besar, krisis ini menjadi pengingat betapa rapuhnya rantai pasok global, terutama ketika permintaan chip untuk server AI melonjak signifikan.
Kelangkaan Komponen Picu Lonjakan Biaya Produksi
Kabar kenaikan harga ini bukan tanpa dasar. Mengutip laporan Merdeka.com, Xiaomi telah mengonfirmasi adanya penyesuaian harga akibat lonjakan biaya produksi yang dipicu oleh kelangkaan komponen memori, baik RAM (Random Access Memory) maupun penyimpanan internal.
Selama beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga komponen memang kerap terjadi. Namun, kondisi kali ini dinilai lebih serius karena produsen tidak lagi mampu menyerap beban kenaikan biaya secara mandiri tanpa memengaruhi harga jual ke konsumen.
Presiden Xiaomi Group, Lu Weibing, turut menegaskan kondisi tersebut. Dikutip dari Liputan6.com, ia mengakui bahwa harga komponen inti, khususnya memori, mengalami kenaikan signifikan sejak kuartal keempat tahun lalu. Kenaikan itu terjadi secara global dan berdampak langsung pada berbagai wilayah operasional Xiaomi.
Menurutnya, kebijakan penyesuaian harga merupakan langkah realistis demi menjaga keberlangsungan bisnis dan kualitas produk di tengah tekanan pasokan komponen yang semakin ketat.
Permintaan Tinggi, Produksi Terbatas
Akar persoalan krisis ini terletak pada ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di industri semikonduktor. Standar spesifikasi ponsel saat ini yang umumnya mengusung RAM 8 GB hingga 16 GB membuat kebutuhan chip memori melonjak tajam.
Di sisi lain, produsen chip memori utama seperti Samsung Electronics dan SK Hynix disebut tengah menyesuaikan kapasitas produksi mereka. Penyesuaian ini berdampak pada keterbatasan stok di pasar, sehingga harga komponen terus terdorong naik.
Berdasarkan data firma riset Counterpoint Research, tren kenaikan harga diperkirakan akan memengaruhi seluruh segmen smartphone, dengan dampak paling besar justru dirasakan pada ponsel kelas bawah:
-
Low-end: kenaikan hingga 25 persen
-
Mid-range: kenaikan sekitar 15 persen
-
High-end: kenaikan sekitar 10 persen
Laporan tersebut juga menegaskan bahwa Samsung dan Apple berpotensi menyesuaikan harga produk mereka mulai 2026.
Peta Persaingan Vendor Mulai Bergeser
Langkah Xiaomi dinilai banyak pengamat sebagai sinyal awal dari gelombang kenaikan harga yang lebih luas. Jika Xiaomi—yang dikenal agresif di segmen harga terjangkau—sudah menaikkan harga, maka penyesuaian serupa oleh Samsung dan Apple dinilai hampir tak terelakkan.
Samsung berada di posisi unik karena selain sebagai produsen smartphone, mereka juga merupakan produsen chip memori. Namun demikian, divisi ponsel Samsung tetap beroperasi berdasarkan harga pasar internal yang turut terdampak inflasi global.
Sementara itu, Apple dengan rantai pasok eksklusifnya cenderung lebih mampu meredam kenaikan harga dalam jangka pendek. Meski begitu, jika krisis RAM berlanjut hingga peluncuran generasi iPhone berikutnya, kenaikan harga jual diperkirakan sulit dihindari.
Konsumen Diminta Lebih Adaptif
Krisis RAM yang berdampak pada harga smartphone menunjukkan betapa industri teknologi sangat bergantung pada stabilitas rantai pasok komponen mikro. Bagi konsumen, kondisi ini menjadi pengingat bahwa harga perangkat elektronik tidak selalu bergerak turun.
Faktor eksternal seperti ketersediaan bahan baku, lonjakan permintaan server AI, serta kebijakan produksi pabrikan global memiliki peran besar dalam menentukan harga akhir di pasar.
Sebagai kesimpulan, kenaikan harga yang diawali oleh Xiaomi menjadi sinyal kuat bahwa biaya produksi gadget sedang berada di level tinggi. Samsung dan Apple diprediksi akan menyusul pada peluncuran produk terbaru mereka di akhir tahun ini atau awal 2026.
Bagi konsumen yang tengah berencana membeli ponsel baru, melakukan riset dan mempertimbangkan pembelian lebih awal sebelum kenaikan harga merata bisa menjadi langkah yang bijak. Industri smartphone kini tengah beradaptasi dengan realitas ekonomi baru, dan ekspektasi terhadap harga pun perlu ikut menyesuaikan.














