TEKNO

Main Game Bisa Bikin Otak 4 Tahun Lebih Muda? Begini Temuan Riset Terbarunya

2
×

Main Game Bisa Bikin Otak 4 Tahun Lebih Muda? Begini Temuan Riset Terbarunya

Sebarkan artikel ini
Riset Ungkap Bermain Game Dapat Membuat Otak Lebih Muda hingga 4 Tahun
Riset Ungkap Bermain Game Dapat Membuat Otak Lebih Muda hingga 4 Tahun

Media90 – Selama bertahun-tahun, video game sering dianggap sebagai kebiasaan buruk, tidak produktif, bahkan sekadar “buang-buang waktu”. Namun, sejumlah penelitian terbaru mulai mengubah cara pandang tersebut. Temuan ilmiah menunjukkan bahwa memainkan game tertentu dapat memperlambat penuaan otak, hingga membuat fungsi otak setara dengan seseorang yang empat tahun lebih muda dari usia sebenarnya.

Tidak Semua Game Punya Efek yang Sama

Menurut Aaron Seitz, profesor psikologi sekaligus Direktur Brain Game Center di Northeastern University, video game memiliki manfaat kognitif yang nyata. Dalam wawancaranya, Seitz menyebut video game jauh lebih efektif dibanding aplikasi pelatihan otak tradisional.

Aplikasi “brain training” umumnya dibuat sesederhana mungkin, sementara video game modern memaksa pemain untuk merespons situasi yang rumit, dinamis, dan tidak dapat diprediksi. Lingkungan seperti inilah yang menstimulasi fungsi otak secara lebih kompleks.

Baca Juga:  Perubahan Besar di Tengah-tengah: Apple Siap Menyederhanakan Lineup iPad pada Tahun Depan

Namun, efek “anti-aging” otak tersebut tidak datang dari semua genre game. Peneliti C. Shawn Green dari University of Wisconsin-Madison dan Carlos Coronel menemukan bahwa perkembangan kognitif paling kuat muncul pada game dengan ritme cepat, khususnya:

  • Game aksi (fast-paced action)

  • Real-Time Strategy (RTS)

Kedua genre ini menuntut pemain melakukan pengambilan keputusan cepat, mengatur sumber daya, berpikir strategis, sekaligus bereaksi di bawah tekanan.

Studi StarCraft II: Otak Gamer Lebih Efisien dan Kuat

Sebuah studi terbaru dalam jurnal NeuroImage (2024) yang didukung oleh Nature Communications (2025) menggunakan game populer StarCraft II sebagai objek penelitian. Game ini dikenal dengan kompleksitasnya: pemain harus mengelola pasukan besar, sumber daya, dan strategi dalam waktu yang sangat ketat.

Peneliti membandingkan 31 gamer berpengalaman dengan 31 non-gamer menggunakan pemindaian otak tingkat lanjut. Hasilnya cukup mengejutkan:

  • Efisiensi Informasi Lebih Tinggi: Otak gamer memproses informasi dengan lebih efisien dibanding non-gamer.

  • Koneksi Otak Lebih Kuat: Area otak yang mengatur perhatian visual dan fungsi eksekutif memiliki koneksi yang lebih baik pada gamer.

  • Efek Anti-Penuaan: Rata-rata otak gamer berpengalaman terlihat empat tahun “lebih muda” dibanding usia kronologis mereka.

Dr. Coronel menjelaskan bahwa proses kognitif dalam game kompleks mirip dengan aktivitas kreatif seperti bermain musik atau membuat karya seni. Aktivitas seperti ini menjaga koneksi saraf tetap aktif, sehingga memperlambat proses degradasi alami seiring bertambahnya usia.

Hasilnya Terlihat Meski Pada Pemain Baru

Manfaat tersebut juga tidak terbatas pada gamer profesional. Dalam sebuah eksperimen lanjutan, orang yang sama sekali tidak pernah bermain game diminta memainkan StarCraft II selama 30 jam dalam beberapa minggu. Hasilnya menunjukkan adanya perlambatan penuaan otak yang tidak terlihat pada kelompok lain yang hanya memainkan game ringan seperti Hearthstone.

Profesor Green juga menemukan bahwa game aksi (misalnya FPS atau shooter) dapat meningkatkan:

  • Penalaran spasial

  • Pengendalian perhatian

  • Kecepatan pemrosesan visual

Kemampuan ini dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, misalnya ketika mengemudi atau merespons lingkungan kompleks dengan cepat.

Ada Syaratnya: Tidak Boleh Berlebihan

Meski temuan tersebut menarik, para peneliti menegaskan bahwa bermain game tidak boleh dilakukan sembarangan. Terlalu lama bermain justru dapat memicu efek negatif seperti susah tidur, kurang fokus, hingga masalah sosial.

Untuk memperoleh manfaat maksimal, peneliti menyarankan beberapa aturan:

1. Durasi yang Tepat

30–60 menit per sesi merupakan titik optimal stimulasi otak tanpa kelelahan.

2. Seimbangkan Dengan Aktivitas Lain

Game harus diimbangi dengan olahraga, interaksi sosial, dan tidur 7–8 jam per hari.

3. Selalu Tantang Otak

Begitu Anda merasa “sudah jago,” manfaat kognitif akan menurun. Anda perlu mencoba game baru yang lebih sulit untuk menjaga otak tetap aktif.

Seperti yang dikatakan Profesor Green:

“Sekalinya Anda sudah bisa, hal tersebut tidak berguna lagi. Anda harus melakukan hal yang menjengkelkan dan sulit untuk menjaga sistem kognitif tetap kuat.”

Kesimpulan

Jika Anda ingin meningkatkan kesehatan kognitif dan menjaga otak tetap muda, mungkin sudah saatnya memberikan kesempatan pada video game—selama dimainkan dengan bijak. Pilih game yang menantang, batasi waktu bermain, dan jangan lupakan aktivitas penting di luar layar.

Pada akhirnya, game mungkin bukan sekadar hiburan, tetapi juga alat untuk menjaga kesehatan otak di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *