Media90 – Wacana menghapus akun Facebook kini tengah ramai diperbincangkan. Hal ini dipicu kabar tentang rencana Meta yang ingin memanfaatkan data pribadi pengguna untuk melatih mesin kecerdasan buatan (AI) perusahaan. Meta dilaporkan sedang mencari cara formal melalui pengajuan paten teknologi yang cukup kontroversial.
Menurut laporan Dexerto yang dikutip dari Business Insider, Meta berupaya mematenkan penggunaan Large Language Model (LLM) untuk menciptakan persona digital pengguna yang telah meninggal dunia. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk membuat jejak digital pengguna tetap “hidup” melalui teknologi AI.
Ambisi Meta Menghidupkan Kloning Digital
Berbeda dengan fitur lama yang hanya membekukan akun almarhum, teknologi baru Meta menggunakan data spesifik seperti riwayat komentar, konten yang disukai, gaya bahasa, dan pola interaksi masa lalu. Data ini diolah untuk menciptakan klon digital yang akurat, mampu meniru interaksi pengguna asli secara mandiri—mulai dari memberi reaksi pada unggahan teman, membalas komentar, hingga merespons pesan Direct Message (DM).
Andrew Bosworth, CTO Meta, tercatat sebagai penulis utama paten yang diajukan sejak 2023. Meta beralasan, AI ini hadir untuk menjaga pengalaman pengguna lain yang ditinggalkan, mengisi kekosongan emosional saat seorang pengguna berhenti aktif karena meninggal.
Ekspansi ke Simulasi Suara dan Video
Teknologi ini tidak terbatas pada teks. Dokumen paten juga menyebut kemampuan AI untuk mensimulasikan panggilan video dan audio, menggunakan data suara dan gambar yang diunggah pengguna selama bertahun-tahun. Hasilnya, replika identitas digital bisa sangat mirip dengan aslinya.
Fenomena serupa sudah mulai muncul di industri, misalnya platform Seedance milik ByteDance. Meta sendiri bersiap dengan investasi raksasa US$140 miliar (sekitar Rp2,3 kuadriliun) untuk pengembangan AI sepanjang 2026.
Grief Tech dan Persaingan Global
Langkah Meta termasuk dalam kategori Grief Tech atau teknologi duka. Beberapa startup sudah lebih dulu bergerak di bidang ini, seperti Replika dan You, Only Virtual (YOV). Microsoft bahkan mematenkan chatbot simulasi orang meninggal sejak 2021.
Mark Zuckerberg pernah menyebut bahwa interaksi dengan memori digital dapat membantu proses berduka. Namun, skala Meta dengan miliaran data pengguna memunculkan kekhawatiran soal kedaulatan data pribadi setelah kematian.
Kontroversi Etika dan Alasan Hapus Akun
Ajakan menghapus akun Facebook muncul karena kekhawatiran hilangnya privasi pasca-meninggal. Edina Harbinja, profesor hukum University of Birmingham, menekankan isu ini sangat sensitif secara hukum, menyoroti apakah adil jika data seseorang digunakan komersial tanpa persetujuan eksplisit dari almarhum.
Sosiolog Joseph Davis dari University of Virginia menilai simulasi orang meninggal bisa mengganggu proses berduka yang sehat. Menurutnya, membiarkan almarhum tetap “tenang” lebih tepat daripada memaksanya hadir lewat mesin.
Selain itu, pengguna khawatir aktivitas digital mereka terus dipanen untuk kepentingan perusahaan selamanya. Meski juru bicara Meta menyatakan belum ada rencana implementasi, keberadaan paten sudah cukup menjadi peringatan tentang bagaimana data pribadi akan dikelola di masa depan.














