TEKNO

Lagi Tren di Medsos, Benarkah Emoji Batu 🗿 Berarti “Sayang” bagi Gen Z?

9
×

Lagi Tren di Medsos, Benarkah Emoji Batu 🗿 Berarti “Sayang” bagi Gen Z?

Sebarkan artikel ini
Viral di Media Sosial Ini Makna Emoji Batu yang Dipakai Gen Z
Viral di Media Sosial, Ini Makna Emoji Batu 🗿 yang Dipakai Gen Z

Media90 – Bahasa komunikasi digital terus berevolusi dengan kecepatan yang sulit diprediksi, terutama di tangan Generasi Z. Dalam beberapa waktu terakhir, jagat media sosial—khususnya TikTok—diramaikan oleh fenomena unik yang membuat banyak pengguna internet dari generasi sebelumnya mengernyitkan dahi. Emoji Batu Moai (🗿), yang selama ini identik dengan ekspresi datar atau sikap tabah, mendadak diklaim memiliki makna baru: “sayang.”

Tren ini menyebar luas di kolom komentar media sosial hingga percakapan aplikasi pesan instan. Tak sedikit remaja yang menyisipkan emoji batu di akhir kalimat romantis atau saat menyapa pasangan mereka. Namun pertanyaannya, benarkah makna emoji ini telah bergeser secara linguistik, ataukah ini sekadar mitos digital yang terlanjur dipercaya?

Asal-usul Kebingungan: “Glitch” Terjemahan yang Viral

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa perubahan makna emoji batu tidak muncul dari kesepakatan budaya yang alami. Fenomena ini justru bermula dari sebuah kesalahpahaman teknis yang keburu viral.

Baca Juga:  Sekarang Mainkan Game Retro Favorit dengan Emulator Delta di App Store!

Sumber utamanya berasal dari sebuah video TikTok yang menampilkan tangkapan layar Google Translate. Dalam video tersebut, emoji batu (🗿) dimasukkan sebagai input dan diterjemahkan dari Bahasa Yunani ke Bahasa Indonesia. Hasil terjemahan yang muncul secara mengejutkan adalah kata “sayang.”

Tanpa proses verifikasi ulang, video tersebut dengan cepat menyebar dan dipercaya begitu saja oleh banyak pengguna Gen Z. Alhasil, narasi bahwa “emoji batu = sayang” pun berkembang menjadi semacam fakta baru di lingkaran pergaulan digital mereka.

“Bro baru ingat emot batu bermaksud sayang. Pernah ada video yang jelasin,” tulis seorang warganet. Sementara pengguna lain mengaku masih ragu, namun tetap ingin mengikuti tren, “Iya udah pernah lihat VT-nya. Mau pakai emot itu tapi takut ada yang tahu artinya, padahal maksudnya kayak emot 😐.”

Makna Asli dan Sejarah Emoji Moai 🗿

Jika bukan berarti “sayang”, lalu apa arti sebenarnya dari emoji ini?

Emoji yang kerap disebut “kepala batu” ini sejatinya merepresentasikan Moai, patung monolitik raksasa yang dibuat oleh masyarakat Rapa Nui di Pulau Paskah (Easter Island), Chili. Emoji ini resmi diperkenalkan dalam standar Unicode versi 6.0 pada tahun 2010.

Baca Juga:  Memastikan Ketepatan Tampilan Warna: 4 Alat Kalibrasi Monitor Komputer yang Tepat

Selain merujuk pada situs bersejarah tersebut, desain emoji 🗿 di berbagai platform juga terinspirasi dari patung Moyai di Stasiun Shibuya, Tokyo, Jepang—yang memiliki bentuk serupa namun dengan ciri bibir lebih menonjol.

Sebelum tren “sayang” mencuat, emoji 🗿 dalam budaya internet global memiliki beberapa makna umum, antara lain:

  1. Ekspresi datar (deadpan), untuk menanggapi lelucon yang dianggap garing.
  2. Sikap stoik atau tabah, menandakan ketenangan atau ketidakpedulian.
  3. Simbol keteguhan, kerap diasosiasikan dengan meme “Chad” atau “Sigma”.
  4. Kesan misterius, karena ekspresinya yang sulit ditebak.

Tidak ada satu pun rujukan resmi yang mengaitkan emoji ini dengan ungkapan kasih sayang.

Psikologi Gen Z dan Cairnya Makna Simbol

Fenomena “batu = sayang” menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi komunikasi digital. Generasi Z dikenal gemar menciptakan bahasa slang, kode, atau simbol yang bersifat eksklusif. Ini sering menjadi bentuk “enkripsi sosial”—cara berkomunikasi yang hanya dipahami oleh kelompok mereka sendiri.

Meski berawal dari informasi keliru, penggunaan emoji batu sebagai simbol cinta menunjukkan betapa cairnya makna simbol di era digital. Ketika sebuah komunitas sepakat bahwa batu berarti sayang, maka dalam konteks komunitas tersebut, makna itu menjadi sah—meski bertentangan dengan sejarah dan definisi resmi.

Baca Juga:  Layar Cerah dan Tangguh HP OPPO A57, Melawan Percikan Air dengan Kuat!

Menariknya lagi, kontras antara karakter emoji yang kaku dan dingin dengan makna “sayang” justru menghadirkan ironi yang khas humor Gen Z. Bagi sebagian dari mereka, emoji hati ❤️ mungkin terasa terlalu mainstream atau bahkan “cringe”. Sebaliknya, emoji batu terasa lebih lowkey, absurd, dan unik.

Ikut Tren atau Tetap Logis?

Pada akhirnya, bahasa adalah hasil kesepakatan sosial. Jika suatu hari Anda menerima pesan “Selamat malam 🗿” dari pasangan Gen Z, jangan buru-buru mengira mereka sedang marah atau bersikap dingin. Bisa jadi, itu adalah versi romantis mereka yang tidak biasa.

Namun demikian, penting juga untuk diingat bahwa secara historis dan global, emoji 🗿 tetaplah simbol patung batu purbakala, bukan representasi cinta. Tren ini menjadi contoh nyata bagaimana misinformasi dapat dengan mudah berubah menjadi budaya pop hanya lewat satu video viral.

Menggunakannya untuk seru-seruan sah-sah saja, asal tetap paham konteks. Di luar gelembung media sosial Indonesia, dunia masih melihat emoji 🗿 sebagai wajah batu yang diam seribu bahasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *