TEKNO

Laporan Reuters Ungkap “Akal-akalan” Meta Sembunyikan Iklan Penipuan

7
×

Laporan Reuters Ungkap “Akal-akalan” Meta Sembunyikan Iklan Penipuan

Sebarkan artikel ini
Reuters Ungkap Cara Meta Menyembunyikan Iklan Penipuan
Reuters Ungkap Cara Meta Menyembunyikan Iklan Penipuan

Media90 – Awal tahun 2026, dunia teknologi dikejutkan oleh hasil investigasi yang menyoroti sisi gelap operasional Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Menurut laporan khusus Reuters, perusahaan besutan Mark Zuckerberg diduga menjalankan strategi untuk menyembunyikan iklan penipuan dari pantauan regulator di berbagai negara. Alih-alih memberantas konten berbahaya secara total, Meta dituding memanipulasi data transparansi agar terhindar dari tekanan hukum dan kebijakan verifikasi ketat.

Dokumen Internal Ungkap Strategi Manipulasi

Investigasi ini berdasarkan dokumen internal Meta selama periode 2022–2026, mencakup catatan dari tim keuangan, hukum, kebijakan publik, hingga divisi keamanan siber. Dokumen-dokumen tersebut mengungkap bagaimana Meta secara sadar membersihkan hasil pencarian regulator tanpa benar-benar mengurangi jumlah iklan penipuan yang muncul bagi pengguna umum.

Eksploitasi Ad Library: Ilusi Kepatuhan

Inti taktik Meta terletak pada Ad Library (Perpustakaan Iklan). Fitur ini dipublikasikan sebagai alat transparansi untuk melacak iklan aktif, termasuk iklan penipuan atau investasi palsu.

Baca Juga:  Kolaborasi PLN IP–Huawei: Teknologi AI Perkuat Operasional PLTU Banten 3 Lontar

Namun, laporan Reuters mengungkap bahwa Meta memiliki panduan internal untuk memetakan kata kunci yang biasa digunakan regulator. Setelah kata kunci teridentifikasi, tim internal Meta secara otomatis menghapus iklan yang muncul dalam hasil pencarian regulator.

Hasilnya: regulator melihat sedikit iklan bermasalah, seolah platform sudah bersih. Sementara itu, bagi pengguna biasa yang tidak menggunakan kata kunci tersebut, iklan penipuan tetap muncul di feed. Trik ini menciptakan ilusi kepatuhan hukum yang meyakinkan namun menyesatkan.

Dari Jepang ke Seluruh Dunia: Global Playbook

Investigasi mengungkap bahwa strategi ini pertama kali diadopsi di Jepang, saat pemerintah setempat menyiapkan aturan verifikasi pengiklan akibat lonjakan iklan investasi palsu, termasuk yang menggunakan Deepfake dan AI.

Baca Juga:  10 Aplikasi Smartphone yang Rakus Menghabiskan Kuota Data!

Meta dilaporkan “membersihkan” Ad Library di Jepang sehingga regulator mengira masalah sudah teratasi, membatalkan rencana aturan ketat tersebut.

Keberhasilan ini mendorong Meta menyusun dokumen “Global Playbook”, panduan standar bagi kantor-kantor Meta di seluruh dunia untuk menyembunyikan iklan palsu. Strategi ini diterapkan di pasar besar lainnya, termasuk:

  1. Amerika Serikat: Menghadapi pengawasan FTC terkait penipuan konsumen

  2. Eropa: Menghindari denda Digital Services Act (DSA)

  3. Australia & India: Merespons maraknya penipuan finansial berbasis AI

  4. Brasil: Mengatasi penipuan identitas di platform sosial

“Sandiwara Regulasi” dan Risiko Bagi Pengguna

Sandeep Abraham, konsultan keamanan siber dan mantan penyelidik penipuan di Meta, menyebut taktik ini sebagai “Regulatory Theater” atau sandiwara regulasi. Strategi ini menyimpang dari tujuan transparansi dan membahayakan jutaan pengguna. Dengan menyembunyikan bukti dari regulator, sindikat penipu tetap bisa beroperasi dan meraup keuntungan dari pengguna biasa.

Laporan internal bahkan menunjukkan Meta mendapatkan keuntungan finansial signifikan dari iklan penipuan tersebut. Meskipun perusahaan mengklaim menghabiskan miliaran dolar untuk keamanan, efektivitasnya dipertanyakan.

Tanggapan Meta

Meta membantah tudingan manipulasi ini. Dalam pernyataan resmi, perusahaan menyebut penghapusan iklan dari Ad Library adalah bagian dari penegakan hukum internal yang sah. Mereka menekankan tim keamanan bekerja siang malam untuk mendeteksi penipuan, dan penghapusan iklan menunjukkan sistem mereka efektif.

Namun, bukti dokumen Global Playbook yang menargetkan regulator secara spesifik membuat argumen ini sulit diterima. Skandal ini diprediksi akan memicu penyelidikan baru di berbagai negara, termasuk kemungkinan sanksi denda lebih besar karena unsur kesengajaan dalam mengelabui otoritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *