TEKNO

Padamkan Api dengan Suara, Sonic Fire Tech Andalkan Gelombang Infrasonik Tanpa Air

61
×

Padamkan Api dengan Suara, Sonic Fire Tech Andalkan Gelombang Infrasonik Tanpa Air

Sebarkan artikel ini
Padamkan Api Lewat Suara, Sonic Fire Tech Manfaatkan Gelombang Infrasonik Tanpa Air
Padamkan Api Lewat Suara, Sonic Fire Tech Manfaatkan Gelombang Infrasonik Tanpa Air

Media90 – Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran hutan yang merambat ke permukiman menjadi ancaman serius. Data dari National Interagency Fire Center menunjukkan bahwa setiap tahun kebakaran hutan di Amerika Serikat melahap jutaan hektar wilayah dan menimbulkan kerugian properti yang tidak sedikit. Menariknya, kehancuran terbesar seringkali bukan disebabkan oleh api besar, melainkan bara api kecil yang sulit dikendalikan. Bara ini dapat terbawa angin dan menimbulkan titik api baru di celah atap, saluran ventilasi, atau sudut bangunan.

Fenomena tersebut mendorong para peneliti untuk mengembangkan metode pemadaman yang lebih presisi tanpa menimbulkan dampak tambahan. Dari sinilah lahir konsep Sonic Fire Tech, sebuah teknologi pemadam api yang memanfaatkan gelombang suara untuk menghentikan nyala api.

Gelombang Suara sebagai Alat Pemadam Api

Selama ini, pemadaman api identik dengan penggunaan air, busa, atau zat kimia. Namun menurut penjelasan ilmiah yang dikutip dari Scientific American, suara pun bisa menghentikan api. Proses pembakaran hanya berlangsung jika tiga elemen utama terpenuhi: sumber panas, bahan yang terbakar, dan oksigen. Gelombang suara bekerja dengan mengacaukan lapisan oksigen di sekitar api, sehingga pembakaran tidak dapat berlangsung dan api pun padam.

Baca Juga:  Korsleting Diduga Sebabkan Minibus Terbakar Saat Melaju di Jalan Sukatani Kalianda, Dua Penumpang Mengalami Luka Bakar Serius

Dari Eksperimen Mahasiswa hingga Riset Militer

Ide memadamkan api menggunakan gelombang suara pertama kali mencuri perhatian sekitar tahun 2015. Dua mahasiswa teknik dari George Mason University, Viet Tran dan Seth Robertson, memperkenalkan perangkat eksperimental bernama sound wave blaster. Perangkat ini memancarkan suara frekuensi rendah 30–60 Hz, terbukti mampu memadamkan api kecil tanpa air atau bahan kimia.

Sebelumnya, konsep ini sudah dikaji lembaga riset militer Amerika Serikat, DARPA, untuk pemadaman api di ruang tertutup seperti pesawat dan kapal selam. Penelitian ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan teknologi pemadam api berbasis suara yang lebih aman dan presisi.

Sonic Fire Tech dan Gelombang Infrasonik

Baca Juga:  Kebakaran TPA Bakung Mengancam Kesehatan Masyarakat: Walhi Mendesak Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk Memprioritaskan Pemadaman Api

Inovasi ini dikembangkan oleh perusahaan yang dipimpin Geoff Bruder, mantan insinyur NASA. Sonic Fire Tech memanfaatkan infrasound, gelombang suara berfrekuensi sangat rendah di bawah 20 Hz, yang tidak terdengar oleh manusia. Sistem ini menciptakan getaran intens pada molekul oksigen di sekitar api, sehingga nyala api kecil dapat dipadamkan dari jarak hingga 25 kaki tanpa air atau bahan kimia.

Fokus pada Bara Api Kecil

Menurut IFSJ, lebih dari 90 persen kebakaran rumah akibat kebakaran hutan disebabkan oleh bara api kecil (embers). Sonic Fire Tech dirancang khusus untuk mengatasi ancaman ini, dengan sensor yang memantau suhu dan pergerakan bara secara real-time. Sistem menciptakan “zona non-ignisi” di sekitar bangunan, mencegah oksigen mendukung pembakaran. Keunggulannya, teknologi ini tetap bisa beroperasi saat listrik padam karena dilengkapi baterai cadangan.

Baca Juga:  Xiaomi Redmi 12: Smartphone Mewah, Harga Terjangkau, RAM 8 GB Hanya 1 Jutaan!

Potensi dan Batasan Teknologi

Meski futuristik, Sonic Fire Tech bukan solusi untuk semua jenis kebakaran. Menurut Albert Simeoni dari Worcester Polytechnic Institute, gelombang suara efektif untuk api kecil, namun sulit diterapkan pada kebakaran besar yang kompleks dan dipengaruhi angin.

Meski demikian, Sonic Fire Tech menjanjikan sebagai sistem perlindungan tambahan, mencegah kebakaran sejak masih berupa bara kecil. Uji coba sedang berlangsung di California, dengan rencana pemasangan puluhan unit pertama pada 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *