TEKNO

Nenek Tak Bersalah Dipenjara 108 Hari Gara-Gara Kesalahan AI Facial Recognition

49
×

Nenek Tak Bersalah Dipenjara 108 Hari Gara-Gara Kesalahan AI Facial Recognition

Sebarkan artikel ini
Nenek Terpaksa Mendekam 108 Hari Akibat Kesalahan AI Facial Recognition
Nenek Terpaksa Mendekam 108 Hari Akibat Kesalahan AI Facial Recognition

Media90 – Seorang nenek di Amerika Serikat harus menjalani hampir enam bulan di penjara akibat kesalahan AI Facial Recognition. Kasus ini menimpa Angela Lipps, warga Tennessee, yang dituduh terlibat penipuan bank di Fargo.

Kesalahan Fatal Sistem AI

Masalahnya sederhana namun fatal. Lipps bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di Fargo. Catatan bank menunjukkan ia berada lebih dari 1.200 mil dari lokasi kejadian saat kasus berlangsung.

Ads
close ads

Penyelidikan bermula ketika polisi menganalisis rekaman CCTV dan memasukkannya ke sistem facial recognition. Hasilnya mengarah ke Lipps. Foto dari SIM dan media sosial kemudian dibandingkan, dan penyidik menyimpulkan ia adalah pelaku berdasarkan kemiripan wajah, bentuk tubuh, dan rambut.

Baca Juga:  7 Ide Kreatif Memaksimalkan OneDrive: Lebih dari Sekadar Penyimpanan Foto dan Dokumen!

Tanpa verifikasi tambahan, penangkapan dilakukan. United States Marshals Service menangkap Lipps dengan todongan senjata saat ia sedang menjaga empat anaknya.

Perjuangan Membuktikan Ketidakbersalahan

Lipps menghabiskan 108 hari di penjara sebelum dipindahkan ke North Dakota. Di titik ini, pengacaranya mulai mengumpulkan bukti berupa catatan transaksi bank, yang menunjukkan bahwa Lipps sedang beraktivitas normal di Tennessee saat kejadian.

Pertemuan resmi dengan pihak kepolisian baru terjadi lima bulan setelah penangkapan. Bukti yang ada langsung meruntuhkan tuduhan, dan kasus resmi dibatalkan pada malam Natal. Namun dampaknya sudah telanjur besar: Lipps kehilangan rumah, mobil, bahkan anjing peliharaannya.

Bukan Kasus Pertama

Kasus ini bukan yang pertama. Laporan sebelumnya menunjukkan pola serupa di AS, di mana facial recognition digunakan tanpa verifikasi dasar seperti pengecekan alibi.

Baca Juga:  Huawei Siapkan Smartphone “Lebar” Tanpa Lipatan, Terinspirasi Pura X

Perusahaan penyedia teknologi, seperti Clearview AI, sudah menegaskan bahwa hasil pencocokan hanya bersifat indikatif, bukan bukti pasti. Bahkan American Civil Liberties Union menyebut beberapa penangkapan tetap dilakukan meski ada peringatan soal keterbatasan sistem ini.

Kasus lama, seperti yang dialami Robert Williams, sempat mendorong perubahan aturan di beberapa wilayah. Namun regulasi belum merata, dan banyak daerah masih belum memiliki standar jelas.

Lipps kini sudah kembali ke rumahnya di Tennessee, tetapi belum menerima permintaan maaf dari pihak kepolisian. Pertanyaannya tetap sama: seberapa siap sistem penegakan hukum menghadapi teknologi AI yang jelas belum sepenuhnya akurat?

Tinggalkan Balasan